Keben

hyu
Chapter #19

17

“BUNCIS! Sini!” Aya berteriak memanggil kucing kesayangannya ketika dilihatnya kucing itu menggesek-gesekkan tubuh ke kaki Jayadi yang baru selesai makan. Suaranya terdengar seperti memelas—atau mungkin manja. Yang jelas Jayadi tertawa senang dan sesekali mengelusnya.

 Aya mendekati Buncis dan mengingatkan, “Kamu kan baru saja makan, Bunciiiis….”

 “Biar saja, Aya,” tukas Jayadi. “Dia bukan minta makan, tapi lagi mau bermanja-manja dengan Kakek.”

 “Ih, heran deh, kenapa sekarang dia sering banget begitu sama Kakek ya?”

 “Hmm… mungkin karena Kakek bau ikan asin.”

 Keduanya terkekeh. 

 Sesungguhnya, bukan hanya Aya yang heran pada tingkah Buncis belakangan ini. Jayadi pun demikian. Kucing itu tidak lagi bertingkah aneh sejak Jayadi pulang dari kejadian horor di Pasar Bintang Plaza. Dan itu hanyalah satu dari beberapa keanehan lainnya. Jayadi kini merasa sudah tidak pernah lagi dikejar-kejar oleh iblis dan malaikat pencabut nyawa. Wajah-wajah mereka menghilang begitu saja—juga sejak kejadian itu.

Dan satu lagi, sekarang Keben tidak lagi bisa diajak ngobrol. Jayadi menduga Keben sebenarnya tidak menyetujui keputusannya menemui keluarga Kamto karena dia sudah tahu akibat yang akan terjadi padanya—peristiwa Pasar Bintang Plaza itu. Dan sekarang dia ngambek.

Atau, jangan-jangan sebetulnya Keben adalah malaikat pelindung nyawaku, dan ketika sudah selesai melaksanakan tugasnya, dia meninggalkanku.

Lamunan Jayadi dibuyarkan oleh Buncis yang tiba-tiba melompat ke atas pangkuannya karena tidak mau dipegang Aya. Jayadi membelai punggung Buncis, membuat kucing itu makin manja.

“Buncis, ayo sini. Jangan ganggu Kakek,” rayu Aya sambil mencoba meraih kucing itu. Jayadi mengangkat pelan Buncis dan menyerahkan kepada Aya yang lantas menggendongnya menjauh. Ia berpapasan dengan Arzi dan Nuke yang berjalan mendekati Jayadi.

“Sudah siap, Pak? Yuk, kita sudah ditunggu,” ajak Nuke. “Tinggal saja piringnya, nanti biar dicuci Euis.”

Tapi Jayadi tidak menurut. Ia membawa sendiri piring kotor ke bak cuci piring lalu mencucinya. “Nggak, ah. Meringankan pekerjaan orang lain kan dapat pahala,” katanya terkekeh. 

Nuke menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Kita tunggu di mobil ya, Pak,” kata Arzi lantas menggamit lengan Nuke. Sambil berjalan Nuke berteriak memanggil Aya yang sedang bermain bersama Buncis.

Hari itu mereka diundang berkumpul di rumah Sylbi untuk merayakan syukuran hari lahir Sylbi yang ke-47. Ketika mendapat undangan tersebut, Jayadi merasakan desiran gelombang sejuk mengalir di dalam dadanya. Ia merasa itu akan menjadi momen yang membahagiakannya. Kembali menyatu bersama anak-anak yang selama ini menjadi korban kekacauan jiwanya dan ternyata mereka masih menerima, apa lagi kalau bukan sebuah berkah yang tiada ternilai.

Sambil berjalan menyusul mereka, Jayadi membatin, “Tuhan, setelah ini, kalau memang Kau mau memanggilku, aku sudah siap.”

 

Tiba di rumah Sylbi, keluarga Arzi disambut Sylbi dengan senyuman lebar. Mereka saling berangkulan dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Sylbi.

Lihat selengkapnya