Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #8

Efek Patriarki

Cahaya matahari pagi menyiram jalur Pesisir Hutan dengan kehangatan yang kontras. Gulungan ombak menghantam karang di kejauhan, sementara angin laut membawa aroma garam yang segar. Namun, keindahan alam itu mendadak menguap, tergantikan oleh hawa muak yang menyesakkan dada.


Di jalan setapak berpasir yang membelah rimbunnya pohon ketapang laut. Dua anak perempuan berusia belasan tahun berjalan membungkuk. Tubuh mereka yang mungil gemetar menahan beban karung-karung beras dan bahan makanan raksasa di punggung masing-masing. Peluh mengucur deras membasahi pakaian mereka yang lusuh.



Seorang pemuda, kakak laki-laki mereka, jalan santai di depan tanpa membawa beban apa pun. Ia menggenggam ranting kayu, sesekali memukulkannya ke semak-semak dengan wajah penuh dominasi.


Salah satu adik perempuannya tersandung akar pohon. Karung berat di punggungnya hampir merosot.



"Kak... tolong, berhenti sebentar," panggil sang adik dengan suara parau dan napas terengah-engah. "Karungnya sangat berat... Boleh kami istirahat dan minum air sebentar?"



Pemuda itu memutar tubuhnya. Bukannya membantu, ia justru menendang kerikil ke arah wajah adiknya hingga sang adik terperanjat mundur.



"Jalan terus! Jangan banyak alasan!" bentak pemuda itu, suaminya menggelegar menembus keheningan pesisir. "Kalian itu anak perempuan! Tugas kalian memikul beban dan melayani, bukan bersantai!"


Mencambuk karung yang dipikul. "Kalau bahan makanan ini terlambat sampai di rumah, kalian berdua tidak usah makan sekalian!"



Di balik rimbunnya semak pesisir, mata Anggari berkilat penuh murka. Jemarinya mengepal erat. Saat ia hendak melangkah keluar untuk menumbangkan kesombongan pemuda itu, sebuah tangan kokoh mencengkeram bahunya dari belakang.


"Tahan, Anggari. Jangan gegabah!" bisik Bayu cepat namun tegas, menarik Anggari kembali ke dalam bayangan pohon.



"Kau lihat sendiri apa yang dia lakukan pada kedua adiknya?!" desis Anggari dengan napas memburu.


Lihat selengkapnya