Keesokan harinya, matahari terbit di atas Lembah Penundaan dengan warna merah keemasan yang tidak biasa. Udara pagi terasa sangat berat, seolah alam sendiri tahu bahwa sebuah pertumpahan darah dan perubahan besar akan segera terjadi.
Ki Samudra berdiri di atas panggung kayu utama di halaman benteng. Di sampingnya, sepuluh pengawas pria memegang cambuk dan tongkat tembaga, siap menjalankan perintah. Di depan panggung, lima puluh calon pelayan wanita berbaris dengan tubuh gemetar.
Hari ini adalah hari penyeleksian akhir, hari di mana mereka yang dianggap tidak memenuhi standar kepatuhan akan dibuang ke tambang batu atau dibunuh karena dianggap barang cacat.
"Dengar baik-baik, kalian semua!" suara Ki Samudra bergema keras, dipenuhi keangkuhan. "Hari ini menentukan apakah kalian layak menjadi pelayan di puri-puri terhormat atau menjadi bangkai di dasar lembah ini! Ingat, aturan di sini mutlak: patuh, tunduk, dan jangan pernah berpikiran untuk—"
"Cukup!"
Sebuah suara wanita yang lantang dan tegas memotong pidato Ki Samudra.
Seluruh penjaga dan calon pelayan terperanjat. Ki Samudra menoleh dengan mata membelalak heran. Suara itu bukan datang dari luar benteng, melainkan dari barisan paling depan para pelayan.
Ranti melangkah keluar dari barisan. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, kepala wanita berusia tiga puluh lima tahun itu terangkat tinggi. Matanya menatap lurus ke arah Ki Samudra tanpa ada sedikit pun rasa takut.
"Ranti?!" Ki Samudra mengerutkan keningnya, wajahnya merah padam oleh amarah. "Berani sekali kau memotong bicaraku! Kau sudah bosan hidup?!"
Ki Samudra mengangkat tangan kanannya, mencoba mengaktifkan energi gaib pada jimat di leher Ranti untuk mencekiknya. "Mati kau—"
Namun, sebelum energi hitam itu sempat menyalur, sebuah pusaran angin perak melesat turun dari langit pagi.