JAYADI terbangun tiba-tiba. Matanya membelalak. Sebuah suara mengguncang ketenangan tidurnya: dentingan keras logam beradu dengan lantai. Jayadi yakin benar, sumber suaranya dari dapur, nun jauh di sana—yang jaraknya bisa puluhan langkah dari kamar tidurnya. Di telinga Jayadi, suaranya seperti pecahan satelit yang jatuh dari ruang angkasa.
Tapi Jayadi benar-benar yakin itu suara… pisau.
Diliriknya jam dinding. Pukul 03.15. Ia duduk di pinggir ranjang, mengubek gumpalan pertanyaan yang memenuhsesaki kepalanya.
Siapa di dapur dini hari begini?
Bukankah Nuke sedang tidak di rumah?
Aya? Ikut mamanya pergi.
Arzi? Bukan kebiasaannya bangun malam-malam dan cari makanan.
Makan sahur? Ini bukan bulan puasa.
Jayadi berdiri dan mengambil tongkat kayu di samping ranjang. Ia biasa menggunakan tongkat itu untuk membantunya berjalan. Ditariknya gagang tongkat berbentuk kepala singa berbahan besi itu. Kilau cahaya lampu memantul dari permukaan belati di dalam tongkat. Jayadi puas, lalu ditutupkan lagi kepala tongkatnya.
Pria yang baru menapaki tahun ke-77 masa hidupnya itu berjalan mengendap setelah membuka pintu kamar dan memeriksa sekitar. Dilihatnya lampu dapur menyala, tapi sudah tidak ada suara lagi di sana.
Langkah Jayadi terhenti di depan pintu dapur. Dirapatkan punggungnya ke dinding, melekat erat bagaikan seekor tokek yang sadar perekat di kaki-kakinya sudah menipis. Dengan sangat perlahan ia menarik gagang tongkatnya. Kini tangan kanannya memegang sebilah belati dan tangan kirinya memegang tubuh tongkat kayu. Jantungnya berdetak makin cepat.
Jayadi mengintip ke dalam sambil mengetatkan kewaspadaan. Pupil matanya melebar, menandakan ia sedang menajamkan pandangan untuk memindai area dapur. Seluruh tubuhnya tegang seiring kelenjar adrenal memompa epinefrin ke dalam aliran darah.
Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Jayadi mengayunkan kakinya dengan hati-hati sambil kembali memeriksa sekeliling area dapur. Ia tidak melihat ada pisau terjatuh di lantai. Dialihkannya pandangan ke tempat penyimpanan pisau. Terkejut ia ketika dilihatnya ada satu pisau yang tidak ada di tempatnya. Pisau ukuran paling besar!