Anggari memejamkan matanya rapat-rapat. Helaan napasnya yang tadi sesak kini memanjang, menjadi lebih tenang. Rasa hangat dari elemen Api di dalam jiwanya tidak lagi membakar liar, melainkan kembali menyala dengan pijar kebenaran yang jernih.
Saat ia membuka mata kembali, bayangan imajiner kini telah sirna. Yang tersisa hanyalah kesadaran spiritual yang kian matang. Sebuah pemahaman mendalam menuju fase Mulat Sarira (intropeksi diri). Di mana amarah trauma masa lalu tidak lagi menguasai akal budi, melainkan ditempatkan dengan bijaksana sesuai porsinya.
"Terima kasih, Bayu..." suaranya lebih terdengar stabil. "Terima kasih telah mengingatkanku pada hakikat keadilan yang sebenarnya."
Bayu tersenyum hangat, menyenggol pelan bahu Anggari sebelum kembali mengambil umbi makanannya. "Nah, sekarang habiskan makananmu. Perjalanan kita menuju puncak Gunung Es masih panjang, dan aku tidak mau meladeni Serigala Putih bersama rekan yang perutnya kosong."
Tawa kecil yang jujur akhirnya keluar dari bibir Anggari. Kesedihan dan dilema kejiwaannya meluruh bersama angin malam. Menyisakan keyakinan di dadanya bahwa perjalanan ini harus dituntaskan hingga akhir.
Bara api unggun kembali meletup kecil, melempar pendar cahaya hangat yang memantul di mata Anggari. Suasana hutan yang tadinya dipenuhi ketegangan kini berangsur teduh. Sambil memegang sisa umbi rebus di tangannya, kenangan lama melintas kembali di benak Anggari.
Bayangan rumah besarnya yang dingin merayap pelan, namun kali ini bukan ingatan tentang pembantaian atau kemarahan. Melainkan sesosok wajah kecil yang selalu hadir di tengah kegelapan masa lalunya.
"Bayu..." bisik Anggari pelan, senyum tipis yang sarat akan kerinduan terukir di bibirnya. "Melihat umbi ini... aku mendadak teringat pada Ketut."
Bayu menoleh, menatap sahabatnya dengan pandangan bertanya. "Ketut? Pelayan kecil di rumah besarmu itu?"
"Ya," jawab Anggari, matanya menerawang menembus kegelapan malam. "Di rumah itu, aturan Patriarki begitu kaku dan kejam."
Anggari kembali teringat. "Suatu hari, aku tidak sengaja menjatuhkan sebutir nasi dari piring saat makan malam. Hanya karena sebutir nasi itu, kaum laki-laki di keluarga besar menganggapku tidak menghargai rezeki dan membuang adab. Mereka menghukumku, mengunciku di gudang belakang tanpa makanan selama dua hari penuh."
Bayu mendengarkan dalam diam, raut wajahnya menyusupkan rasa keprihatinan yang mendalam.
"Malamnya," lanjut Anggari, suaranya mengalun lembut, "Ketut menyelinap lewat celah ventilasi. Padahal dia tahu, jika ketahuan oleh para tetua atau kaum pria lain, dia bisa dipukuli habis-habisan."
Ketut tersenyum sambil terengah-engah. "Tapi anak kecil itu tetap nekat. Dia menyelipkan pembungkus daun pisang berisi sebagian dari porsi makan malamnya sendiri untukku."