Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #14

Sebuah Tuntutan

Keheningan hutan seolah makin menghimpit, menyisakan suara gemertak kayu terbakar dan helaan napas Anggari yang memburu.


Bayu tidak panik. Ia tidak membentak, tidak juga menunjukkan tatapan menghakimi. Pria Rajawali itu bergerak perlahan, bergeser dari posisinya hingga duduk tepat di samping Anggari. Dengan gerakan lembut yang penuh penghormatan, Bayu meletakkan telapak tangannya di atas punggung Anggari yang gemetar hebat.


"Anggari, dengarkan aku," ucap Bayu. Suaranya rendah, berwibawa, namun teramat lembut, seperti embusan angin malam yang menepis rasa kebingungan.



Anggari tidak bergeming, namun tubuhnya perlahan berhenti bergetar di bawah hangatnya sentuhan Bayu.



"Nenekmu adalah wanita yang bijaksana," lanjut Bayu lembut


"Petuah yang beliau berikan padamu adalah kebenaran yang sejati. Tapi kau sedang menyoroti bayang-bayang masa lalumu dengan sudut pandang yang salah."




Anggari mendongak pelan, matanya merah berair. "Maksudmu... apa kau ingin membenarkan pembantaian yang kulakukan pada Kakek dan Ki Samudra?"



"Aku tidak sedang membenarkan pertumpahan darah," bisik Bayu menatap ke arah Anggari. "Tapi aku memintamu untuk melihat kenyataan tanpa kebutaan rasa bersalah yang berlebihan."


Anggari menatap datar ke arah Bayu.


Bayu coba beri keyakinan yang rasinal. "Kau merasa tindakanmu tidak damai dan kehilangan perasaan hanya karena mereka orang tua? Kau lupa siapa mereka di balik rambut beruban itu."


Bayu menarik tangannya dari punggung Anggari, lalu mengepalkan tangannya di atas tanah.




Lihat selengkapnya