Beberapa tahun silam.
SEPERTI biasa, seusai rapat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Galen mengajak sahabatnya, Pram, makan siang di kantin. Galen merasa, obrolan siang itu bakal seru. Galen termasuk salah satu aktivis keras di kampusnya. Idenya mengajak mahasiswa melakukan kampanye tentang “Indonesia tanpa Parpol” ditanggapi dengan antusias oleh seluruh anggota BEM. Pram, sebagai Ketua BEM, apalagi, sangat mendukung ide sahabatnya itu.
“Itu betul banget,” kata Pram mengulang pembahasan di rapat sambil menyantap makanannya. “Memang sistem multipartai di Indonesia itulah yang memudahkan munculnya politik transaksional dan tarik-menarik kekuasaan.”
“Yes. Jadinya itu melemahkan komitmen pemerintah terhadap penegakan HAM. Lihat saja, kasus kejahatan HAM masa lalu nggak kelar-kelar,” sahut Galen. “Dan nggak cuma itu. Pelanggaran-pelanggaran baru bakal terus terjadi seperti belakangan ini, kan?”
Pram mengangguk-angguk. “Jadi kamu sudah punya daftar narasumber yang nanti akan kita undang untuk berdiskusi di podcast kita?”
“Sudah, dong. Aku juga sudah rencanakan media apa saja yang akan kita gunakan untuk kampanye nanti.”
“Cakep, Gal. Aku nanti yang akan mengajak BEM-BEM seluruh Indonesia untuk ikut mendukung kampanye kita ini.”
“Semoga ketika pemilu nanti kita bisa punya calon presiden yang benar-benar komit soal ini ya, Pram.”
“Menurutmu, BHG nggak masuk kriteria?”
“Bagus Harja Giatama? T*ik dia!”
Keduanya terbahak-bahak.
Seperti perkiraan Galen, obrolannya dengan Pram siang itu sungguh mengenyangkan. Mereka membahas deretan dugaan pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh negara dan tidak terselesaikan, korban-korban kejahatannya, hingga dampaknya pada rakyat.
“Oh ya,” kata Pram di tengah pembicaraan seru, “kalau mau, aku punya bahan untuk dibahas di podcast. Ini berkaitan dengan pelaku pelanggaran HAM masa lalu, meski hanya pelaku di lapangan.”
“Ah, serius? Kasus apa?”
“Kamu kenal Danti anak Teknik Informatika, kan?”
“Yang kakeknya purnawirawan TNI?”
“Almarhum,” Pram meralat.
“Ya. Almarhum. Memangnya ada apa dengan dia?”
Pram mendorong kepalanya mendekati Galen lalu berbisik, “Harusnya pertanyaanmu adalah ‘ada apa dengan kakeknya’.”
Galen membelalak. “Maksudmu... kakeknya itu pelaku?”