Sorot mata Anggari masih diliputi keraguan, hati bergumam "Benarkah yang dia katakannya, atau sebuah manipulasi licik kaum pria?"
Bayu tersenyum, "Terserah jika kau tidak percaya, karena mungkin selama ini kaum pria selalu menindasmu, Anggari."
Ucapan itu dan tahu namanya tanpa disebutkan mengejutkan.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Sangat mudah, kau itu buronan yang paling dicari, aku bisa nrlacdlmu lewat angin "
Pernyataan itu membuatnya kagum sekaligus takut, "Maumu apa!"
"Sama sepertimu Anggari, mencari sumber ketidak adilan ini, agar tidak ada lagi korban."
Ucapan itu sangat meyakinkan. "Apa kau bisa dipercaya?"
"Tentu"
Tidak ada kata, hanya tatapan. Saycm mereka yang dikuncupkan dib belakang punggung dan menghilang, tanpa persetujuan berjuang bersama.
* * *
Dingin malam Utara belum sepenuhnya menguap ketika Anggari dan Bayu melintasi batas wilayah Utara utara. Menembus kabut tebal yang menyelimuti perbatasan Lembah Mayat Kering.
Sebuah julukan tidak resmi yang diberikan penduduk sekitar untuk wilayah Lembah Penundaan. Di tempat inilah, Puri bangsawan dan klan penganut Esensi Patriarki mengumpulkan calon-calon pelayan wanita dari berbagai desa terpencil sebelum mereka disebarkan ke rumah-rumah penguasa.
Di mata orang luar, tempat itu hanyalah sebuah asrama atau akademi tata krama tradisional. Namun, bagi setiap wanita yang pernah menginjakkan kaki di tanah berdebu itu.
Lembah Penundaan tidak lebih dari kawah perbudakan yang dilegalkan atas nama tradisi dan kepatuhan. Melainkan penjara yang setara dengan kehidupan di Neraka.
Anggari berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil tajam. Di sampingnya, Bayu melangkah dengan tenang.
Jemari pemuda itu sesekali menyentuh Bros Sayap Rajawali di balik dadanya. Merasakan getaran halus dari elemen Angin yang memberi tahu mereka bahwa di sekitar lembah ini dipenuhi oleh hawa penindasan yang teramat pekat.
"Tekanan di tempat ini berbeda dengan Purimu, Anggari," bisik Bayu tanpa menoleh. Matanya yang tajam mengamati benteng batu hitam yang berdiri kokoh di balik pepohonan bambu. "Di Purimu, ketakutan diciptakan oleh ancaman mendadak."
Anggari menoleh dengan menyipitkan mata.
Bayu lanjut menjelaskan. "Di sini, ketakutan adalah tekanan harian untuk mereka yang di dalam sana."
Anggari menatap ke arah yang di tuju Bayu.
"Mereka tidak hanya mematahkan tubuh para wanita itu, tetapi juga membusukkan jiwa mereka hingga tak ada lagi keinginan untuk melawan."
Anggari mengepalkan tangannya. Cahaya emas-kemerahan di dalam dirinya berdesir hangat, bereaksi terhadap penderitaan yang terpancar dari arah kompleks benteng. "Tempat ini harus dihancurkan, Bayu."
Kepalan tangan melemah. "Penindasan ini harus benar-benar berakhir!"