Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #16

Alam Bawah Sadar

Kegelapan hutan malam itu tidak lagi sekadar kabut dan bayang-bayang pepohonan. Bagi Anggari, kegelapan itu berubah menjadi pusaran hitam yang dingin dan pekat. Menarik jiwanya turun ke jurang paling bawah dari alam bawah sadarnya.


Tekanan perasaan yang ia tahan rapat-rapat, duka yang terlarang, rasa bersalah yang tersembunyi, serta dinding tebal yang sengaja ia dirikan dari Bayu. Kini runtuh, berbalik menyerangnya saat kesadarannya tertidur.



Sensasi hamparan daun kering di bawah tubuhnya mendadak lenyap. Kehangatan sisa api unggun sirna, berganti menjadi bau pengap tanah lembap berbaur busuknya air beras basi.



Saat Anggari membuka mata di alam batinnya, ia tidak lagi berada di perkemahan. Tubuhnya yang kurus saat berusia empat belas tahun kini terikat erat di sebuah tiang kayu gelondongan yang kasar dan berlumut di halaman belakang rumah besarnya. Kedua tangannya ditarik tinggi ke atas, diikat dengan tali ijuk yang menyayat pergelangan tangannya.


LETAK!

"Aghh!"


Jeritan Anggari pecah membelah kesunyian memori kelam itu. Rasa panas yang membakar menjalar seketika di sepanjang kulit punggungnya. Sabetan cambuk lidi aren yang diikat tebal mendarat tanpa ampun.



Di belakangnya, sosok kakak laki-lakinya berdiri tegak. Wajah pria muda itu dipenuhi oleh seringai kejam dan keangkuhan yang diajarkan oleh Esensi Patriarki seribu tahun. Tangan kanannya mengayunkan ikatan lidi aren itu kembali ke udara dengan sengit.


LETAK!


"Angkat mukamu, gadis tidak tahu diri!" bentak sang kakak sepupu dengan suara gema yang melengking di dinding-dinding ingatan Anggari. Sabetan demi sabetan mendarat beruntun, mencabut potongan-potongan kecil kulit dari punggungnya yang terus bergetar hebat.


"A-aku... aku hanya... tidak enak badan..." bisik Anggari kecil dengan bibir gemetar, mencoba membela diri di sela-sela napasnya yang terputus-putus.


Suaranya serak, matanya merah dipenuhi air mata keputusasaan. "Aku hanya... terlambat bangun satu jam... Kak..."


"Tutup mulutmu!"


BYURRR!

Lihat selengkapnya