Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #3

Pasangan Sayap

Anggari tergeletak tak berdaya dalam genangan darahnya sendiri. Di detik-detik saat kesadarannya mulai tenggelam ke dalam kegelapan abadi, rasa benci, kemarahan, dan ketidakadilan bergolak hebat di dalam sanubaris jiwanya.


"Mengapa? Mengapa dunia harus sekejam ini pada kami? Mengapa tradisi yang mengagungkan pria harus dibayar dengan air mata dan darah perempuan? Kenapa manusia-manusia jahat ini dibiarkan berkuasa?"



Di ambang kematian, dalam kegelapan malam yang dingin, roh Anggari perlahan-lahan terlepas dari raga fisiknya. Kesadarannya tidak melayang ke alam baka, melainkan tertahan dalam ruang hampa di antara kehidupan dan kematian.


Di ruang hampa tersebut, waktu seolah berhenti bergerak. Roh Anggari berdiri melayang di atas tubuh fisiknya yang sudah tak bernyawa dan memucat di lantai puri.


Dari dimensi gaib ini, matanya dibukakan pada kenyataan yang sangat mengerikan. Ia melihat benang-benang energi hitam pekat yang menjulur dari langit malam, terhubung langsung ke kepala Kakek, paman-pamannya, dan seluruh pria bergaris keturunan klan. Di ujung benang-benang hitam itu, melayang sosok entitas raksasa berkepala serigala berbulu putih dengan mata menyala penuh kebencian.


"Manusia Serigala Putih."


Itulah sumber utama malapetaka ini. Sumber dari segala penindasan, doktrin kesetiaan buta, dan penghancuran harkat wanita yang telah berlangsung selama seribu tahun. Manusia Serigala Putih memberi mereka kekuasaan dan dominasi atas kaum wanita, dan sebagai imbalannya, entitas itu memakan energi keputusasaan, ketakutan, dan rasa sakit dari para korban patriarki.


"Jadi... ini akar masalahnya..." bisik roh Anggari dengan kepedihan mendalam. "Bukan hanya sekadar tradisi... tapi ada kegelapan purba yang mengendalikan mereka."

Di dalam kesendirian rohnya, Anggari teringat kejadian beberapa hari lalu. Sebelum malam pembantaian ini terjadi, ia sempat berjalan menuju pusat kota Utara, mendatangi ikon megah tempat kelahirannya. Tugu Singa Bersayap Garuda. Di sana, di bawah naungan patung bersayap yang gagah itu, Anggari meletakkan berdoa paling tulus dari relung hatinya yang hancur.


“Ya Tuhan... jika memang ada keadilan di dunia ini, berikanlah aku jalan. Aku berjanji, aku yang akan memutus rantai patriarki yang merusak keluargaku dan menindas kaumku!”


Saat mengingat doa dan janjinya itu, benak Anggari dipenuhi bayangan wajah Ketut yang tersenyum, wajah ibunya yang menangis, dan wajah wanita-wanita lain yang tertindas.


Tiba-tiba, langit gaib di atas Utara membelah. Cahaya emas kemerahan yang begitu silau dan hangat memancar turun dari angkasa. Cahaya itu memancar langsung dari manifestasi gaib Garuda. Simbol keberanian, perlindungan, dan kekuatan tertinggi Garuda.


Energi emas kemerahan itu meluncur deras, menerobos kegelapan, dan menembus langsung ke dalam roh serta raga Anggari yang sekarat.


BUM!


Gelombang energi dahsyat meledak dari tubuh Anggari yang tergeletak di lantai puri. Hempasan angin kencang tercipta, menyapu kabut hitam dan membuyarkan energi kegelapan di dalam ruangan tersebut. Kakek dan paman-pamannya terpental mundur beberapa langkah, menutupi mata mereka yang kesakitan akibat terpaan cahaya murni.


Luka-luka mematikan di dada dan perut Anggari tertutup secara ajaib dalam hitungan detik. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali, digantikan oleh aura keemasan yang berkilauan.


Anggari membuka matanya. Matanya kini tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kilatan cahaya emas dan merah membara.


Ia berdiri perlahan. Dari balik punggungnya, retakan cahaya keemasan muncul menembus pakaiannya. Dengan kepakan dahsyat, sepasang Sayap Garuda yang megah dan lebar terkembang sempurna. Bulu-bulu sayapnya bersinar dengan gradasi warna emas keemasan dengan pangakal sayap berbulu putih dan ujung sayap merah membara bagai kobaran api suci.

Lihat selengkapnya