JAYADI membuka matanya dan menyadari ia berada di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, tapi semuanya buram. Yang ia ingat, dalam kondisi setengah sadar, ia tahu Arzi membawanya ke rumah sakit setelah dirinya terjatuh dan punggungnya menimpa dahan kering. Ia tertidur begitu rasa nyerinya hilang setelah dokter dan paramedis dengan cepat menangani cederanya.
Melihat ayahnya terbangun, Arzi yang duduk di samping ranjang langsung mendekat dan memegang lengannya. Jayadi menatap Arzi dengan waspada. Begitu dilihatnya wajah Arzi tidak berubah, ia merasa lebih tenang.
“Sudah boleh pulang?” ia bertanya.
“Sudah. Alhamdulillah hanya cedera ringan. Tumit dan punggung Bapak aman. Hanya luka lecet dan memar.”
“Jadi, tunggu apa lagi? Aku nggak mau tidur di rumah sakit.”
“Sabar, Pak. Aku harus menyelesaikan administrasinya dulu. Lagian, ini sudah jam dua pagi.”
“Memangnya kenapa? Kita kan pulang ke rumah sendiri.”
Arzi menggaruk kepalanya. “Bapak nggak ingat waktu sampai di sini tadi?”
Jayadi mengernyit. “Ingat apa?”
Awalnya biasa saja. Arzi menggandeng Jayadi yang meringis kesakitan memasuki ruang IGD. Ketika seorang pria petugas medis mendekat, tiba-tiba Jayadi mendelik dan menghardiknya. Meskipun terkejut, petugas tersebut mencoba menyambut kedua pria itu dengan ramah.
Tapi Jayadi tidak sudi. Ia menepis tangan petugas tersebut sambil berteriak, “Jangan mendekat, Iblis! Aku nggak mau kau ambil!”
Jayadi meronta dari gandengan Arzi yang kaget melihat polah bapaknya, lalu mencoba lari keluar. Rasa sakit di tubuhnya tidak ia hiraukan. Tapi upayanya gagal karena tangannya ditahan oleh Arzi. Jayadi berteriak dan membentak Arzi yang terus menahan, kali ini dengan mencoba mendekapnya.
Di luar dugaan Arzi, bapaknya ternyata masih cukup kuat untuk memberontak. Ia kembali meronta dari upaya pencekalan Arzi yang beberapa kali terkena sabetan tangan Jayadi.
“Kamu juga mau membunuhku, Arzi? Jangan harap!” teriaknya makin menjadi. Jayadi meraba pinggangnya, tapi ia kecewa karena tidak menemukan anak laki-lakinya, Thole.
“Bapak! Apa-apaan, sih?” Arzi tampak sedikit kewalahan menghadapi Jayadi. Untungnya, seorang petugas keamanan datang membantu. Maksudnya, untung bagi Jayadi, karena ia bisa merebut pentungan sang petugas, lalu memukul membabi-buta. Sambil menangkis, petugas keamanan mencoba merebut pentungan. Lalu sesaat kemudian datang tiga petugas medis turut membantu, membuat pertarungan jadi berat sebelah. Jayadi terdesak dan akhirnya berhasil diamankan—dengan satu suntikan penenang.
*
Pagi itu Jayadi bangun di kamarnya dengan tubuh berbalut ketidaknyamanan—pegal-pegal dan kelelahan—terasa seperti baru saja melakukan aktivitas fisik yang begitu berat. Ia mencoba menggerakkan tubuh untuk bangun, tapi rasanya ada sesuatu yang tak kasat mata mengikatnya di ranjang.
Jadi, inilah akhirnya? Mereka sengaja menghilangkan kekuatan yang dulu aku punya untuk meringkusku. Siapa yang akan lebih dulu menjemputku? Malaikat atau iblis?
Pertanyaan Jayadi terjawab dengan masuknya Arzi. Ah, dia rupanya.
Arzi mendekat ke ranjang dengan membawa semangkuk bubur ayam dan segelas air putih hangat. Ia meletakkannya di atas meja lalu berjalan mendekati ranjang.
Jayadi mengamati gerak-gerik Arzi. Tapi kenapa aku belum mati? Ada yang masih dia inginkan dariku?
“Bapak mau makan sekarang? Ini sudah jam delapan.”
Dia sedang merayu. Aku ikuti saja kemauannya.
“Bubur kesukaan Bapak sudah siap. Nggak enak kalau dimakan dingin loh.”
Tiba-tiba saja perut Jayadi terasa lapar. Ia pun mengangguk. Arzi membantu Jayadi duduk bersandar, lalu menyodorkan minum kepada Jayadi.