Tak sampai pagi yang belum menjelang,
dobrakan di pintu depan mengoyak sunyi.
Kayu tua itu jebol seperti dada kami yang mendadak sesak.
Kami tahu— kami tak perlu menebak siapa yang datang.
Mereka datang membawa senjata hukum, bukan untuk iblis yang merusak hidupku,
tapi untuk lelaki tua yang mencintaiku dengan darahnya.
Bapak tidak melawan.
Ia tidak meronta. Ia tahu... hukum bukan tempat bagi yang kehilangan segalanya selain harga diri.
"Aku hanya ingin anakku tak lagi tidur dalam ketakutan...
Tapi aku yang dibangunkan dari mimpi keadilan paling palsu,"
gumam mata bapak, sebelum ia ditarik seperti bangkai yang bau dosa.
Mereka memukulnya. Mereka menghantam wajahnya ke tanah.
Tanah yang dulu bapak bajak demi sebutir nasi. Kini tanah itu menjadi altar penyiksaan,
tempat tubuhnya dihantam seolah dosa terbesar di dunia adalah membela putrinya.
Aku dan ibuk menjerit.
Tapi jerit kami dihalang pagar manusia-manusia dingin—
mereka tidak tahu, tangisan seorang anak yang melihat bapaknya diinjak dunia bisa lebih menyakitkan dari kematian.
Senyum yang Membuat Langit Bungkam
Bapak tersenyum...