DENGAN penerangan senter dari ponsel, Arzi dan Sylbi menelusuri lorong demi lorong di dalam pasar sambil mencari kemungkinan tanda-tanda kehidupan di sana. Perjalanan mereka diiringi aroma lembap dari tembok yang terus-menerus mengembun dan sesekali berpadu dengan bau khas logam berkarat. Sylbi bahkan sontak menutup hidung ketika mereka melewati bekas los sayuran dan daging, karena aroma jamur dan bau busuk terasa begitu pekat. Sesekali mereka menghindari genangan air di lantai berlumut yang datang dari atap yang tak hanya berlubang tapi menganga lebar di beberapa titik.
Meski kondisi lingkungannya seperti itu, suasananya tak pernah benar-benar sunyi. Suara-suara yang bersumber dari para penghuni tetap pasar terdengar saling bersautan. Dari jangkrik, tokek, cicak, hingga kepakan sayap burung yang bersarang di langit-langit. Suaranya alami, tapi terasa menakutkan ketika terdengar di tengah kegelapan yang menusuk.
Hampir setengah jam kemudian, perjalanan Arzi dan Sylbi berakhir di bagian paling belakang pasar, setelah tidak menemukan yang mereka cari. Di sana terlihat sederet kios dengan kondisi seragam: tertutup rapat dengan rolling door yang berkarat dan rapuh. Tapi di antaranya ada satu kios yang terbuka. Kakak beradik itu mendekat dan meneranginya. Bagian dalam kios itu tampak rusuh—etalase kaca pecah, manekin-manekin menghitam kulitnya dan saling tindih, kardus-kardus yang basah dan lapuk tergeletak di sebarang tempat, dan sebuah kursi berkarat terjungkal di tengah-tengah ruangan, tertutup sebagian oleh kain-kain bekas yang sudah berjamur.
Mereka segera beralih ke kios lain. Dan hingga sampai di ujung dereten kios paling belakang itu, mereka tidak menemukan apa pun yang layak dicurigai sebagai tempat persembunyian atau penyekapan.
“Apakah dugaan kita memang salah?” tanya Sylbi, lebih kepada diri sendiri.
Namun Arzi masih tetap yakin bahwa Galen ada di suatu tempat di dalam pasar mati ini. “Oke, sambil berjalan menuju pintu keluar, kita akan telusuri sekali lagi lorong-lorong yang telah kita lewati. Tapi kali ini dengan memasang lebih kuat lagi semua indra kita, termasuk indra keenam,” katanya.
Sylbi menurut. Ia mengawali langkahnya dengan sebuah desahan ketidakyakinan. Dua-tiga lorong kios kembali mereka lewati, dan Sylbi kini merasa dialah yang sedang diawasi oleh ‘kios-kios hantu’ yang berderet di samping kanan-kirinya. Ia merasa bulu kuduknya meremang.
Beberapa kali Sylbi mendesah, tapi kali ini bukan karena tidak yakin, melainkan karena ia mulai merasakan kakinya berat untuk diayunkan akibat gelombang lelah dan pegal yang perlahan menjalari seluruh tubuhnya.
Sylbi baru saja hendak meminta Arzi yang berjalan mendahuluinya untuk beristirahat sejenak ketika tiba-tiba ia berhenti mendadak, membuat Sylbi nyaris menabrak tubuhnya.
Arzi memberi isyarat kepada Sylbi untuk tidak bersuara, sambil menunjuk sebuah kios di deretan sebelah kanan mereka. Kios itu terlihat berbeda dengan kios-kios lain di sekitarnya. Temboknya memang berjamur dan pintu gulungnya berdebu dan berkarat, layaknya bangunan yang lama tidak dihuni. Namun mata Arzi dengan jeli menangkap hal lain yang kontradiktif di bagian bawah pintu itu. Dua pegangan pintunya tampak bersih dari debu.
Arzi berjongkok dan menyorot gagang pintu itu dengan senternya. Sylbi ikut berjongkok dan memastikannya dengan mencolek gagang pintu itu dengan ujung jarinya. Dan benar, tidak ada debu di ujung jarinya.
Arzi bangkit dan memeriksa seluruh permukaan pintu. Matanya berbinar ketika ia menemukan jejak-jejak telapak tangan di beberapa titik. Arzi kembali mengisyaratkan Sylbi untuk tidak bersuara. Ia lantas menempelkan telinganya di pintu. Beberapa detik setelahnya wajahnya tampak bersemangat. Ia meminta Sylbi mengikuti tindakannya.
Dan, mereka menangkap suara itu. Meski terdengar samar di telinga, mereka yakin bahwa itu adalah suara manusia. Seperti seorang pria yang sedang melakukan monolog.
Arzi mencari-cari sesuatu di area sekitar, dan menemukan sebilah pisau dapur berkarat. Ia menyelipkan ujung pisau itu ke bawah pintu dan mengungkitnya pelan-pelan untuk memastikan pintu itu dikunci atau tidak. Dan Arzi bersyukur Dewi Fortuna sedang berbaik hati kepadanya.
Arzi segera meminta Sylbi menyiapkan senjatanya.
*
Galen sudah siap dengan jarum suntik di tangan. Jayadi tidak berani melihatnya dan hanya bisa memohon pertolongan dari doa, meskipun ia merasa skeptis.
Kamto, aku yakin kamu mendengar aku. Dari dasar hati yang paling dalam aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku sungguh menyesal dan kecewa pada diriku karena telah melakukan itu. Tapi aku sudah lega sekarang karena Tuhan telah memberiku kesempatan untuk minta maaf padamu. Sekarang aku serahkan padamu, mau mengampuni aku atau tidak, aku benar-benar ikhlas.