Keben

hyu
Chapter #10

08

JAYADI mendengar deru mobil Arzi menjauh dari rumah. Ia membuka pintu kamarnya dan bergegas menuju tenda di bawah Keben. Di sana ia mencari-cari Thole. Tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan hasil nihil di tenda berukuran 2 X 2 meter itu.

Jayadi duduk di atas matras.

“Rasanya aku ingin segera menyudahi sendiri saja masalah ini, Ben. Tanpa bantuan malaikat atau iblis.”

Terdengar gemeresik dedaunan di atas seiring angin yang datang tiba-tiba. Menyusul kemudian suara sesuatu jatuh menimpa tenda dan meluncur di atas tanah.

Jayadi keluar tenda dan melihat satu buah keben tergeletak tak jauh dari tendanya. “Masih hijau dan kecil, Ben, kenapa kamu jatuhkan?” katanya sambil memungut buah tersebut.

Jayadi mengamati buah itu beberapa saat, lalu mendongak dan mencari-cari buah keben yang lain. Tidak satu pun buah kering terlihat di sana. Ia mengangguk-angguk, mengambil pisau, dan menggores-goreskannya di kulit buah itu menuliskan angka 50. “Jadi, kau setuju aku mengakhirinya saja sekarang?”

“Sebaiknya begitu,” Keben bersuara di telinga Jayadi.

“Jadi, Kamto, korban terakhirku—korban ke-50, adalah kunci untuk mengakhiri semua ini?”

“Tepatnya, keluarga Kamto.”

“Keluarga Kamto.”

Jayadi menghela napas lalu duduk di kursi lipat di luar tenda. “Jadi, inikah akhirnya? Tanpa Thole?”

“Untuk mengakhiri ini kau tidak membutuhkannya, bukan? Bahkan tidak hanya Thole, tapi semua benda yang membuatmu terjebak di masa lalu.”

Jayadi merenungi kalimat Keben. “Buatku, masa lalu bisa untuk memperbaiki masa depan.”

“Betul, tapi kau harus pintar menyikapinya. Kalau tidak, masa depan justru akan menjadikan masa paling buruk buatmu.”

Jayadi terdiam sambil memandangi buah keben di tangannya. “Terima kasih, Keben,” ucapnya kemudian, “kamu telah memberiku ide untuk mengakhiri ini dengan caraku. Semoga para pemburuku tidak lebih dulu menjegalku.”

“Tidak akan, kalau kamu pergi dengan membawa buahku. Dia akan melindungimu.”

“Ah, ya, betul juga. Tapi sebelum itu, ada yang harus aku lakukan untukmu, Ben.”

Jayadi beranjak menuju rumah. Berbarengan dengan itu perhatiannya teralihkan dengan suara mesin sepeda motor di luar pagar. Ia menoleh dan melihat seorang laki-laki pengendara sepeda motor berhenti di sana, memperhatikan dirinya. Dari kaca helm yang terbuka, Jayadi melihat wajah itu. Wajah manusia normal, tidak ada mata menyala merah dan taring tajam.

Malaikat pencabut nyawa?

Jayadi tidak gentar. Ia menggenggam buah keben ke-50 dan mendekat ke pagar, diiringi tatapan mata laki-laki itu. Jayadi membalas tatapannya sambil terus berjalan mendekat. Persis ketika Jayadi membuka pintu pagar, pengendara motor itu melarikan tunggangannya pergi.

Cuma begitu saja?


*

 

Lihat selengkapnya