Keben

hyu
Chapter #4

02

BAGI saya, demokrasi harus dimaknai sebagai proses menyelaraskan berbagai perbedaan untuk mewujudkan tujuan utama berbangsa dan bernegara dengan musyawarah, dan tentu dilakukan dengan langkah-langkah konstitusional dan sesuai hukum. Ini akan mereduksi potensi konflik dan perpecahan, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara jadi lebih damai dan menyenangkan.”

Presiden baru RI, Bagus Harja Giatama, tengah tampil dalam satu acara khusus yang disiarkan oleh stasiun televisi milik pemerintah: RI-TV. Ini adalah penampilan perdananya di media nasional setelah dilantik pada Oktober 2029, tepat dua bulan lalu. Bagus memang meminta slot khusus di stasiun televisi itu untuk menyampaikan pesan penting mengawali masa pemerintahannya, sekaligus menyambut Tahun Baru 2030.

Di depan layar televisi, Jayadi menyaksikan siaran tersebut dengan sorot mata yang dalam. Telinganya menyimak setiap kata yang dilontarkan oleh presiden. Aku memilih dia karena sangat yakin dialah yang akan menyelamatkan negeri ini.

“Maka, dengan amanat dari rakyat, saya terpanggil untuk menjaga demokrasi kita agar tetap lurus dan tidak melemahkan fondasi NKRI yang sudah kokoh, yaitu Pancasila dan UUD 1945,” Bagus melanjutkan.

“Mewakili para penyelenggara negara sebelum saya, terimalah permohonan maaf saya karena selama ini penyelenggaraan demokrasi kita diwarnai banyak rongrongan, yang—ini sungguh-sungguh ironis—dilakukan oleh kami, para pelaku demokrasi itu sendiri. Kita tahu, sejak Reformasi 1998, kami bersepakat untuk mengamandemen UUD 1945 pada tahun 1999. Dan seperti ketagihan, terus diikuti dengan amandeman lainnya pada tahun 2000, 2001, dan 2002. Celakanya, kami terlambat menyadari, bahwa kita malah makin menjauh dari amanat yang dititipkan oleh para pendiri negeri ini.”

Jayadi mengangguk-angguk. Pandangannya tidak mau lepas dari layar. Ia sudah menantikan pesan utama yang ingin disampaikan oleh Bagus. Dialah satu-satunya penyambung lidah Bung Karno.

“Dan saya merasakan apa yang rakyat rasakan, yaitu dampak negatif dari perkembangan demokrasi kita itu. Pemilu berbiaya tinggi—yang efek dominonya korupsi merajalela; merebaknya politik memecah belah rakyat seperti munculnya sentimen SARA, hoax, dan ujaran kebencian; media pers jadi corong politik; hingga menurunnya tingkat kepercayaan kita pada parpol. Kursi kekuasaan menjadi lebih penting ketimbang kepentingan masyarakat, yang efeknya kita saksikan sendiri: jabatan-jabatan penting pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang tidak kompeten, dan aturan hukum direkayasa hanya untuk memenuhi syahwat kepentingan penguasa.

“Kami menyadari bahwa kami sudah pergi jauh meninggalkan rakyat dan membiarkan rumah kita—NKRI—terluka. Sekali lagi, kami menyesali itu dan minta maaf. Kami berjanji akan pulang dan menebusnya.

“Saya sudah berkomunikasi dengan orang-orang terpilih yang mewakili stakeholder bangsa ini sejak saya mencalonkan diri menjadi presiden. Dan kami sepakat segera kembali kepada Demokrasi Pancasila yang sesungguhnya, yang berpihak kepada rakyat. Sebab, NKRI didirikan bukan untuk kepentingan segelintir elite politik atau kelompok dan golongan tertentu saja. NKRI ada untuk merangkul semuanya.

“Jadi, mengawali masa bakti saya ini, saya ingin memberikan kado spesial tahun baru untuk rakyat Indonesia: saya akan membawa kita semua pulang ke rumah yang selalu mengayomi dan meneduhkan: Indonesia Baru.”

Ingin rasanya Jayadi bertepuk tangan mendengar pidato bagus dari Bagus. Kalau saja Bagus menyampaikan itu di tengah lapangan, Jayadi memastikan dirinya akan melonjak gembira sambil memekik “Merdeka!” Ini kemenangan rakyat!

“Satu hal yang sangat penting dan mutlak sekarang ini adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan saya berjanji akan membawa rakyat Indonesia bahagia hidup di tengah keluarganya: bangsa Indonesia.”

Itulah salah satu alasan aku memilihmu menjadi presiden. Karena ‘bahagia’ sudah tersurat di dalam namamu: Bagus Harja Giatama.

“Dan salah satu upaya untuk menciptakan keadilan itu, saya akan menyelesaikan kasus-kasus HAM di masa lalu—termasuk, tentu saja, mengadili para pelaku kejahatan HAM.”

Pernyataan presiden mengentakkan refleks Jayadi. Air kopi dingin yang baru saja menempel di bibirnya muncrat. Cipratannya menodai karpet sehingga memunculkan motif baru. 

Belum sempat mengomentari pernyataan presiden, Jayadi dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba Buncis yang berlarian dengan gaduh. Melompati meja, meluncur ke kolong kursi, lantas berdiam diri di sana. Tak lama kemudian dia berlari keluar dari kolong, lalu dengan cepat naik tangga ke lantai dua. Di anak tangga paling atas, Buncis berhenti dan menatap tajam ke arah jendela di lantai bawah. Jayadi memperhatikan tingkah polah kucingnya itu. Tidak ada yang mengejarnya, tapi dia seperti ketakutan.

Jayadi mengikuti arah pandangan Buncis. Tidak ada siapa atau apa pun di sana. Ia berjalan menuju jendela lalu melongok keluar. Mencari apa saja yang sekiranya membuat kucingnya ketakutan. Dan Jayadi hanya menemukan sia-sia.

“Buncis, sini!” Jayadi berseru sambil melambaikan tangannya ke arah si kembang telon. Tapi Buncis bergeming. Tubuhnya mematung dengan tatapan masih ke arah jendela. Jayadi mengulang lagi panggilannya beberapa kali. Dan Buncis tetap tak acuh.

Jayadi tahu—dari orang-orang—kalau kucing bertingkah aneh begitu, itu menandakan dia sedang melihat makhluk halus. Pertama, kejadian di bawah pohon keben tempo hari. Dan sekarang, Buncis kembali menunjukkannya.

Jayadi bukan hanya percaya pada omongan orang. Dia sendiri merasakan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan nalar. Di rumahnya. Bulu kuduknya berdiri di saat-saat tertentu; atau ia tiba-tiba terkejut tanpa alasan; atau ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Dan—ini anehnya—beberapa saat setelah ia merasakan itu, Aliarzi, anak bungsunya, selalu muncul kemudian.  

Sudah sebulan ini Jayadi merasakan itu. Pada awalnya tidak ada prasangka apa pun terhadap Arzi. Tapi lama-lama Jayadi sering kali memergoki anak laki-lakinya itu memperhatikan dirinya dengan tatapan aneh. Seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk beraksi. Yang aneh lagi, fenomena itu muncul bertepatan dengan keinginan kuat Jayadi untuk membersihkan jiwanya dari dosa-dosa sepanjang hidupnya.

Jayadi mencoba menebak-nebak ada apa di balik itu semua, hingga ia terkejut ketika suatu hari secara kebetulan membaca sebuah artikel di internet. Artikel itu memaparkan tanda-tanda hadirnya malaikat pencabut nyawa. Selain suasana rumah yang tidak nyaman, tanda lainnya adalah sang malaikat akan menampakkan dirinya lima kali dalam sehari di depan pintu. Dan kemarin, ketika Jayadi sengaja menghitung, hasilnya tepat. Arzi muncul di depan pintu dan memperhatikan dirinya sebanyak lima kali.

Anakku adalah malaikat pencabut nyawaku!

Lamunan Jayadi dipatahkan oleh kemunculan menantunya, Nuke, dari dapur. Tangan kanannya membawa satu piring lontong sayur. Jayadi mengerutkan kening.

“Pak, sarapan sudah siap. Yuk, makan,” ajak Nuke sambil berjalan melewati Jayadi menuju meja makan.

Memang, itulah tujuan sebenarnya Jayadi menuju ruang makan: sarapan. Tapi bukan lontong sayur yang ia minta. “Bubur ayamku mana?” ia bertanya sambil menggeser kursi untuk diduduki.

“Langganan kita tidak jualan, Pak. Bapak sesekali nyoba lontong sayur, deh. Ini enak, kok.”

“Bukan masalah enak nggak enak. Kamu kan tahu aku tidak doyan kuah bersantan. Perutku bisa perih.”

“Itu karena Bapak tidak terbiasa. Bapak tahu kan ungkapan ‘bisa karena terbiasa’? Dicoba sedikit saja dulu, besok coba lagi tapi ditambah porsinya. Nanti lama-lama perut Bapak akan menyesuaikan. Percaya, deh.”

Jayadi merengut. Ia tahu Nuke adalah seorang ahli nutrisi. Ia tahu benar makanan mana yang baik untuk diberikan pada lansia seperti bapak mertuanya. Tapi tidak biasanya Nuke tidak menuruti keinginannya. Kalau bubur ayam langganannya tidak jualan, toh banyak penjual lain di luar kompleks. Atau pesan saja lewat layanan pesan-antar. Tapi sekarang Nuke sudah mulai berani fait accompli.

Jadi, apa lagi ini? Siapa Nuke sebenarnya?

Kecurigaan Jayadi melebar: Yang lebih aneh lagi, siapa pula Bagus?

“Bapak ngeh, nggak?” tiba-tiba Jayadi dikejutkan dengan sebuah sentuhan tangan di pundaknya.

Lihat selengkapnya