Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #2

Bertaruh Nyawa

Di sebuah keluarga besar yang menjunjung tinggi tradisi di Utara, Anggari tumbuh dengan satu aturan mutlak, patuh dan diam. Tembok-tembok ukiran batu padas yang mengelilingi Puri keluarga besarnya bukan sekadar pembatas fisik. Melainkan benteng tak kasatmata yang memenjarakan setiap hembusan napas kaum perempuan.



Sejak kecil, Anggari diajarkan bahwa seorang perempuan hanya boleh didengar ketika diminta, dan hanya boleh melangkah ketika diizinkan. Langkah kakinya tak boleh menimbulkan suara, tatapan matanya harus menunduk menatap lantai kayu, dan seluruh cita-citanya harus dikubur dalam-dalam di bawah bayang-bayang para tetua laki-laki.






Pagi itu, udara Utara terasa kental dan padat oleh bau dupa yang membumbung tinggi dari halaman tengah. Di balik aroma harum bunga cempaka dan kemenyan, ada aura penekanan yang membuat dada Anggari selalu terasa sesak. Kakeknya, sosok paling dituakan dan dihormati di Puri itu, duduk di atas bale ukir utama. Setiap titahnya adalah hukum. Tidak ada yang berani membantah, bahkan hanya untuk sekadar menatap matanya.


Anggari berjalan pelan sembari membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat untuk para tetua pria yang sedang berkumpul. Tangannya gemetar halus. Ia tahu betul, sedikit saja kesilapan terjadi, misalnya menumpahkan setetes air teh akan dihukuman fisik dan verbal akan langsung dijatuhkan tanpa ampun.



"Rapat hari ini hanya untuk kaum pria," suara berat dan dingin milik kakeknya bergema, memotong langkah Anggari. Kakek bahkan tidak menoleh ke arahnya. "Letakkan di meja samping, lalu pergi. Perempuan tidak punya urusan dengan keputusan masa depan klan ini."


Anggari menunduk dalam-dalam. "Baik, Kakek," bisiknya lirih.


Ia memundurkan langkahnya perlahan. Di sudut ruangan, ia melihat ibunya dan para wanita puri lainnya bekerja tanpa henti di dapur luar, menyiapkan persembahan dan makanan tanpa hak untuk mengutarakan pendapat. Kaum perempuan di sini tak ubahnya bayangan, ada untuk melayani, namun dianggap tidak pantas dalam pengambilan keputusan.


Anggari melangkah ke belakang Puri, menuju area taman yang sepi di dekat kolam batu. Di sana, seorang remaja perempuan sedang sibuk membersihkan dedaunan kering. Dialah Ketut, sahabat terdekat Anggari yang usianya dua tahun lebih muda darinya.




Ketut adalah anak dari salah satu pelayan senior Puri. Berbeda dengan para perempuan dewasa di keluarga Anggari yang takut dan penurut, Ketut memiliki penilaian dan pemahaman yang tinggi. Bagi Anggari, Ketut adalah satu-satunya ruang bernapas di tengah sesaknya aturan Puri.


"Kak Anggari," panggil Ketut seraya menyunggingkan senyum tipis. Ia mengusap keringat di dahinya. "Mereka membuatmu tersudut lagi hari ini?"



Anggari menghela napas panjang, mendudukkan dirinya di tepi selasar kayu. "Seperti biasa, Ketut. Bagi mereka, kita yang perempuan ini tak lebih dari sekadar perhiasan dinding yang tidak boleh bersuara."


LKetut menghentikan sapunya, lalu menatap Anggari dengan raut wajah cemas. "Aku merasakan ada yang aneh dengan suasana Puri beberapa hari terakhir ini, Kak. Terutama pada Kakek dan para paman. Rapat-rapat yang mereka adakan di malam hari... itu bukan rapat keluarga biasa."


Anggari menatap sahabatnya. "Maksudmu?"


Ketut mendekat dan berbisik lirih, matanya melirik ke sekeliling seolah takut tembok-tembok padas itu memiliki telinga. "Setiap kali Kakek marah atau membuat keputusan mendadak tentang aturan Puri, aura di sekitarnya terasa sangat dingin dan mencekam."


Ketut terbayang sorot mata kakek itu, tidak biasa. "Matanya terkadang berkilat aneh di dalam gelap. Kemarin malam, aku tak sengaja melihat Paman dan Kakek berkumpul."


Ketut terbayang akan sosok yang bukan manusia itu. "Mereka tidak sedang berdoa kepada leluhur, Kak. Ada asap hitam yang keluar dari telapak tangan Kakek, dan bayangannya... bayangannya bukan berbentuk manusia, melainkan sosok binatang buas berbulu putih."


Jantung Anggari berdegup lebih kencang. Ia tahu ketakutan Ketut bukan sekadar imajinasi. Anggari sendiri kerap merasakan tekanan gaib yang menindas setiap kali berdekatan dengan Kakek. Ada energi asing yang membuat mental kaum wanita di puri itu roboh secara perlahan, membuat mereka pasrah dan tertekan tanpa mampu melawan.


"Ketut, kau harus berhati-hati," pesan Anggari penuh kecemasan. "Jangan pernah mengintai mereka lagi. Jika Kakek tahu kau melihat hal itu, keselamatanmu bisa terancam."

Lihat selengkapnya