BEGITU membuka mata Jayadi langsung merasakan nyeri di kepala bagian belakang. Ia baru menyadari tubuhnya tidak bisa digerakkan ketika hendak meraba kepalanya. Ternyata kedua tangannya terikat di belakang. Ia merasakan, kedua pergelangan kakinya juga terikat di kaki-kaki kursi dengan lakban, begitu juga mulutnya—dibekap dengan lakban hitam.
Jayadi mengumpulkan kesadaran untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ingatannya terkuak perlahan, bahwa ia telah disergap seseorang sebelum akhirnya hilang kesadaran setelah kepala bagian belakangnya dihantam benda keras ketika ia mencoba berontak.
Jayadi melihat sekeliling. Tampak segala macam barang bekas dan rusak yang tergeletak begitu saja di seluruh sisi ruangan. Sinar matahari yang masuk melalui celah dinding kayu menampakkan dengan jelas debu-debu di permukaan barang-barang dan sarang laba-laba di beberapa sudut. Beberapa langkah di depannya terdapat satu pintu dan satu jendela yang semua tertutup.
Sekarang, iblis mana lagi yang malah menyekapku di gudang, bukan di neraka?
Jayadi segera mendapatkan jawabannya. Pintu gudang terbuka. Dengan mata memicing Jayadi melihat siluet seorang laki-laki berdiri di ambangnya. Jayadi baru bisa melihat muka laki-laki tersebut setelah ia menutup pintu dan mendekat ke arahnya. Ia menaksir usia laki-laki itu: dari wajahnya, usianya pasti puluhan tahun di bawahnya. Masih muda. Tapi ia tidak melihat ekspresi kebencian atau kemarahan di wajah itu. Sebaliknya, mukanya mengesankan pria baik-baik. Tatapan matanya meneduhkan, meski bibirnya tidak menampakkan senyum. Bentuk wajahnya membulat dengan garis rahang yang tidak bersudut tajam.
“Selamat siang, mmm… saya harus memanggil apa? Kakek? Atau Mbah saja? Mbah Jayadi,” sapanya ramah. Sama sekali tidak terlihat di mata Jayadi kalau karakternya antagonis.
Malaikat memang berbeda dengan iblis.
Tiba-tiba mata Jayadi membelalak. Sebuah ingatan keluar dari kotak penyimpanan di otaknya. Jayadi meronta dan mencoba berteriak. Tapi hanya wajahnya yang terlihat menjerit merah.
“Ya, betul, Mbah. Saya yang kemarin berhenti di depan rumahmu,” sahut pemuda itu.
Jayadi terus meronta. Dari bibirnya keluar suara tidak jelas yang tertahan.
“Mbah Jayadi mau ngomong sesuatu? Baik.” Pemuda itu mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menunjukkan ke Jayadi yang kontan menghentikan gerakannya. Bukan karena takut, tapi karena dilihatnya Thole ada di tangan si penyerang.
Pemuda itu mendekati Jayadi. “Tapi janji jangan berteriak ya, Mbah,” katanya sambil mengetuk-ngetuk pelan laras pistolnya ke pundak Jayadi. Ia lalu menarik lepas lakban yang menutup mulut Jayadi.
“Thole…,” itu adalah kata pertama yang terucap dari mulut Jayadi.
Si penyerang mengernyit karena teringat sesuatu. Ia melihat gagang pistol yang ia pegang dan menemukan kata yang disebutkan Jayadi itu.
“Ha! Jadi ini pistol milikmu, Mbah? Yang digunakan untuk mengeksekusi korban-korbanmu? Wow, kebetulan sekali.”
“Dari mana kamu mendapatkan Thole?”
Pemuda itu menyondongkan kepalanya ke arah wajah Jayadi dan menjawab pelan, “Dikirim oleh semesta yang ternyata berpihak padaku.”
“Kamu… kam, kam…,” Jayadi terbata-bata setengah mendesis begitu si penyerang kembali ke posisinya.
“Kenalkan, saya adalah malaikat pencabut nyawa Mbah Jayadi. Dan saya berterima kasih karena Mbah datang sendiri ke sini, jadi saya tidak perlu susah payah menjemput di rumahmu. Sekali lagi, semesta ternyata merestui aksiku.”
Jayadi masih menatap pemuda itu, tepatnya di bagian leher dan lengan kanannya. Jelas terlihat tato ular melingkar di lehernya dan tengkorak di lengan kanannya.
“Tidak… salah lagi,” kata Jayadi dengan napas yang memburu dan jantung berdegup kencang.