Kebangkitan Putri Garuda

Novia dewi
Chapter #19

Terjebak Masa Lalu

Jalur terjal yang harus ditempuh Anggari membentang sebagai serangkaian tangga tanah alami yang dipahat kasar di lereng bukit. Tanah lempung di sana sangat kering, ditutupi lapisan debu tebal yang licin dan mudah tergelincir di bawah pijakan kaki. Tanpa adanya kekuatan, Anggari merasakan betul beratnya raga seorang manusia biasa. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun kencang, dan lututnya bergetar hebat setiap kali ia memaksa kakinya melangkah naik.


Bayu melayang canggung beberapa jengkal di atasnya, ditahan oleh kepakan sayap yang tak bisa ia padapkan. Matanya terus mengawasi setiap pergerakan Anggari dengan ketegangan yang membuncah.


SRET!


"Agh!"


Kaki kiri Anggari tergelincir di atas debu licin. Tubuhnya hilang keseimbangan dan membentur tangga tanah yang keras dengan telak. Siku dan lututnya terseret beberapa meter ke bawah, menimbulkan rasa perih yang menyengat saat kulitnya terkelupas berdarah.


"Anggari!" seru Bayu, mencoba menukik turun untuk memegang lengan Anggari, namun gelombang angin di bawah kakinya justru menolak keras, memantulkannya kembali melayang di udara. "Sial! Aku tidak bisa menyentuh tanah untuk menahanmu!"


Anggari menggeram pelan, mengusap debu yang menempel di pipinya yang basah oleh keringat. "Aku... aku tidak apa-apa..." bisiknya parau. Ia memegang pinggiran batu tajam, memaksa tubuhnya yang memar untuk kembali berdiri.



Namun, medan tempat itu seolah tidak membiarkannya bernapas. Baru tiga langkah ia mencoba menanjak kembali, pijakan tanah lunak di bawah kakinya ambrol.


BUM!


Anggari jatuh untuk kesekian kalinya. Kali ini, dadanya menghantam sudut tangga tanah dengan keras, menghentikan napasnya seketika. Tubuhnya berguling terlentang di tengah debu tebal yang membumbung tinggi, menutupi pandangannya dari langit pagi.


Rasa sakit fisik itu mendadak menjadi pintu gerbang bagi ingatan kelam yang tersimpan di bagian terdalam jiwanya.


Sensasi terhempas ke tanah berdebu dan rasa tak berdaya itu terdistorsi seketika. Alam bawah sadar Anggari menyambar kenangan pahit di halaman rumah besarnya saat ia berusia lima belas tahun.


Dalam bayangan memori yang tiba-tiba meluas secara nyata di pelupuk matanya. Anggari tidak sekadar jatuh karena tangga yang licin, ia merasa didorong dengan kasar dari belakang oleh sosok sepupu laki-lakinya. Sosok pemuda angkuh yang tumbuh dalam tatanan Patriarki kaku, yang menganggap sepupu perempuannya tak lebih dari sekadar objek hinaan.



“Kau pikir kau ini siapa, Anggari?!” gema suara sepupunya melengking di dalam kepala Anggari, berpadu dengan rasa sakit di dadanya.


Dalam ilusi memori yang mencekik itu, Anggari merasakan punggung telapak kaki sepupunya menghantam dadanya. Menginjak tubuhnya yang terbaring di atas tanah berdebu dengan tebalnya sol sandal kulit. Sepupunya menekan berat tubuhnya di atas dada Anggari, memaksa gadis itu memuntahkan napasnya.



“Gadis tidak berguna! Berani-beraninya kau menatap mataku saat aku bicara!”



Lihat selengkapnya