Air mata yang ditahan Anggari akhirnya menetes pelan, menyapu pipinya sebelum jatuh menetes ke atas tanah kering. Namun kali ini, air mata itu bukan lagi lahir dari rasa rendah diri atau keputusasaan. Melainkan dari kedalaman kesadaran spiritual yang menyusup ke jiwanya.
Kata-kata Bayu meretas keraguan yang sempat menyumbat aliran energinya. Anggari menyadari bahwa perjalanan mereka dari tahap Sthula menuju Sukshma bukan hanya tentang meningkatkan kekuatan fisik.
Yang memahami kekuatan dasar dari setiap elemen yang bersemayam di dalam diri mereka. Api tak pernah jahat karena ia membumihanguskan, sebagaimana Air tak pernah lemah karena ia mengalir menuruni lereng.
"Fungsi kita berbeda, Anggari," tambah Bayu sembari tersenyum tipis. "Dan justru karena perbedaan itulah, kita sanggup melintasi ribuan mil ini kedepannya bersama-sama."
Anggari menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin hutan memenuhi paru-parunya. Rasa hangat perlahan menjalar kembali di dadanya. Ia menyapu sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Bayu dengan tatapan matanya yang kembali tajam dan penuh keyakinan.
"Terima kasih, Bayu," ujar Anggari mantap. "Aku mengerti sekarang."
Ia menatap lurus ke arah jalur setapak yang membentang menembus kegelapan hutan di hadapan mereka. Jalur yang menuju lebih jauh ke pedalaman, mendekatkan mereka pada titik akhir di mana pertempuran sesungguhnya telah menanti.
Mereka berjalan kaki, keduanya terlihat seperti sepasang pengembara biasa yang melintasi jalan setapak berdebu. Langkah kaki mereka menginjak dedaunan kering yang gersang. Membunyikan gemertak memecah keheningan hutan yang semakin menipis.
Namun, kedamaian itu perlahan memudar ketika pepohonan rapat mulai berganti menjadi pepohonan meranggas. Batang-batang kayu berdiri telanjang tanpa daun, berwarna kelabu mati seperti tulang-belulang yang tertancap di atas tanah.
Udara hangat pesisir yang tadi mereka tinggalkan kini berubah menjadi hawa panas yang kering dan mencekik, membawa debu halus yang menerpa wajah. Tempat itu memang berada di pegunungan namun lebih terlihat seperti tanah tandus tanpa harapan.
Di batas luar hutan rapat itu, sebuah pemukiman membentang di lembah dangkal. Dari kejauhan, desa tersebut tampak seperti peninggalan masa lalu yang terlupakan. Rumah-rumah beratap rumbia yang sudah lapuk berdiri miring, dinding-dinding bambunya retak dan dimakan rayap.
Namun yang paling menampar kesadaran Anggari dan Bayu bukanlah bangunan yang rusak, melainkan sunyinya suasana di sana. Tak ada derak roda pedati, tak ada suara tawa anak-anak, bahkan tak terdengar lenguhan hewan ternak.
Saat langkah mereka memasuki gerbang desa yang rapuh, pemandangan menyedihkan terpampang tanpa ampun di hadapan mata.
Kebanyakan penghuni desa itu adalah wanita dan anak-anak balita. Wajah-wajah mereka kusam, terbalut lapisan debu tanah lempung yang mengering. Bibir-bibir mereka pecah-pecah hingga mengeluarkan garis darah tipis yang membeku.
Di bawah naungan teras rumah yang lapuk, wanita-wanita tua dan muda berbaring lemas, memeluk anak-anak mereka yang tubuhnya kurus kering. Tulang-tulang rusuk balita itu mencuat jelas di balik pakaian lusuh yang kebesaran. Mata mereka cekung dan sayu, memandang kosong ke arah jalanan tanpa tenaga untuk sekadar menangis.
Kekeringan hebat telah mencengkeram wilayah ini begitu lama. Tanah yang mereka pijaki di tengah pemukiman retak-retak hebat. Membentuk pola labirin kering dengan celah-celah selebar telapak tangan. Sumur-sumur tua di sudut desa hanya menyisakan dasar lumpur hitam yang membatu dan mengeluarkan bau pengap.