Malam ini— bukan lagi malam biasa, ini adalah malam yang lebih gelap dari malam-malam sebelumnya.
Suara pintu depan tertutup dengan keras, dengan desiran angin yang seakan merobek hati,
menyisakan keheningan yang berat, menghantam dinding-dinding rumah yang lama tak pernah retak.
Tak lama setelahnya, jeritan ibuk menggema.
Tangisan itu lebih keras dari petir, lebih menakutkan dari kilat yang menghantam bumi, dan aku, Anggun, hanya bisa membeku dalam diam.
Jeritan itu seperti api yang membakar dagingku,
membuat seluruh tubuhku gemetar dan hatiku terhimpit, terperangkap dalam kehampaan yang mematikan.
Langkah kaki bapak mendekat, berat, penuh beban,
setiap langkahnya bagaikan dentuman yang menggetarkan dasar jiwaku.