MATAHARI senja meredup perlahan di halaman belakang rumah Arzi. Sisa cahayanya menyelusup di antara rimbunnya dedaunan pohon keben, melukiskan warna keemasan yang lembut pada batang tuanya. Pagar kayu yang mengelilingi pohon itu sudah tidak ada lagi, dibongkar oleh Arzi—atas izin Jayadi—setelah kejadian Pasar Bintang Plaza dua minggu lalu.
Jayadi baru saja selesai menggali sebuah liang di bawah pohon keben. Di samping liang tersebut terlihat sebuah keranjang berisi 50 buah keben koleksi Jayadi. Jayadi siap mengubur buah-buah itu bersama masa lalu yang membayanginya.
Ia kini berdiri di bawah pohon keben, mengelap peluh di wajah dengan punggung tangannya. Matanya memejam menikmati aliran udara yang membelai lembut kulit wajahnya, diiringi gemeresik dedaunan yang suaranya mampu menyentuh rasa damai di hatinya. Tangannya memegang batang pohon, lalu berkata,
“Keben, entah kamu masih bersamaku atau tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi sahabatku selama ini. Terima kasih telah menemani perjalanan hidupku, dari yang berliku, lurus, dan berliku lagi, hingga akhirnya sampai di titik ini—hari yang bagiku menjadi hari paling melegakan dan membahagiakan.”
Ia terkekeh kecil, lalu melanjutkan, “Rasanya sekarang aku sudah siap untuk dipanggil. Kapan pun. Secepat apa pun. Jadi, Keben, setelah ini aku akan masuk rumah, dan kalau besok aku sudah nggak menemuimu lagi, aku mungkin sudah bersama Yekti dan Kamto. Atau mungkin tidak, karena semua itu sudah menjadi keputusan Tuhan. Aku hanya bisa menerima.”
Jayadi berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. Matanya menatap pucuk-pucuk daun yang bergerak pelan ditiup angin.
“Aku pamit, Ben. Pesanku, tetaplah kamu di sini menjadi sahabat buat anak-cucuku. Beri mereka keteduhan dan kesejukan seperti yang selama ini kamu berikan padaku.”
Tidak ada respons berarti dari Keben. Angin tetap berembus pelan, dan dedaunan di atas hanya mengangguk-angguk kecil. Yang justru merespons adalah langit, yang makin lama makin menggelap ditinggal oleh Sang Penerang, seakan ikut menyampaikan salam perpisahan untuk Jayadi.
Jayadi segera memasukkan 50 buah keben ke dalam liang dan menutupnya dengan tanah. Lantas, sambil menyentuhkan kedua tangannya di tubuh Keben, Jayadi mengucapkan selamat tinggal, kemudian berbalik langkah menuju rumah.
Dari balik jendela, Arzi dan Nuke yang dari tadi mengintip, buru-buru balik arah dan duduk di ruang keluarga, berpura-pura menonton televisi.
“Sudah selesai acara pemakamannya, Pak?” tanya Arzi begitu Jayadi berjalan di depan mereka.
Jayadi menghentikan langkah. “Sudah. Selesai dengan lancar,” jawabnya. “Sekarang aku pamit ya?”