Semarang, awal 1983.
DUDUK di depan masjid di sebuah terminal bus, pria itu merasakan dadanya bergemuruh. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa setakut itu. Apalagi begitu mulai masuk malam hari. Ia harus bersembunyi. Tapi masalahnya, ia tidak punya tempat untuk menghilang. Di rumah petaknya tidaklah mungkin, karena pasti sudah ditandai. Ke rumah teman? Sekarang tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Semuanya menjauh—tepatnya, menyelamatkan diri masing-masing. Keluarga? Bahkan tak satu pun anggota keluarganya di desa yang tahu ke mana ia sekarang.
Seruan azan magrib menggema. Pria dengan ciri khas bola mata kirinya rusak dan pupilnya memutih itu melihat arlojinya. Pukul 17.34. Sambil bergegas menjauh, ia tarik lengan hoodie-nya ke bawah untuk menutupi tato di kedua lengannya, lalu memasang tutup kepala. Spontan ia meringis seiring sebuah kesadaran muncul di benaknya: Dasar setan. Dengar azan bukannya mendekat malah lari menjauh.
Bagi pria tersebut, di saat-saat seperti ini, salat atau tidak salat sudah tidak penting lagi. Dosa dan neraka sudah bukan ancaman yang menakutkan, meski berbagai pemahaman yang ia dapat semasa kecil oleh orang tua dan guru mengajinya masih menggumpal pekat di dalam kepala. Sekarang, semua itu terkalahkan oleh satu ketakutan lain yang lebih dahsyat dan lebih nyata: mati terbunuh, oleh orang yang bahkan tidak mengenal dirinya.
Beberapa teman seprofesinya di terminal tempatnya bekerja sudah lari entah ke mana. Menurut kabar, mereka sudah tewas. Salah satunya diberondong peluru di dalam kandang ayam belakang rumah—setelah istrinya dipaksa untuk menunjukkan keberadaannya.
Pada awalnya, pria itu tidak tahu mengapa mereka ditembak, dan oleh siapa. Ia menduga, itu perbuatan pembunuh berantai seperti di film-film. Tapi akhirnya semua jelas—atau malah tidak jelas—setelah seorang sopir bus kenalannya mengingatkan dirinya agar lari dari terminal. “Kamto, kamu cepat pergi dari sini dan sembunyi. Bawa anak istrimu. Sebentar lagi kamu sangat mungkin kena juga,” katanya.
“Kena apa?”
“Petrus.”
“Petrus?”
“Operasi Gali.”
“Hah?”
“Gali gali diburu untuk dibasmi.”
“Hah?”
“Hah heh hah heh! Sudah pergi sana!”
“Aku kan bukan gali.”
“Tapi kamu punya tato.”
“Kenapa dengan tato?”
“Sudah! Jangan banyak tanya. Kalau mau selamat, kamu pergi sekarang dan hapus tatomu.”
Kamto mengamati tato bergambar tengkorak di lengan kanannya. Sambil mengernyit ia kemudian mendekati kaca spion bus dan melihat tato bergambar seekor ular kecil yang melingkari lehernya. Keresahan mulai mengganggu hatinya. Bahkan tak sedikit pun tebersit di kepala Kamto menjadi gali atau preman. Sejak meninggalkan keluarganya di desa, ia sudah memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Dengan memboyong istri dan satu orang anaknya, Kamto nekat pindah kota. Tapi mencari pekerjaan di kota besar memang susah, apalagi hanya dengan bekal ijazah SD. Kamto akhirnya mencoba peruntungan, menjadi calo penumpang di salah satu terminal bus besar di Semarang.
“Salah satu syaratnya, kamu harus punya tato di bagian tubuh yang terlihat,” kata seniornya. “Biar disegani orang.”
Kamto menurut. Yang penting kerja dan dapat uang. Celakanya, alih-alih disegani, tato itu malah membuat Kamto diburu aparat. Baru beberapa bulan menikmati karier yang menurutnya menjanjikan, ia harus menghadapi kenyataan kejam: dicap preman yang meresahkan masyarakat dan harus dibasmi.
Kamto tidak paham mengapa pemerintah begitu biadab terhadap rakyatnya sendiri. Ia merasa tidak pernah memalak, menodong, atau menyakiti orang lain. Semua itu tidak pernah ada di dalam niatnya. Namun kini Kamto harus menerima nasib: diburu oleh negara yang seharusnya melindunginya. Logika bernegara apa ini?
Tibalah sudah Kamto di sebuah pasar tradisional. Malam itu hanya tinggal segelintir penjual yang masih membuka lapaknya, beberapa di antaranya kios kelontong. Tidak banyak pembeli yang berkunjung pada jam-jam tersebut. Kamto berjalan menelusuri gang menuju ke bagian belakang.
Tidak jauh di belakang Kamto, seorang pria bertubuh tegap dan berambut cepak membuntutinya diam-diam. Ia mengintip dari balik tembok ketika Kamto berhenti di depan sebuah kios kosong bekas warung makan yang terlihat sudah tidak terurus. Di situlah Kamto tidur tiga malam ini. Rencananya, ini adalah malam terakhirnya, karena seperti disarankan orang-orang, ia harus berpindah-pindah tempat persembunyian. “Satu lokasi maksimal hanya 2 atau 3 hari,” kata mereka.
Kamto masuk kios tak berdaun pintu itu. Ia menutup pintu masuk dengan papan-papan seadanya, menyisakan beberapa celah yang cukup untuk sinar lampu di sudut pasar meremangi bagian dalam kios. Di dalam ruangan berukuran 3X4 meter tersebut hanya terdapat dua buah bangku dan sebuah meja kayu panjang, serta sebuah etalase makanan yang kacanya pecah di beberapa bagian. Kamto naik ke atas meja dan berbaring. Gara-gara Petrus jam tidurku jadi berubah.
Beberapa meter dari situ, di dalam kegelapan, pria penguntit menunggu beberapa saat sebelum ia kemudian menutup kepalanya dengan topeng kain, menyisakan kedua matanya. Ia memindai situasi sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihat keberadaannya. Diambilnya pistol dari balik jaket hitamnya, lantas ia mengendap perlahan menuju tempat peraduan Kamto, sambil tetap melihat situasi sekitar.
Namun baru saja kakinya mengayun satu langkah, terpaksa ia harus kembali mundur dan bersembunyi. Terdengar suara percakapan dua orang pria yang berjalan mendekati lokasinya sambil membawa dua kardus besar. Keduanya berhenti di kios yang berada tepat di depan persembunyiannya. Pria bertopeng itu hanya bisa menunggu dengan tegang sementara dua pria di depannya sibuk memasukkan barang dagangan di lapaknya.
Hampir 30 menit pria bertopeng itu menunggu dengan jenuh, hampir 20 kali pula ia melontarkan caci maki.
Akhirnya selesai sudah penantian membosankan itu. Kedua pria pemilik kios menutup kiosnya dan beranjak pergi. Pria bertopeng memulai aksinya. Ia berjalan mendekat ke kios persembunyian Kamto, kali ini tanpa hambatan dan ketegangan yang berarti. Di depan kios, perlahan ia mengitip ke dalam. Dilihatnya Kamto meringkuk membelakangi pintu.
Melihat situasinya, sungguh gampang bagi pria itu untuk menembak Kamto. Jarak antara pintu kios dan meja tempat Kamto tidur hanya beberapa jengkal saja. Juga, banyak celah dan lubang di papan penutup pintu. Tinggal memilih celah atau lubang yang tepat untuk membidik tubuh Kamto, lalu menarik pelatuknya.
Namun kenyataannya tidak sesimpel itu. Ada satu hal lain yang membuat situasi itu menjadi lebih rumit. Sesuatu yang sampai sekarang ia rasakan tarik-ulur di dalam hatinya. Sesuatu yang kini membuat tangannya gemetar memegang pistol dan mendesaknya untuk lari saja dari sana secepatnya.
Pria itu menarik napas panjang. Sudah kepalang basah, akhirnya pria itu mencoba menetapkan hati. Ini adalah bukti pengabdianku pada negara.