Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #5

Sebuah Rencana

Malam pun merayap makin dalam di Lembah Penundaan. Angin dingin meniupkan debu-debu kering di halaman benteng. Ketika seluruh calon pelayan dikunci di dalam sel-sel sempit bawah tanah, Ranti duduk menyendiri di sudut ruangan penyimpanan alat-alat cuci. Tangannya yang terluka diikat dengan kain lusuh. Ia menatap bulan separuh melalui teralis besi kecil di dinding atas.


"Sampai kapan?" tanyanya pada kegelapan malam. "Sampai kapan kami harus hidup seperti ini? Jika Tuhan memang ada, mengapa Dia membiarkan tempat ini berdiri?"


Tiba-tiba, api lilin kecil di sudut ruangan bergoyang hebat. Hawa dingin yang menyengat mendadak berganti menjadi kehangatan yang asing. Bau dupa harum dan aroma bunga cempaka melingkupi ruangan sempit yang lembap itu.


Ranti tersentak. Ia bersiap menjerit, mengira ada penjaga malam yang masuk untuk menyiksanya lagi. Namun, ketika ia menoleh, matanya terbelalak lebar.


Di depan pintu sel yang terkunci besi, berdiri seorang gadis muda berpakaian jubah gelap. Di belakang punggung gadis itu, samar-samar membayang sepasang sayap raksasa bersinar emas-kemerahan yang memancarkan keagungan luar biasa.


Di samping gadis itu, seorang pemuda tampan berdiri dengan pendar cahaya perak membungkus tubuhnya.


"Si... siapa kalian?" bisik Ranti, suaranya bergetar hebat antara takut dan takjub. "Bagaimana kalian bisa masuk ke sini? Jika penjaga melihat—"


"Penjaga malam sudah tertidur di lorong luar," potong Bayu lembut. Pemuda itu menggerakkan jarinya, dan angin halus bertiup merusak kunci besi sel tersebut tanpa menimbulkan suara.


Anggari melangkah masuk ke dalam sel sempit itu. Ia berlutut di hadapan Ranti, meraih tangan wanita yang terluka itu dengan lembut. Saat jemari Anggari menyentuh luka Ranti, elemen Air penyembuh mengalir halus.


Rasa sakit yang menyiksa di tangan dan bahu Ranti hilang seketika. Nenggantikan bekas luka bakar dan memar dengan kulit yang mulus kembali.


Ranti menatap tangannya yang sembuh secara fantastis dengan napas tertahan. "I-ini... sihir apa ini?"

Lihat selengkapnya