Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #17

Terbukanya Selubung Gelap

Bayu tertegun di tempatnya. Hatinya mencelos menyaksikan pemandangan di depannya. Dinding tebal dan sikap tegar yang ditunjukkan Anggari beberapa jam lalu runtuh total. Menyisakan seorang gadis muda yang jiwanya remuk oleh siksaan masa lalu yang tidak pernah benar-benar sembuh.


Bayu melangkah mendekat kembali. Ia tidak menundukkan Anggari dengan kekuatan fisik atau sihir. Bayu berlutut perlahan di hadapannya, menurunkan pandangannya hingga berada di bawah posisi Anggari.


"Anggari... ini aku. Bayu," panggilnya dengan suara lembut.


Anggari mengangkat kepalanya sedikit dari balik lututnya. Pandangannya yang kabur dan penuh ketakutan menatap sosok di depannya.


Di dalam matanya, bayangan tiang kayu gelondongan, cambuk lidi aren, dan siraman air beras basi perlahan-lahan mulai memudar. Berganti dengan pendar hangat api unggun dan raut wajah Bayu yang dipenuhi ketulusan.


"Bayu...?" bisik Anggari dengan suara kecil yang sangat rapuh.


"Ya, ini aku," sahut Bayu pelan, tidak memindahkan posisinya. "Tidak ada tiang kayu di sini. Tidak ada cambuk. Tidak ada orang yang bisa menyakitimu atau menyebutmu lemah lagi."


Anggari menatap kedua tangannya yang gemetar. Kesadarannya perlahan kembali ke alam nyata, namun sisa-sisa rasa perih imajiner di punggungnya dan rasa hina dari makian sang kakak sepupu masih menyengat di jiwanya.


"Aku... aku terikat di tiang itu lagi, Bayu..." tutur Anggari, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi.


Kesedihan yang sengaja ia sembunyikan tumpah sepenuhnya di hadapan pria itu. "Mereka mencambukku hanya karena aku sakit... mereka menyiramku dengan air basi... Mereka bilang aku ini cuma perempuan lemah yang menyusahkan..."


Anggari menatap Bayu dengan tatapan hancur. "Ketakutan itu... rasa hina itu... ternyata belum pernah pergi dari jiwaku."


Air mata Anggari makin bercucuran. "Aku berpura-pura kuat di depanmu, tapi di dalam... aku masih gadis kecil yang ketakutan di tiang kayu itu."


Bayu mendengarkan setiap kalimat itu tanpa menyela. Ia membiarkan Anggari mengeluarkan seluruh racun trauma yang selama ini menyumbat jiwanya.


"Rasa sakit itu nyata, Anggari," kata Bayu dengan nada yang meneduhkan.

"Apa yang mereka lakukan padamu adalah kekejaman murni dari orang-orang yang berjiwa kerdil. Tapi bayangan di alam bawah sadarmu itu adalah kebohongan terbesar yang diciptakan oleh masa lalumu."


Bayu menatap lurus ke dalam mata Anggari yang basah.


"Kau bukan gadis kecil tak berdaya di tiang kayu itu lagi," tegas Bayu lembut.

"Kau adalah Anggari, gadis yang mengepakkan Sayap Garuda, yang menguasai Api dan Air, yang telah mematahkan belenggu kakekmu dan menyelamatkan puluhan nyawa di desa tadi!"


Lihat selengkapnya