Keben

hyu
Chapter #6

04

DI ruang tengah, mata Jayadi tidak berkedip menatap tayangan televisi. Bagus Harja Giatama tengah diwawancarai oleh Nara Eliza, Pemimpin Redaksi RI-TV.

Dalam pengantarnya, Nara menyebutkan bahwa di awal kepemimpinan Bagus, ia memilih melakukan roadshow ke berbagai media untuk menyampaikan pemikirannya bagi bangsa Indonesia, terutama dalam hal penegakan hukum. Itulah prioritas pertamanya setelah terpilih: membangun dan memperkuat kepercayaan publik dengan menegakkan supremasi hukum. Dan Bagus merasa perlu memanfaatkan beragamnya media komunikasi saat ini. Tapi berbeda dengan presiden-presiden terdahulu, Bagus memilih mendatangi mereka, bukan mengundang mereka. Begitu menurutnya sikap yang benar sebagai pemimpin yang diberi mandat oleh rakyat. Setelah wawancara ini ia sudah menjadwalkan diri untuk tampil di sejumlah stasiun televisi, siniar, dan kanal-kanal YouTube terpilih.

“Selamat malam, Pak Bagus,” Nara membuka obrolan.

“Selamat malam, Nara. Tapi kalau berkenan, saya lebih suka dipanggil dengan ‘Bahagia’. Karena saya ingin senantiasa berbahagia agar bisa membuat kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat Indonesia bahagia.”

Rupanya Bagus tahu benar bahwa kata-kata punya dampak dalam memengaruhi sikap dan tindakan seseorang, sehingga ia perlu sesering mungkin menggunakan kata positif. Makin sering kata positif tertanam di dalam pikiran kita, makin kuat respons otak kita untuk bersikap dan bertindak positif. Dan satu kata yang sedang ia gunakan untuk saat ini adalah “bahagia”.

“Saya seratus persen setuju, Pak Bahagia,” Nara merespons sambil tersenyum. “Jadi, bolehlah Bapak sampaikan apa yang menurut Bapak bisa membuat rakyat bahagia.”

“Tentu ada banyak hal, dan itu tidak akan selesai kita bahas di acara ini. Negara ini sudah lama dan sudah banyak mencederai rakyatnya. Ini harus saya akui, dan saya akan berusaha menyembuhkannya. Pertama-tama, sebagai fondasi untuk membangun kembali pemerintahan yang sehat, saya harus menguatkan sistem hukum, termasuk instrumen-instrumennya. Memperkuat independensi Lembaga Antikorupsi, reformasi institusi kepolisian dan kejaksaan, merevisi aturan-aturan hukum yang tidak berpihak pada rakyat, dan seterusnya.”

“Termasuk seperti yang Bapak sampaikan tempo hari, menyelesaikan kasus-kasus kejahatan HAM masa lalu?”

“Tentu. Ini proses pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sedang berjalan. Bekerja sama dengan Komnas HAM, nanti kita akan buka arsip, mengumpulkan kesaksian korban, dan merekonstruksi fakta. Kalau sudah terkumpul, kita akan proses para pelakunya, baik pelaku di lapangan maupun….”

Jayadi mematikan televisi tiba-tiba. Wajahnya tegang. Perutnya mendadak terasa mual, ingin muntah.

Jayadi berlari menuju wastafel di dapur, siap-siap mengeluarkan isi perutnya. Tapi tiba di sana, hanya angin dan suara tercekat yang keluar dari mulutnya. Jayadi mengambil air minum di dispenser dan membawanya ke sofa. Setelah menenggak setengah gelas, ia duduk bersandar dan memejamkan matanya.

Ternyata aku telah salah memilih dia. Lebih celaka lagi, aku telah salah memilih hidup di dunia.

Jayadi bangkit dari sofa lantas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia membuka lemari pakaian, menggeser tumpukan bajunya dan membuka sebuah pintu kecil dari sebuah celah rahasia. Jayadi mengambil sebuah peti kayu berukuran sekitar 20X15 sentimeter dari dalam celah itu dan membukanya. Matanya memandangi dengan tatapan intens dua buah benda yang berdiam di sana: sebuah pistol rakitan dan benda berbahan kain warna hitam.  

“Halo, Thole,” gumamnya pada pistol itu. Jayadi memang sudah menganggap senjata miliknya itu sebagai anak laki-lakinya. Thole adalah panggilan untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa.

Jayadi mengeluarkan kedua benda itu, membuka magazin pistol untuk melihat peluru di dalamnya, dan setelah itu memasangnya kembali. Ia menutup peti yang sudah kosong dan memasukkannya ke dalam celah rahasia, lalu mengembalikan tumpukan baju seperti semula. Diselipkannya kemudian Thole di dalam pinggang celananya dan kain hitam di dalam kantung jaketnya.

Kini Jayadi merasa lebih siap menghadapi apa pun atau siapa pun yang menghadangnya.

 

*

 

Mobil Arzi berhenti di depan rumah. Nuke turun dari mobil, disusul Aya. Mereka masuk ke dalam rumah mendahului Arzi yang masih harus memasukkan mobil ke dalam garasi.

Arzi, selepas memarkirkan mobil, seperti biasa, masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang garasi yang menyambung dengan pintu belakang rumah. Dan seperti biasa pula, sambil melangkah masuk melewati ambang pintu, ia melirik ke arah Jayadi bersemayam. Namun kali ini, tidak seperti biasa, Arzi terkesiap. Cahaya keemasan matahari menjelang senja membiarkan mata Arzi menangkap pemandangan yang berbeda dari biasanya. Di bawah pohon keben itu tidak terlihat lagi Jayadi dan kursi kesayangannya. Namun sebagai gantinya, sebuah tenda segitiga berwarna hijau army berdiri di sana.

“Kenapa lagi dia, Mas?” kata Nuke mendekati Arzi dan ikut memandangi tenda tersebut.

Arzi berdecak. Tiba-tiba matanya menangkap jam tangan kesayangan Jayadi tergeletak di atas meja makan. Arzi mengambilnya, lalu mengayunkan langkah menuju tenda. “Sebentar aku cari tahu,” katanya.

Lihat selengkapnya