Di belakangnya, Bayu menyusul dengan langkah mantap, memancarkan ketenangan bumi yang stabil.
Kedua adik perempuan itu semakin menyusut ke tanah. Kehadiran Anggari dan Bayu begitu berwibawa hingga membuat mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan sosok Dewata yang turun langsung dari langit.
"J-jangan sakiti kami..." bisik sang adik yang lebih tua, suaranya sangat pelan, penuh rasa takut. Menyembunyikan adiknya yang lebih kecil di belakang tubuhnya yang kurus.
Anggari berlutut di hadapan kedua gadis itu. Tatapan matanya yang semula tajam dan penuh amarah saat memperhatikan tindakan pemuda tadi. Kini berubah menjadi sangat lembut dan hangat. Senyuman tipis terukir di bibirnya.
Dari tas rotan yang ia pakai, Anggari mengeluarkan dua wadah air jernih dan beberapa buah-buahan segar yang dialiri energi pemurnian. Ia mengulurkannya secara perlahan.
"Minumlah. Makanlah," ucap Anggari dengan suara yang begitu merdu dan menenangkan. "Kalian tidak perlu takut. Beban yang kalian punggung seperti itu tidak akan kalian rasakan lagi."
Kedua gadis itu saling bertatap ragu. Ketakutan masih membendung di dada mereka, namun rasa haus yang mencekik dan perut yang lapar selama menuruti perintah sang kakak membuat pertahanan mereka runtuh. Dengan tangan gemetar, sang adik mengambil wadah air itu.
Begitu tegukan air pertama membasahi tenggorokan mereka, rasa lelah dan dahaga yang menyiksa seketika menguap. Air yang telah diselaraskan dengan energi semesta itu mengalirkan kesegaran murni ke seluruh sel tubuh mereka.
"Terima kasih... Terima kasih, Gusti..." tangis sang adik pecah, terharu atas kebaikan asing yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Anggari mengusap kepala kedua gadis itu dengan penuh kasih. "Kalian adalah jiwa yang berharga di atas tanah ini. Jangan pernah biarkan siapapun, bahkan Kakak kalian sendiri jangan membuat diri kalian merasa rendah atau tidak bermakna."