Keben

hyu
Chapter #17

15

KONDISI pasar tradisional tempat Jayadi menghabisi nyawa Kamto puluan tahun lalu sekarang sudah jauh berbeda. Bukan lebih bagus, tapi sebaliknya, lebih terbengkalai. Beberapa tahun lalu pasar itu—seperti juga pasar-pasar tradisional lain yang akan disulap menjadi pasar modern—terbakar habis. Dan tak lama kemudian, di bekas area pasar berdiri sebuah pasar modern yang lebih bersih dengan nama megah: Pasar Modern Bintang Plaza. Namun sayangnya, para pedagang sudah tidak mau lagi membuka usaha di pasar baru tersebut. Mereka sudah kadung menyesap trauma di tempat itu dan memiliki zona nyamannya sendiri di lokasi lain. 

Hanya segelintir pedagang saja yang masih mau menempati kios-kios yang tersedia. Tapi akibatnya, pengunjung pasar pun makin lama makin menyusut karena tidak banyak pilihan barang yang dijual. Segelintir pedagang itu pun akhirnya menyerah dan berpindah ke lokasi lain yang lebih menjanjikan.

Kini, pasar itu tampak tidak terurus. Berdiri kaku seperti bangkai raksasa yang termakan masa. Temboknya dipenuhi noda-noda hitam akibat hujan dan debu yang menumpuk bertahun-tahun. Pun papan nama di bagian depan pasar—kusam akibat dipenuhi karat dan menghitam di beberapa bagian. Sejumlah noda hitam menutupi beberapa huruf pada nama pasar dan menyisakan sebagian yang ada, sehingga membuat bergidik orang yang membacanya: PASAR MODERN BIN**** **AZA.

Situasi jalanan di depannya seakan mendukung suasana apokaliptik tersebut. Hanya satu-dua kendaraan terlihat melintas dengan kecepatan tinggi, seolah takut melewati area itu. Beberapa lampu jalan terlihat mati, namun cukup untuk menerangi dua buah mobil pick up yang diparkir berjauhan di sepanjang jalan itu.

Kondisi fisik yang berbeda ditunjukkan oleh area di seberang pasar. Di sana terdapat sebuah kompleks ruko, berisi tujuh ruko dua lantai yang sepertinya seluruhnya sudah terisi—terlihat dari papan nama di depan masing-masing ruko yang masih bersih.

Namun demikian, malam hari membuat suasana di area tersebut terasa sama saja: senyap dan gelap, membuat siapa pun tidak sudi mendekat.

Begitu juga sebenarnya Arzi dan Sylbi yang memarkirkan mobilnya di area parkir depan ruko.

“Kamu mencium bau pandan, Zi?” tanya Sylbi setelah turun dari mobil.

“Ya.”

“Bikin merinding saja. Suasananya begini pula.”

“Ya, tapi itu mungkin datang dari area hijau yang ada di belakang ruko. Pasti banyak tanaman pandan liar di sana.”

“Iya, sih. Tapi entah mengapa setiap kali melewati daerah ini aku merasakan hawa nggak nyaman.”

“Sama. Dan sekarang rasanya makin kuat karena kita tidak hanya melintas, tapi mengunjunginya.”

“Dan ditambah karena ketakutan akibat pikiran kita yang menduga Galen sedang berbuat sesuatu pada Bapak.”

Mereka kini berdiri di depan kompleks ruko itu. Waktu baru menunjukkan pukul 19.30, tapi semua toko sudah tutup. Mereka mengamati satu per satu papan nama yang ada. Dari toko kelontong, laundry, warung kopi, pet shop, hingga optik, tak satu pun toko yang namanya menunjukkan usaha bidang kreatif. Hanya ada satu toko yang tampak berbeda, posisinya ada di paling ujung sisi timur. Toko itu tidak memiliki papan nama.

“Kemungkinan toko itu baru mulai disewa tapi belum aktif,” Arzi menebak. “Sehingga kalau merunut kata Bu Ranum, kita boleh menduga kalau toko itu milik Galen.”

Sylbi hanya berdeham.      

“Mbak, senjatamu sudah dibawa?” tanya Arzi sambil mengangkat kunci setir mobil yang dibawanya.

Sylbi mengangguk sambil menunjukkan sebuah semprotan merica di tangannya. “Kamu yakin Galen melakukan itu, Zi?”

Sambil berjalan Arzi menjawab, “Untuk saat ini, meyakini kemungkinan terburuk adalah pilihan terbaik kita.”

Mereka tiba di depan toko tanpa nama itu. Pintu gesernya tertutup, tapi menyisakan celah sempit di tengah, yang dari sana terlihat tanda-tanda bahwa lampu di dalam menyala. Arzi melihat situasi sekitar, lalu mengintip ke dalam. Tapi ia hanya melihat pintu kaca, dan di balik pintu kaca itu terlihat sebuah partisi yang menutupi ruangan bagian dalam.

Lihat selengkapnya