Keanggunan Dipeluk Takdir

Temu Sunyi
Chapter #20

Doa dari Anak yang Tak Lagi Bisa Menangis


Bapak,

jika surat ini sampai kepadamu,

entah lewat angin yang malas,

atau debu yang tersesat di sela jeruji,

ketahuilah—aku masih di sini.

Masih duduk di beranda yang dulu kau paku sendiri,

di rumah yang kini lebih sunyi dari pemakaman keadilan.

Bapak,

aku tidak lagi menangis.

Bukan karena sudah kuat,

tapi karena air mataku mulai muak

mengalir tanpa hasil.

Doaku sederhana, Pak:

semoga ruang tahananmu

tak sedingin ruang sidang yang pernah mengabaikan

cerita tubuhku.

Semoga jeruji yang menahanmu,

juga ikut mengurung

para wajah-wajah pejabat

yang gemar mengucap "kami prihatin"

sambil menyeruput kopi dari gelas yang tak pernah kosong.

Bapak,

kau bukan penjahat,

kau hanya terlalu miskin untuk disebut benar.

Lihat selengkapnya