Keben

hyu
Chapter #11

09

KENAPA kamu nggak pernah cerita semua ini, Mbak?” tanya Arzi sambil menatap Sylbi dengan ekspresi kecewa.

Sylbi tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah amplop kertas di balik tumpukan dokumen. “Ibu tidak meninggal begitu saja. Ia menulis wasiat untuk kita. Ini,” katanya sambil memberikan amplop itu kepada Arzi.

“Surat ini aku temukan di gudang bersama tumpukan dokumen itu ketika Bapak merenovasi rumah, sehari setelah aku menerima gaji pertamaku,” Sylbi melanjutkan. “Ini yang menyebabkan aku marah lalu mengantar Bapak ke rumah kalian.”

Arzi dan Nuke membaca bersama.


Sylbi dan Arzi sayang,

Maaf Ibu akhirnya harus menceritakan ini semua. Sebenarnya Ibu tidak ingin, tapi Ibu lebih tidak ingin kamu tahu semua rahasia ini dari orang lain, dan malah membebani Ibu di surga.        

Selama ini, di sepanjang perjalanan hidup bersama Bapak, tanpa disadari Ibu telah menumpuk luka, yang sebenarnya terlalu tajam untuk disampaikan kepada kalian. Tapi kalian memang harus tahu ini, karena belajar tidak harus selalu dari hal-hal yang baik, bukan?

Ibu sengaja mengumpulkan dokumen ini sebagai bukti yang bisa kalian pelajari. Betul, bapakmu adalah seorang—maaf kalau Ibu menyebutnya—"algojo negara”. Secara aturan, Bapak tidak salah, sebab negara yang memberinya tugas itu, meski tanpa hukum yang jelas. Tapi secara naluriah, ini jelas tidak bisa diterima.

Ibu dan Bapak sering bertengkar atas keputusannya mengambil profesi itu. Dan yang membuat Ibu marah, dia baru mengaku itu setelah korbannya mencapai belasan jiwa. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana Bapak sampai hati menghabisi nyawa orang seperti dialah yang punya hak atas hidup orang lain. Bayangkan, Ibu menikah dengan seorang pembunuh berantai!

Celakanya lagi, profesi Bapak itu telah mengubah karakternya, pelan tapi pasti. Dia tidak pernah mau mendengarkan kata-kata dari Ibu, sering memaksakan kehendak, bahkan mengancam membunuh Ibu ketika marah-marah. Dan ketika akhirnya Bapak memutuskan mundur dari profesinya, semua sudah terlambat. Bapak tidak pernah bisa berubah. Ibu juga yang salah karena terus mendesaknya.

Ibu terlambat menyadari bahwa Ibu tidak bisa mengubah Bapak ketika Ibu sampai di akhir ajal. Yang Ibu bisa ubah hanyalah cara pandang Ibu kepada Bapak. Dari situ Ibu baru paham bahwa Ibu pun telah berperan dalam membentuk Bapak: melayani egonya dengan ego Ibu, memaksakan kehendak Ibu, dan membalas kemarahannya dengan kemarahan Ibu. Ibu lupa bahwa dalam membangun hubungan ada satu modal penting yang harus tetap dijaga, yaitu cinta. Inilah yang telah Ibu abaikan selama ini.

Jadi, Sylbi, inilah pesan Ibu untukmu dan juga untuk Arzi adikmu. Jangan benci Bapak, tapi sebaliknya: temani. Jangan sirami dia dengan kemarahanmu, tapi sebaliknya: dengan cintamu.

Cinta. Itulah yang kamu dan Arzi harus tetap nyalakan di dalam rumah ini. Karena Ibu telah gagal memberi cinta kepada Bapak, maka Ibu memohon pada kalian untuk meneruskan cinta Ibu kepada Bapak. Ibu yakin, inilah alasan Tuhan menghadirkan kalian di dunia. 

Hanya dengan begitu Ibu akan damai tinggal di surga. Tapi jangan khawatir, Ibu akan titiskan damai ini kepada kalian. Ibu akan pindahkan surga Ibu… di hati kalian.

 

Peluk mesra,

Sayekti

           

Nuke mengelap matanya yang mulai membasah. Ia melirik Sylbi, bersamaan dengan Arzi yang menyatakan ketidakpercayaannya, “Lalu kenapa kamu tidak menjalankan wasiat Ibu ini?”

“Ada banyak pertimbangan di hatiku, tapi yang paling kuat adalah karena aku terlalu lemah. Ibu yang mengalami itu, tapi akulah yang trauma. Ini sebabnya sampai sekarang aku tidak ingin menikah.

“Begitu aku mengetahui fakta tentang Bapak lewat surat Ibu ini, berbagai perasaan menyerbu dadaku. Marah, kecewa, sedih, dan takut. Tapi di sisi lain lain aku harus menjalankan pesan Ibu untuk menemani Bapak. Aku sempat depresi menghadapi dilema itu. Bayangkan, bagaimana aku harus mengatasi berbagai perasaan itu kalau setiap hari selalu bertemu dengan Bapak.

“Ketika Ibu memintaku memberikan cinta kepada Bapak, justru di situlah cintaku seketika berubah menjadi amarah dan kebencian. Makanya, aku menitipkan Bapak padamu dan sengaja menutup rapat-rapat rahasia Bapak. Aku tidak ingin kamu membenci atau marah pada Bapak. Kamu masih punya cinta itu, sehingga potensi untuk memulihkan Bapak seperti pesan Ibu masih besar di tanganmu.”

Arzi menatap Sylbi kesal. “Aku kecewa padamu, Mbak,” katanya. “Kalau kamu bilang dari dulu mungkin Bapak tidak seperti sekarang ini. Aku dan Nuke pasti akan mencari solusi.”

“Kamu bisa menjamin itu? Dengan kamu tidak tahu saja Bapak jadi begini, bagaimana kalau kamu tahu?”

“Tapi kan solusinya pasti berbeda, dong. Kamu terlalu egois dan meremehkan aku, Mbak!”

Nuke menggenggam tangan Arzi, dengan mata masih menatap Sylbi. “Jadi sekarang kamu masih marah pada Bapak, Mbak?” ia menyela.

Sylbi mendesah. “Jujur, masih. Tapi aku ingin Bapak sembuh.” Matanya mulai berair.

Lihat selengkapnya