Keben

hyu
Chapter #16

14

ARZI, dengan wajah tegang, mendengarkan pemaparan Nuke akan penemuannya di kamar Jayadi melalui pelantang suara ponselnya. Sylbi begitu pun. Setengah hari sudah mereka menjelajah tiga kampung untuk mencari Jayadi, dan tiada hasil yang mereka dapat. Namun dengan penemuan Nuke ini, mereka seperti mendapatkan angin segar, tepat setelah matahari menyusup di ufuk Barat.

“Kamu sudah catat alamatnya, Mbak?” tanya Arzi kepada Sylbi yang mengangguk cepat sambil menunjukkan catatan di ponselnya. 

“Kita langsung ke sana sekarang.”

Dengan gaya menyetir Arzi yang berhati-hati dan banyak melewati jalan-jalan kampung yang sempit, jarak rumah Kamto yang hanya sekitar lima kilometer dari tempatnya berada ditempuh dalam waktu 20 menit.

Mobil Arzi berhenti di sisi jalan depan sebuah rumah kecil sederhana bercat krem yang lapisan catnya sudah mengelupas di sana-sini dan atap gentingnya menghitam digerus cuaca. Rumah itu mempunyai halaman kecil yang hanya diisi dengan satu pohon rambutan dan tanaman dalam pot yang sebagian sudah pecah dan dikitari oleh tumbuhan liar.

Setelah memastikan nomor rumahnya seperti yang diberitahu oleh Nuke, Arzi mengajak Sylbi turun.

“Sebentar,” sergah Sylbi.

“Ada apa?”

“Aku ada ide, mumpung kita ada di sini, bagaimana kalau kita mewakili keluarga Jayadi minta maaf kepada keluarga Kamto—siapa pun yang kita temui nanti—atas peristiwa Petrus yang membuat Bapak menjadi eksekutor Kamto?”

“Maksudmu, kita akan mengaku bahwa Bapaklah pembunuh Pak Kamto dan kemudian minta maaf?”

“Ya.”

“Mbak, Petrus itu adalah peristiwa sensitif untuk para korban. Bayangkan sebuah balon berisi amarah dan dendam milik korban yang terus ditiup dan ditekan ke bawah selama puluhan tahun. Lalu, tiba-tiba seseorang datang mengaku sebagai pelaku dan minta maaf. Itu sama saja dia menusuk balon dendam itu dengan sebuah jarum. Reaksinya, pasti meledak.”

“Tapi coba pahami arti kalimat Bapak yang ditulis di belakang foto Kamto: ‘Aku sudah menyiapkan diri untukmu, Kamto’? Bapak menyiapkan diri untuk apa? Minta maaf, atau sebaliknya, menghabi….”

“Hus! Bapak tidak seperti itu.”

“Arzi, Bapak sedang tidak stabil. Ingat kejadian di rumah sakit yang kamu alami?”

Arzi terdiam.

“Bisa jadi Bapak merasa terbebani dengan pikiran itu,” Sylbi melanjutkan. “Mau minta maaf takut, tapi kalau nggak minta maaf, ia harus menanggung beban dosa yang besar.” 

“Lalu solusinya dengan menghabisi seluruh keluarga korban sekalian?”

“Sekali lagi, kondisi mental Bapak sedang tidak stabil. Bagi orang seperti itu, solusinya adalah tindakan yang paling cepat dan gampang. Dan dari dua pilihan yang ada, tindakan minta maaf itu lebih berat dan sulit.”

“Sudahlah Mbak, kita lihat nanti saja. Apa pun solusi yang dipilih Bapak, sekarang makin cepat ketemu Bapak, makin baik.”

Sylbi setuju. Mereka pun turun dari mobil dan mendekati rumah tersebut. Dua jendela depannya terlihat terbuka, sementara pintunya tertutup rapat. Arzi mengetuk, dan tidak lama kemudian seorang perempuan renta muncul menyambut mereka. Ranum.

Sylbi menatap perempuan itu. Perawakannya kurus sehingga mempertajam kerutan-kerutan di sekujur kulitnya. Wajahnya tirus dengan pipi cekung dan rambut memutih. Meski begitu secara fisik ia masih terlihat sehat di usianya. Sylbi membatin, kalau ibunya masih hidup saat ini, ia akan persis seperti perempuan di depannya itu.

“Selamat malam, Bu,” kata Arzi, “maaf mengganggu. Saya Arzi dan ini kakak saya, Sylbi. Kami adalah anak-anak Pak Jayadi. Ibu pasti mengenalnya.”

Ranum mengernyit sambil mengamati kedua orang di hadapannya. Hanya sesaat, lalu tersenyum. “Astaga. Saya sungguh tidak menduga. Anak-anak Mas Jayadi?” katanya.

Setelah saling bersalaman dan berkenalan, Ranum mengajak Arzi dan Sylbi masuk rumah. Mereka duduk di area yang rupanya berfungsi sebagai ruang tamu. Area itu diisi dengan satu set meja kursi kayu klasik berukir dengan bantalan busa yang sudah menipis dan warna sarung yang sudah memudar.

Begitu masuk, perhatian Arzi dan Sylbi teralihkan ke salah satu sisi dinding. Di sana terpasang sebuah foto besar Kamto dan Ranum muda saat di pelaminan. Di samping foto itu terpampang pula foto Ranum bersama seorang wanita muda yang menggandeng tangan seorang bocah laki-laki.

“Itu anak saya Lestari dan anak satu-satunya Galen,” Ranum menjelaskan.

“Oh, memang di mana anak Ibu sekarang?” tanya Sylbi.

“Ceritanya panjang. Tapi sekarang saya hanya tinggal berdua dengan cah bagus Galen di rumah ini.” Dengan sebutan cah bagus, Ranum ingin menunjukkan bahwa Galen adalah anak yang baik. 

“Itu foto tahun berapa, Bu?” Arzi bertanya.

“Wah, nggak tahu kalo soal tahun. Yang jelas sekarang Galen sudah lulus kuliah. Berarti umur berapa itu ya?”

“Di atas 20 pastinya, Bu.”

“Ya, begitulah. Oh ya, kalian mau minum apa?”

“Nggak usah repot-repot, Bu,” sahut Sylbi. “Kami hanya sebentar saja, menjaga silaturahmi. Dan yang penting kami tahu Ibu masih sehat. Bapak pasti senang mendengarnya.”

Ranum tersenyum. “Oh ya, Mas Jayadi apa kabar?”

Lihat selengkapnya