Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #10

Peyakinan

Kepulan debu dan pusaran angin pantai perlahan meluruh, menyisakan keheningan baru yang merayap dingin ke permukaan kulit. Udara beraroma garam dari pesisir berganti seketika menjadi bau humus basah dan embun pegunungan yang menusuk hidung.


Anggari dan Bayu kini berdiri di sebuah celah perbukitan tua. Di sekeliling mereka, pepohonan rindang menjulang tinggi dengan dahan-dahan lebat yang melengkung. Menutupi sebagian besar langit sore dan membiarkan berkas sinar matahari menembus secara acak seperti garis-garis emas di atas tanah basah.


Anggari menghela napas panjang. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya sejak melihat ketidak adilan di pesisir tadi terasa sedikit terangkat. Ada perasaan lega yang merembes pelan ke dalam jiwanya saat mengingat tatapan mata kedua gadis muda itu. Tatapan yang tak lagi dipenuhi keputusasaan, melainkan seberkas harapan baru untuk memperjuangkan hidup mereka sendiri.


Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.


Pandangan Anggari perlahan bergulir menatap punggung Bayu yang berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu tampak tenang, jemarinya masih menyisa sedikit debu mineral tanah yang bersinar redup sebelum akhirnya sirnah tersapu angin malam.

Mereka menguncupkan sayap dan lenyap dibalik punggung.


Anggari menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Di telapak tangannya, aura elemen Api penerang dan Air pemurni berputar perlahan. Dua kekuatan bertolak belakang yang selama ini ia banggakan sebagai senjata pendobrak. Namun, bayangan yang terjadi tadi mendadak berputar kembali di ingatan Anggari, membawa desakan rasa bersalah yang menusuk.



Saat menghadapi sang kakak laki-laki yang kejam itu, Anggari diingatkan betapa cepat amarahnya membakar. Ia membalas kekejaman dengan ancaman fisik yang mengintimidasi. Menghempaskan kobaran api dan meluncurkan hantaman air tawar yang nyaris menghancurkan. Cara bertarungnya agresif, kasar, dan dipenuhi oleh rasa benci atas kekejaman Patriarki yang membatu.



"Apakah aku benar-benar membebaskan mereka," batin Anggari. Dengan bibir gemetar, "Ataukah aku hanya menanamkan ketakutan baru?"


Sebaliknya, apa yang dilakukan Bayu di akhir kejadian itu terasa begitu anggun dan berwibawa. Bayu tidak hanya menopang Anggari ketika emosinya nyaris meluap, tetapi juga memberikan solusi yang jauh lebih berguna untuk kelangsungan hidup.


Bayu menyentuh bumi, mengalirkan daya spiritualnya untuk membangkitkan mineral emas dan berlian murni dari kedalaman tanah. Memberikan kedua gadis itu landasan ekonomi yang nyata untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpa perlu bergantung pada penindas mereka lagi.



Rasa kerdil yang menghimpit mendadak menguasai benak Anggari. Ia merasa caranya bertindak begitu dangkal dan kejam, sementara kemampuan Bayu jauh lebih berguna dan berdampak nyata bagi kedamaian jiwa korban.


Anggari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia melangkah mundur satu tapak, menyilangkan kedua tangan di dada sembari memalingkan wajahnya ke arah dedaunan kering.


Lihat selengkapnya