Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #4

Sangkar Neraka

Dingin malam Utara belum sepenuhnya menguap ketika Anggari dan Bayu melintasi batas wilayah Utara utara, menembus kabut tebal yang menyelimuti perbatasan Lembah Mayat Kering. Sebuah julukan tidak resmi yang diberikan penduduk sekitar untuk wilayah Lembah Penundaan. Di tempat inilah, Puri bangsawan dan klan penganut Esensi Patriarki mengumpulkan calon-calon pelayan wanita dari berbagai desa terpencil sebelum mereka disebarkan ke rumah-rumah penguasa.



Di mata orang luar, tempat itu hanyalah sebuah asrama atau akademi tata krama tradisional. Namun, bagi setiap wanita yang pernah menginjakkan kaki di tanah berdebu tersebut, Lembah Penundaan tidak lebih dari kawah perbudakan yang dilegalkan atas nama tradisi dan kepatuhan.


Anggari berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil tajam. Sayap Garudanya yang megah kini disembunyikan di balik jubah kain kasar berwarna gelap, melekat erat di punggungnya bagai simpanan rahasia yang siap meledak. Di sampingnya, Bayu melangkah dengan tenang.


Jemari pemuda itu sesekali menyentuh Bros Sayap Rajawali di balik dadanya. Merasakan getaran halus dari elemen Angin yang memberi tahu mereka bahwa atmosfer di sekitar lembah ini dipenuhi oleh hawa penindasan yang teramat pekat.



"Tekanan di tempat ini berbeda dengan purimu, Anggari," bisik Bayu tanpa menoleh. Matanya yang tajam mengamati benteng batu hitam yang berdiri kokoh di balik pepohonan bambu. "Di purimu, ketakutan diciptakan oleh ancaman mendadak."


Anggari menoleh dengan menyipitkan mata.

Bayu lanjut menjelaskan. "Di sini, ketakutan adalah kurikulum harian. Mereka tidak hanya mematahkan tubuh para wanita itu, tetapi juga membusukkan jiwa mereka hingga tak ada lagi keinginan untuk melawan."


Anggari mengepalkan tangannya di balik jubah. Cahaya emas-kemerahan di dalam dirinya berdesir hangat, bereaksi terhadap penderitaan yang terpancar dari arah kompleks benteng. "Itulah mengapa tempat ini harus menjadi sasaran pertama kita, Bayu."

Kepalan tangan melemah. "Sebelum kita menantang Manusia Serigala Putih di puncak gunung es, kita harus memutus rantai pasokan budak-budak bernyawa ini. Aku tidak akan membiarkan ada Ketut-Ketut lain yang lahir dari tempat ini."


Mereka berhenti di balik rerimbunan pohon beringin tua yang menghadap langsung ke gerbang besi Lembah Penundaan. Di sana, puluhan gadis muda berpakaian kain tipis berwarna kelabu sedang berbaris rapi di halaman berdebu.


Wajah-wajah mereka pucat, bibir mereka pecah-pecah, dan mata mereka mengarah lurus ke tanah. Posisi tubuh wajib yang ditanamkan secara paksa sejak hari pertama mereka tiba.


Di depan barisan itu, berdiri tiga orang algojo pria bertubuh kekar. Masing-masing memegang cambuk kulit berujung simpul besi. Setiap kali ada gadis yang tubuhnya bergoyang karena kelelahan atau mengangkat pandangannya sedikit saja. Cambuk itu menyambar tanpa ampun, diiringi suara jeritan tertahan.



"Jangan menangis!" bentak salah satu algojo, seorang pria berkumis melintang dengan aura hitam pekat melingkupi dadanya, tanda jelas bahwa ia telah terkontaminasi oleh Esensi Patriarki. "Air mata kalian adalah sampah! Kalian di sini bukan untuk menjadi manusia, kalian di sini untuk dibentuk menjadi benda!"

Anggari menahan rasa gejolak emosi yang membara, itu penindasan paling kejam yang pernah ia lihat. "Benda tidak memiliki perasaan, benda tidak memiliki suara, dan benda hanya hidup untuk melayani tuan mereka!"


Lihat selengkapnya