Bapak,
jika surat ini sampai kepadamu,
entah lewat angin yang malas,
atau debu yang tersesat di sela jeruji,
ketahuilah—aku masih di sini.
Masih duduk di beranda yang dulu kau paku sendiri,
di rumah yang kini lebih sunyi dari pemakaman keadilan.
Bapak,
aku tidak lagi menangis.
Bukan karena sudah kuat,
tapi karena air mataku mulai muak
mengalir tanpa hasil.
Doaku sederhana, Pak:
semoga ruang tahananmu
tak sedingin ruang sidang yang pernah mengabaikan
cerita tubuhku.
Semoga jeruji yang menahanmu,
juga ikut mengurung
para wajah-wajah pejabat
yang gemar mengucap "kami prihatin"
sambil menyeruput kopi dari gelas yang tak pernah kosong.
Bapak,
kau bukan penjahat,
kau hanya terlalu miskin untuk disebut benar.