Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #13

Sisi Gelap Hati

Di tengah keheningan malam hutan, Anggari memegang umbi hangat pemberian warga desa. Saat gigitan pertamanya mengecap rasa manis tanah yang samar, ingatan tentang mendiang neneknya mendadak menyeruak, menghangatkan dadanya yang dingin.



Dulu, di bawah remang lampu minyak rumah kaku yang memenjarakannya, sang nenek selalu berbisik lembut sembari membelai rambutnya.



"Nenek selalu bilang," tutur Anggari pelan, matanya menatap pendar api unggun yang menari.

Suaranya bergetar, sarat akan rasa rindu. "Dunia ini sering menganggap perempuan lemah hanya karena kita tidak selalu menggunakan otot untuk menang."


Anggari tersenyum tipis. "Padahal, kelemahan yang mereka sangka ada pada kita justru menyimpan kekuatan terbesar."



Bayu meletakkan makanan di tangannya, mendengarkan dengan kepenuhan jiwa.



Anggari menatap Bayu, meluapkan esensi nasihat yang kini membakar jiwanya. "Perempuan diberi karunia untuk berpikir damai. Logika kita dibimbing oleh nurani, bukan oleh ego atau nafsu untuk menguasai."



Anggari tertunduk. "Kekuatan kita tidak terletak pada seberapa keras kita memukul, Bayu... melainkan pada seberapa dalam kita mampu berpikir, merawat, dan menyembuhkan tanpa kehilangan akal sehat."



Bayu tersenyum sangat tipis, menatap Anggari dengan pandangan yang meneduhkan sekaligus menguatkan. "Dan nenekmu benar, Anggari. Dunia yang hanya mengandalkan dominasi fisik akan runtuh oleh kesombongannya sendiri. Tenang itu penyejuk tanpa air, itu yang menyeimbangkan dunia."



Bara api unggun menari-nari di tengah kegelapan hutan yang kian pekat. Memantulkan bayangan lekuk tubuh Anggari dan Bayu pada batang-batang pohon tua di sekeliling mereka. Udara malam pegunungan yang menusuk tidak sanggup mengusir kehangatan yang dipancarkan oleh sisa-sisa energi spiritual tempat itu. Namun, kehangatan itu gagal menyentuh bagian terdalam di dada Anggari.



Lihat selengkapnya