Udara di dalam Gua Gunung Es itu bukan sekadar dingin, itu adalah jenis dingin yang membekukan darah hingga berhenti mengalir. Kristal-kristal es purba melapisi setiap inci dinding batu, memantulkan pendar biru pucat yang tak tersentuh cahaya matahari.
Di pusat kegelapan gua, sesosok tubuh jangkung berbulu putih perak berdiri tegak. Wujud Manusia Serigala Putih itu tampak mengerikan dengan cakar setajam sembilu dan mata emas yang memancarkan dominasi mutlak.
Tiba-tiba, dengung energi spiritual yang bergema di dalam ruangan itu terhenti seketika.
CRACK!
Rasa hampa yang tajam menghantam kesadaran Manusia Serigala Putih. Benang spiritual tidak kasat mata, jalur pasokan esensi yang terhubung langsung ke tubuh Ki Samudra putus dengan cara yang sangat tidak wajar. Tebasan itu terlalu bersih, seolah-olah dipotong menggunakan kekuatan hukum semesta.
"Benang Penghubung Ki Samudra terputus...?" menderam rendah Manusia Serigala Putih.
Dinding-dinding es di sekitarnya bergetar menanggapi gejolak murka yang tertahan dalam dadanya. "Bagaimana bisa benang penghubungku diputus begitu saja?!"
Seorang Prajurit Bayangan berwujud serigala hitam melompat dari kegelapan, merayap dan berlutut gemetar di lantai gua yang licin.
"A-ampun, Yang Mulia!" ucap Prajurit Bayangan dengan suara tertahan. "Jalur pasokan esensi dari daratan Utara mendadak padam total. Seseorang telah memotong benang Penghubung Ki Samudra sebelum ia sempat menyalurkan Energi Patriarki ke tempat ini!"
Manusia Serigala Putih melangkah maju. Setiap pijakannya meninggalkan jejak es tebal yang merekah di atas batu. Ia menghembuskan napas beku, menatap tajam ke arah bayangan prajuritnya.
"Siapa?" tanyanya padat. "Ki Samudra menguasai pilar angin dan air hitam. Tidak ada manusia biasa di wilayah itu yang sanggup menembus pertahanannya, apalagi memutus koneksi spiritualku tanpa memicu ledakan balik!"
Prajurit Bayangan menundukkan kepala sejajar dengan lantai es. "Laporan terakhir dari sisa gelombang spiritual menunjukkan adanya gesekan dua elemen yang bertolak belakang, panas penempaan dan dingin pemurnian yang bergerak bersamaan."
Manusia Serigala Putih tertegun. "Tebasannya sangat anggun, namun langsung merusak struktur energi Ki Samudra hingga ke tingkat akar. Sang Pemutus Esensi telah bergerak, Yang Mulia."