Keanggunan Dipeluk Takdir

Temu Sunyi
Chapter #18

Puasan yang Membara


Bapak menangis lebih keras.

Bukan hanya karena kebahagiaan,tapi juga karena kekosongan yang tak bisa ia isi.

Ia merasa puas— karena ia telah membayar harga yang mahal untuk keadilan yang dia impikan.

Bapak yang dulu pernah kukagumi, sekarang berubah menjadi sosok yang lebih gelap dari malam itu.

Dia merasa puas, meski dalam hatinya, tak ada satu pun yang utuh.

“Ini adil, Anggun…

Ini adalah keadilan yang pantas kau dapatkan…”

“Keadilan ini datang dengan darah,

dan darah itu adalah harga yang harus kita bayar…”

Lihat selengkapnya