PAGI itu, seperti biasa, matahari muncul dengan wajah perkasa. Awan-awan di ufuk timur menyingkir membuka jalan tanpa hambatan bagi sinarnya yang meluncur ke pekarangan belakang rumah Arzi, seakan sengaja ingin mengeringkan sisa-sisa hujan semalam.
Arzi mengintip keluar dari jendela. Pepohonan di pekarangan belakang rumah tampak masih tertunduk lesu setelah semalaman disirami air langit. Tapi tidak bagi Keben yang masih menunjukkan kuasa atas wilayahnya. Dedaunannya yang rimbun disangga ranting dan batang yang kokoh membuatnya makin tampak agung.
Tapi Arzi tidak melihat tanda-tanda kehidupan di bawah Keben. Pada jam yang sama di hari-hari sebelumnya, Jayadi biasa melakukan aktivitas di sana. Membersihkan sampah dari dedaunan dan bunga-bunga kering serta menyirami tanaman-tanaman lain di sekitarnya. Namun hari ini Arzi masih melihat sampah-sampah pepohonan itu berserakan di seluas pekarangan. Bahkan, ketika ia memperkuat pandangannya ke pintu pagar pelindung Keben, satu buah keben yang jatuh tertancap di pagar duri masih terlihat di sana.
“Bapak belum bangun?” Nuke datang mendekati Arzi dan ikut memandang ke luar.
“Mungkin. Aku tidak melihat tanda-tandanya.”
“Tapi sudah jam segini loh, Mas. Kamu nggak merasa ada yang aneh?”
“Sekarang keanehan Bapak sudah menjadi hal biasa bagiku.”
Pembicaraan mereka terputus ketika terdengar teriakan Sylbi memanggil dari luar kamar. Arzi dan Nuke keluar dan terkejut melihat Sylbi dan Aya menyiapkan sarapan di meja makan.
“Aku bantuin tante Sylbi masak loh, Ma,” sapa Aya minta dipuji.
Nuke memuji dan mengucap terima kasih kepada Aya sambil mengelus kepalanya. “Pa, anakmu hebat bener sih?” kata Nuke pada Arzi.
“Lah, baru tahu?” balas Arzi sambil terkekeh.
Sylbi menimpali, “Itu berkat nama yang kalian berikan. Cahaya Cinta, makanya hatinya selalu bercahaya penuh cinta.”
Semua tertawa, kecuali Aya yang tersipu malu.
“By the way, kalau nama kalian artinya apa sih sebenarnya? Ilsa Liarzi dan Sylbi Kanna? Nama yang aneh.” Ini Nuke yang bertanya pada Sylbi dan Arzi.
Arzi dan Sylbi saling berpandangan lalu tersenyum penuh rahasia.
“Eh, tapi jangan dijawab dulu. Aku akan mengantarkan sarapan buat Bapak,” cetus Nuke.
“Biar aku saja,” Sylbi menyergah. Arzi setuju.
Sylbi meninggalkan mereka menuju ke ‘rumah’ Jayadi. Ia berpikir, ini waktu yang tepat untuk ngobrol lebih dalam dengan ayahnya. Ia tahu, pada pagi hari tubuh sudah siap dengan energi baru. Ditambah, sinar matahari yang menyehatkan dengan merangsang tubuh memproduksi serotonin, akan membuat suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Jayadi pasti akan menerimanya dengan emosi yang lebih tertata.
Sayangnya, harapan Sylbi mandek terbentur pagar kayu. Tidak ada yang menerima, bahkan merespons panggilan Sylvi dari luar pagar. Sylbi memberanikan diri membuka palang pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu masuk ke dalam tenda. Dan ia tidak menemukan Jayadi di sana.