SIANG itu, dengan bertelanjang kaki dan hanya mengenakan kaus singlet, Jayadi melangkah kalem menuju pohon besar di halaman belakang rumah. Tiba di sana, ia membuka kursi lipat yang dibawanya dari dalam rumah. Dijatuhkan bokongnya perlahan di atas dudukan kursi berbahan kain oxford tebal tersebut. Kepalanya ia sandarkan di batang pohon yang garis lingkarnya lebih dari seperempat meter itu. Matanya memejam, menikmati semilir angin yang menciptakan gemeresik menenangkan di atas kepalanya. Senyumnya tersungging, seakan mengejek terik matahari sore yang tak mampu menyentuh kulitnya.
“Nggak tahu aku bagaimana rasanya hidup tanpamu, Keben,” ucapnya. “Kamu selalu meneduhkanku.”
Keben, pohon itu, menjulang sekitar delapan meter dan berdaun sangat rimbun. Beberapa buah berbentuk mirip lampion terlihat di sejumlah pucuk daun. Warna hijaunya menyaru dengan dedaunan, tapi Jayadi tahu benar di mana saja buah-buah itu bersembunyi. Setiap hari Jayadi menghitung buah-buah tersebut—yang masih muda maupun yang sudah matang berwarna coklat. Bukan untuk dipetik, apalagi dimakan. Jayadi hanya memastikan pohon itu masih tetap produktif. Lebih tepatnya, ia takut pohon itu mati mendahului dirinya.
Tidak banyak pepohonan di pekarangan belakang rumah seluas satu setengah kali lapangan bulu tangkis itu. Sebuah jalan tanah yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil menjadi batas antara pekarangan rumah dan area persawahan di seberangnya. Selain pohon keben di tengah pekarangan, hanya ada dua pohon belimbing yang masih muda dan satu pohon kersen. Selebihnya, tanaman hias yang ditata di beberapa sudut halaman. Dengan komposisi tersebut, pohon keben itu benar-benar seperti raksasa penjaga rumah yang siap melindungi makhluk hidup di bawahnya.
Jayadi punya memori spesial dengan Keben. Belasan tahun lalu, ia mengikuti tur rombongan ke Keraton Yogyakarta. Ketika dipandu berkeliling keraton itulah hatinya tertambat pada sebuah pohon besar yang ada di halaman keraton. Tinggi besar dan gagah, tapi aura femininnya tetap kuat. Sebuah perwujudan dari komposisi yin dan yang yang presisi. Polaritas yang pas.
“Ini namanya pohon keben,” kata sang pemandu wisata yang menunjuk beberapa pohon sejenis. “Nama latinnya Barringtonia asiatica. Menjadi salah satu pohon utama yang ditanam di pelataran keraton karena memiliki filosofi tersendiri. Keben memiliki makna hangrungkebi jejering bebener atau merangkul kebenaran. Jadi pohon ini menjadi simbol bahwa manusia harus selalu menjunjung tinggi kebenaran di dalam hidupnya.
“Nah, oleh Presiden Soeharto, pohon ini juga ditanam di halaman Istana Negara dan ditetapkan sebagai pohon perdamaian pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 1986. Ini karena keben juga mengandung makna tangkeben yang artinya ‘tutupilah’. Maksudnya, tutupilah selalu diri kita dari pengaruh berbagai hawa nafsu yang sering kali merusak hati.”
Jayadi menaksir umur pohon itu sudah tua, karena diameter batangnya sudah mencapai satu meter lebih dan tingginya tak kurang dari 20 meter. Daunnya cukup besar berbentuk lonjong memanjang, bergerombol di bagian ujung batang. Uniknya, sejumlah buahnya tumbuh bergerombol di pucuk batang tersebut. Berwarna hijau, kira-kira sebesar genggaman tangan. Jayadi menoleh ke bawah. Dilihatnya beberapa buah yang jatuh di atas permukaan tanah. Warnanya kecoklatan. Ia memungut satu. Kulit buahnya terasa halus.
“Ada satu cerita yang aneh dan unik,” sang pemandu melanjutkan dengan melantangkan volume suaranya. Ia berhasil menghimpun perhatian para pengunjung yang sejak awal tadi terpecah dengan fokus masing-masing. Semua mata kini tertuju ke pemandu.
“Ini saya mengalaminya sendiri. Selama saya mengabdi puluhan tahun di keraton, belum pernah ada satu orang pun yang kejatuhan buah keben. Padahal ketika berbuah, buahnya banyak, dan wisatawan pun banyak hilir mudik di bawah pohon. Buah-buah keben ini kalau jatuh pasti di samping mereka, tidak pernah mengenai tubuh. Pohon keben adalah pohon pelindung yang sesungguhnya.”
Penjelasan pemandu wisata itu begitu mengena di hati Jayadi. Ia merasa jatuh hati. Seperti ada sebuah keyakinan di dalam hatinya kalau pohon itu adalah belahan jiwanya. Yang bakal mampu membersihkan serpihan-serpihan luka hidup dan mengisi kekosongan jiwanya—mewujudkan sebuah kedamaian yang akan membuat hidupnya lebih indah. Dan yang juga tak kalah penting, membuat ia lebih siap menghadapi ajal nanti.