SUARA melengking Nuke meneriakkan nama Aya dari dalam rumah menggelitik gendang telinga Jayadi. Ia sontak menyudahi obrolan dengan cucu satu-satunya itu.
“Dipanggil, tuh,” sergahnya.
“Iya, Kek. Aya masuk dulu ya.”
“Sebentar.” Jayadi bangkit dari kursi sambil melihat ke atas, meneliti posisi di mana buah-buah keben berada. Setelah dirasakan aman, ia menggandeng Aya.
Jarak dari pohon keben ke pintu rumah hanya sekitar enam meter, terpisahkan oleh bentangan permukaan tanah dengan batu-batu kecil berserakan di atasnya. Sambil berjalan Jayadi menyingkirkan bebatuan di depannya dengan kaki, memberi kenyamanan Aya untuk berjalan menuju rumah.
Aman, pikirnya begitu mereka sampai di depan pintu. Jayadi menyentuh pelan punggung Aya untuk menyilakannya masuk.
“Sayang, ganti baju terus mandi, habis itu Mama tunggu di sini. Kita makan bareng,” kata Nuke begitu melihat Aya datang. Ia mengatakan itu sambil menyiapkan sajian makan siang yang ia bawa dari warung makannya di meja. “Setelah itu Mama balik ke warung lagi.”
Aya merespons dengan berjalan cepat naik ke lantai dua setelah menjawab ‘oke, Ma’.
Nuke menoleh ke Jayadi yang masih berdiri di ambang pintu memperhatikan Aya.
“Bapak mau makan bareng?”
“Nanti saja. Belum lapar,” sahut Jayadi sambil tersenyum, kemudian berjalan kembali menuju pohon keben. Diikuti oleh pandangan Nuke yang menyiratkan sebuah pemafhuman.
Nuke masih belum bisa memahami Jayadi yang dalam dua minggu belakangan ini bersikap aneh, terutama soal makanan. Bapak mertuanya itu sekarang sangat pemilih. Ia hanya mau makan kalau ia sendiri yang membeli, atau yang ia benar-benar tahu proses memasaknya. Padahal, sebelumnya, Jayadi tidak pernah pilih-pilih makanan.
Itu yang membuat Nuke harus memindahkan Euis, asisten rumah tangganya, ke warungnya beberapa hari lalu. Sudah belasan tahun perempuan Garut itu bekerja di rumahnya untuk melayani Jayadi, termasuk memasak. Tapi tiba-tiba Jayadi tidak pernah lagi menyentuh masakannya, dan bahkan kerap memarahinya ketika sedikit saja Euis melakukan kesalahan. Nuke pun mengalah setelah Jayadi menyampaikan nota keberatannya atas pekerjaan Euis yang ia sebut sebagai ‘tidak kompeten dan tidak kooperatif’. Euis dipindahtugaskan Nuke ke warung. Tidak hanya pekerjaannya, tapi juga tidurnya. Untung ruko yang disewa Nuke punya tiga lantai.
Ternyata keanehan sikap Jayadi tidak hanya soal makanan. Dalam hal lain pun setali tiga uang. Ia seperti tidak percaya pada orang rumah. Sering menghindari berkumpul bersama, menolak ajakan keluar rumah, dan mengunci diri di dalam kamar ketika semua orang berada di rumah. Nuke merasa, satu-satunya yang Jayadi percaya sekarang adalah sesuatu yang sulit dipercaya: pohon keben di belakang rumah.
Dan itu adalah keanehannya yang lain. Beberapa hari lalu Arzi memberitahu Nuke tentang Jayadi yang terlihat beberapa kali bicara sendiri di bawah pohon.
“Tidak ada siapa-siapa di sekitar situ,” kata Arzi. “Buncis pun aku lihat lagi makan di dalam rumah. Sama siapa lagi dia ngomong kalau bukan sama Keben?”
“Mungkin sedang berdoa,” tukas Nuke.
“Kamu tahu sendiri, Bapak bukan tipe seperti itu.”
“Tapi dengan sikapnya yang aneh belakangan ini, bisa jadi Bapak berubah jadi seperti itu.”
Arzi terdiam, mencoba menebak-nebak mengapa Jayadi makin seperti kehilangan Jayadi.
Dari dulu Bapak sudah aneh. Tapi belakangan ini makin menjadi.
Nuke selesai menyiapkan makan. Ia melihat arlojinya. Sudah setengah jam lebih Aya belum juga muncul. Anak itu kalau mandi memang lama. Tapi ini sudah lewat jam makan.
Nuke berjalan meninggalkan meja makan menuju ujung tangga. Sambil mendongak ke atas ia berteriak memanggil Aya. Terdengar jawaban Aya yang berjanji akan turun dalam dua menit. Nuke kembali ke meja makan. Tapi langkahnya terhenti ketika sudut matanya menangkap bayangan Jayadi di luar. Nuke balik langkah lalu duduk di anak tangga bawah, pura-pura menunggu Aya turun tapi matanya membidik Jayadi.
Dilihatnya pria tua itu sedang menggauli momennya. Ia memunguti beberapa daun kering yang berserak di bawah lalu membuangnya ke dalam liang sampah tak jauh dari situ. Jayadi kembali ke bawah pohon, mengelus-elus batangnya sambil mendongak ke atas. Mulutnya tampak komat-kamit. Sesekali ia menunjuk-nunjuk ke atas, sesekali sambil tersenyum. Hingga akhirnya ia kembali duduk di kursinya. Matanya memejam.
Nuke memandangi Jayadi dengan tatapan iba. Di dalam kepalanya muncul gelembung-gelembung pikiran dan pertanyaan. Baginya, ini masalah serius. Ia merasa perlu berdiskusi dengan Arzi untuk mencari solusi.
Tapi tidak dengan Sylbi. Sylbi tidak boleh tahu.
Langkah-langkah pendek Aya menuruni tangga mengembalikan kesadaran Nuke.
“Akhirnya,” kata Nuke menyambut kemunculan Aya dengan senyum. “Kamu nggak lapar apa?”
“Lapar sih, Ma. Makanya tadi Aya ngebut mandinya.”
“Hah? Serius?” Nuke menunduk dan pura-pura menunjukkan wajah takjub di depan wajah Aya.
“Ih, Mama apaan, sih? Tadi aku ketiduran sebelum mandi.”