Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #12

Kebangkitan Rasa

Para wanita di sekitar mereka membelalakkan mata. Beberapa dari mereka menutup mulut dengan tangan. Tidak percaya melihat keajaiban yang terjadi di depan mata mereka. Keputusasaan di wajah-wajah kusam itu perlahan berganti menjadi rasa takjub yang tak terhindarkan.



"Anggari, sekarang!" seru Bayu, peluh mulai membasahi dahinya saat ia menahan kestabilan struktur kolam batu tersebut.



Anggari melangkah maju. Ia memejamkan mata, memanggil esensi Air pemurni yang bersemayam dalam jiwa Garudanya. Trauma masa lalu tentang kematian dan ketidakberdayaan tidak lagi menjadi beban yang menghimpit.


Melainkan duka yang bertransformasi menjadi kasih sayang murni. Air di dalam dirinya bukan lagi sekadar elemen untuk memukul mundur musuh. Air mata bumi yang siap membasuh dahaga mereka yang menderita.



Dari kedua telapak tangan Anggari yang terangkat ke langit, pendar cahaya biru jernih terpancar menyilaukan. Hawa dingin yang menyegarkan merebak ke seluruh penjuru desa, mengusir hawa panas kemarau yang mencekik.


SWRRRRR!


Pancaran air murni bertekanan lembut meluncur dari udara kosong di atas telapak tangan Anggari, membumbung tinggi sebelum memancur deras jatuh tepat ke dalam kolam batu yang diciptakan Bayu. Air itu begitu jernih, berkilau di bawah sinar matahari sore, memancarkan aura pemurni yang menyebarkan aroma kesegaran alamiah.



Dalam hitungan menit, kolam batu itu terisi penuh oleh air bersih yang melimpah. Ruap uap air yang dingin bertiup perlahan disapu oleh elemen Angin milik Bayu, membawa butiran embun menyegarkan ke wajah anak-anak dan wanita yang berbaring di teras.



"Air... AIR!" jerit seorang wanita muda dengan suara bergetar tak percaya.



"Air nyata! Itu air!"


Tangisan pecah di seluruh penjuru desa, namun kali ini bukan tangisan duka, melainkan derai air mata kebahagiaan yang meluap. Anak-anak yang tadinya terbaring lemas perlahan mencoba merangkak dan berdiri, didorong oleh dorongan instingtif melihat kilauan air jernih di tengah desa mereka.



Anggari berjalan mendekati kolam tersebut. Ia mengambil sebuah wadah tempurung kelapa tua yang tergeletak di tanah, menyeduk air jernih yang memancarkan aura pemurni itu, lalu berjalan menghampiri ibu muda yang bayinya nyaris sekarat tadi.



Dengan lembut, Anggari berlutut di samping sang ibu. "Minumlah... dan berikan pada anakmu," ucap Anggari dengan nada suara yang begitu halus dan hangat.




Dengan tangan gemetar hebat, sang ibu mengambil tempurung kelapa itu. Ia mengusapkan air dingin itu ke bibir bayinya yang pecah-pecah, lalu meminumkan beberapa tetes secara perlahan.


Keajaiban elemen pemurni bekerja seketika. Warna pucat di wajah bayi itu perlahan memudar, berganti dengan rona merah muda yang sehat. Napasnya yang tadinya serak memanjang tenang, sebelum akhirnya sang bayi melepaskan tangisannya, tanda bahwa daya hidupnya telah kembali sepenuhnya.

Lihat selengkapnya