Keben

hyu
Chapter #8

06

MALAM itu, di dalam tendanya, Jayadi memeriksa kembali kedua sahabat sejatinya dalam melaksanakan praktik petrus 46 tahun lalu: pistol rakitannya dan kain hitam yang ternyata adalah topeng penutup wajah ala ninja. Sebetulnya, Fajar—sang komandan—sudah memberikan pistol standar militer untuk operasi Jayadi, namun Jayadi memilih merakit sendiri senjatanya. Lebih membanggakan, katanya.

Namun kali ini Jayadi memegang kedua propertinya itu setengah ragu, menerbitkan gelombang emosi yang tidak nyaman di dalam dadanya.

“Itu karena kamu menyimpan dan memperlakukan keduanya seperti benda keramat, Jayadi,” suara Keben bertalun di dalam kepalanya.

“Karena memang aku simpan sebagai memorabilia,” jawab Jayadi.

“Coba pikir dan rasakan lagi, apa yang menurutmu layak dikenang. Keputusanmu menjadi petrus justru membuat sahabatmu Kamto terbunuh, dan juga membuat istrimu mati terbebani mentalnya. Jumlah korbanmu yang mencapai 50 jiwa telah membuat keluarga dan orang terdekat mereka mendoakan buruk pada pelakunya—yang itu adalah kamu. Asal kamu tahu, doa ‘buruk’ pun bisa manjur ketika itu diucapkan dengan perasaan di hati yang kuat dan tulus, karena baik dan buruk itu tidak ada bedanya bagi semesta yang sudah punya hukumnya sendiri.

“Atau kamu merasa berjasa telah membuat keluargamu terangkat derajatnya? Itu tidak ada artinya dengan puluhan nyawa yang kamu bantai. Jadi, apa yang kamu banggakan?”

“Oke, oke. Oke, Ben, kamu sudah berhasil meyakinkanku kalau aku salah. Tapi sekarang kenapa di saat aku mau memperbaiki diri, para utusan Tuhan itu—malaikat dan iblis—berlomba memburuku untuk masuk neraka, seolah tidak mau aku jadi orang baik?”

“Pasti mereka punya alasan tersendiri untuk itu.”

“Nah, kamu pun nggak punya jawaban pasti. Jadi, untuk masalah ini biar aku yang menjawabnya. Aku sudah siapkan solusinya.” Jayadi mengatakan ini sambil mengelus-elus Thole.

“Kamu sudah tidak menganggapku soulmate?”

“Aku sedang butuh solusi, dan soulmate-ku tidak bisa memberikan itu. Jadi, untuk kali ini, biar aku yang memutuskan.”

Tidak ada lagi tanggapan dari Keben. Bahkan angin pun tidak menggerakkan dedauannya di atas sana. Jayadi tersenyum puas. Ia selipkan lagi Thole dan topeng kain di bawah bantal lalu menjatuhkan tubuhnya di atas matras. Tatapan matanya menembus atap tenda, mengiringi pikirannya yang tengah menyusun tumpukan rencana.

Kini Jayadi merasakan dunia tidak lagi berpihak padanya, bahkan menjadi medan perburuan bagi dirinya. Ia merasakan adanya kekuatan-kekuatan yang sedang memperebutkan jiwanya, yang celakanya mendompleng pada wajah-wajah yang ia kenal. Nyata terlihat, Arzi, Sylbi, Nuke, hingga presiden, sudah memperlihatkan ancaman-ancaman di depannya. Dan ia yakin bakal ada agen-agen akhirat lain yang akan menyusul turun mengejarnya.

Jayadi membatin, sungguh cerdas siapa pun penguasa akhirat: “bekerja sama” dengan penguasa negeri—yang didukung hampir 100 persen rakyat—untuk membatasi geraknya, dan menggunakan orang-orang terdekat untuk mempersempit ruang hidupnya sehingga mudah dalam mengeksekusi. Jayadi merasa sendiri.

Dengan posisi seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Jayadi selain melawan untuk “mendahului takdir”. Setidaknya, pikirnya, pengalaman di dunia militer, ditambah menjadi petrus, akan—mudah-mudahan—cukup banyak membantu.             

Jayadi mengambil sebuah buku tulis dan mulai menuliskan sederet rencana yang ia sebut sebagai “Operasi Senyap”, operasi yang pernah ia lakukan tanpa membutuhkan banyak pertimbangan menjelimet, hanya keberanian untuk menjebol tembok batas antara hidup dan mati. Dan itu adalah keahliannya. Tahap operasinya: memancing, menguntit, lalu mengeksekusi. Dalam benaknya, inilah cara yang paling jitu untuk menghentikan pengejaran atas dirinya.

Arzi haruslah yang pertama, sebagai terapi kejut buat yang lainnya. Setelah itu, dijamin yang lain akan lebih mudah ditangani: Nuke, Sylbi, atau siapa lagi nanti yang memburunya yang Jayadi belum tahu. Yang perlu dipikirkan tentu saja adalah bagaimana cara menangani Presiden Bahagia yang sudah pasti butuh perencanaan yang tidak main-main. Dan Jayadi tahu diri, ia belum memiliki satu pun rencana atau strategi di kepalanya, meskipun sudah banyak film spionase favoritnya yang bisa ia jadikan inspirasi.

Ini bukan cerita fiksi, Jayadi menggeleng. Nanti lah dipikirkan lagi.

“Ben?” Jayadi mencoba memanggil, tapi tidak ada jawaban dari Keben. Tidak terdengar secuil pun kerisik daunnya meski berkali-kali Jayadi memanggil.

“Sori kalau aku ketus, Ben. Tapi kali ini aku benar-benar butuh masukanmu.”

Sejurus kemudian Jayadi merasakan aliran udara masuk ke dalam tendanya, membuatnya tersenyum senang.

“Jadi, gimana menurutmu, Ben?” tanya Jayadi.  

Lihat selengkapnya