Keben

hyu
Chapter #15

13

MESKI Nuke sudah menyiapkan menu santap siangnya di meja, Sylbi terlihat tidak punya selera, sekalipun untuk meliriknya. Duduknya gelisah. Wajahnya tegang memandang ke luar jendela, menatap Keben yang terkurung pagar kayu buatan Jayadi.

Arzi, sambil menyantap makanannya, melirik Sylbi. Ia tahu kakaknya itu sedang menyesali diri, dan ia membiarkannya begitu.

Sylbi berdiri dan melangkah mendekati jendela. Dilihatnya pintu pagar halaman belakang dengan harap-harap cemas, berharap sosok bapaknya muncul di sana dan melambaikan tangan kepadanya. Kalau itu benar-benar terjadi, Sylbi memastikan diri akan berlari mendekat dan memeluknya erat.

“Mbak, makan dulu, deh,” tukas Nuke yang melihat kakak iparnya gelisah.

“Iya, Tante. Nanti perutnya sakit loh,” Aya menimpali.

Sylbi mendekat ke meja makan. Namun alih-alih merespons mereka berdua, Sylbi mencecar Arzi. “Zi, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Bapak? Kapan kita akan mencarinya? Dan ke mana kira-kira?”

Arzi menelan makanan yang ada di mulutnya sebelum menjawab, “Mbak, Bapak itu mantan tentara. Dia pasti paham bagaimana menghadapi berbagai macam situasi.”

“Tapi Bapak sudah tidak seperti dulu, Zi. Apalagi dengan kondisi mentalnya seperti itu.”

“Ya sudah, tenang saja, Mbak,” Nuke menimpali. “Nanti kita cari. Ini baru setengah hari. Aku yakin Bapak juga tidak akan bisa meninggalkan Keben lama-lama.”

Tiba-tiba Arzi menghentikan makannya, lalu berdiri. “Ah, ya. Mumpung Bapak sedang pergi, aku akan urus dulu pohon itu.”

Nuke meraih tangan Arzi, mencoba menahannya. “Kamu yakin, Mas?”

“Maksudmu? Kita kan sudah sepakat tadi.”

“Nggak tahu, deh. Rasanya kok tiba-tiba ada yang memberatkan di sini,” kata Nuke sambil menunjuk dadanya. 

“Sayang, Bapak jadi begini kan sejak ada pohon itu. Dan makin pohon itu tumbuh membesar, makin parah kondisi mental Bapak. Bapak pasti sering kena racun keben, karena dia setiap hari ada di bawahnya.”

“Mmm…. aku kok nggak yakin.”

“Begini,” kata Arzi, “katakanlah memang bukan pohon itu penyebabnya. Tapi faktanya pohon itu makin besar dan makin tua. Memang pada akhirnya harus dimatikan daripada roboh menimpa rumah, kan?”

Nuke terdiam, lalu melirik Sylbi minta dukungan. Tapi Sylbi terlihat sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.    

Arzi memegang tangan Nuke dan berucap, “Sayang, ingat pesan Ibu, kan? Dia berharap kita memberikan cinta kita kepada Bapak. Dan ini adalah salah satu bentuk cintaku pada Bapak.”

“Arzi,” kata Sylbi memotong, “kita nggak lapor polisi saja?”

“Percuma. Kalau nggak ada tanda-tanda kejahatan atau bahaya, laporan orang hilang baru akan ditindaklanjuti setelah 24 jam.”

“Jadi gimana ini?”

“Begini saja. Setelah aku selesaikan urusanku dengan pohon itu, kita akan cari Bapak. Oke?”

Tak ada jawaban dari Sylbi dan Nuke, dan Arzi menganggap itu artinya mereka setuju. Arzi meninggalkan mereka untuk menuju ke lemari penyimpanan perkakas di dalam garasi mobil. Tidak lama kemudian ia keluar garasi dengan membawa sebuah bor tangan dan sebuah botol yang sudah ia isi dengan campuran solar dan bahan kimia pembunuh kayu.

Saat itu langit mulai mendung, menutup matahari yang sebelumnya menyalak galak dengan sengatan teriknya. Arzi masuk ke dalam ‘benteng’ kayu dan berjalan mengelilingi Keben sambil memeriksa rimbunnya dedaunan di atas. Embusan angin menggoyangkan dedaunan dan menciptakan gemeresik yang khas. Namun begitu beberapa buah keben terlihat tenang di sana-sini, seakan sedang mengawasi gerak-geriknya. 

Arzi berhenti setelah melihat sebuah lekukan yang cukup tersembunyi di bagian bawah batang pohon. Ia berjongkok lalu melakukan aksinya: menyalakan bor dan melubangi lekukan tersebut dengan arah 45 derajat ke bawah. Setelah itu ia menuangkan cairan kimia dari dalam botol ke dalamnya. Terakhir, ditutupinya lubang dengan kulit kayu yang ia kopek dari bagian lain batang pohon dengan pisau.

Lihat selengkapnya