Kebun Warisan Kakek

Allindri S Dion
Chapter #1

Bab 1: Kembali

Di umurnya yang sudah menginjak dua puluh tiga tahun, mungkin yang umum harus dia pikirkan adalah membangun karir dan mengikuti jejak besar ayahnya di perkotaan yang bergemerlap namun keras.

Semenjak kecil dia selalu mengagumi ayahnya. Walau rasa kagum itu berkurang ketika dia beranjak dewasa karena sedikitnya waktu yang ayahnya bisa berikan untuknya, dia tidak pernah berpikir di luar jalur yang telah ditentukan untuknya dan juga ribuan anak muda lainnya di perkotaan.

Namun ketika berita kakeknya meninggal di desa sampai dan mewasiatkan warisan tanah kebunnya padanya. Mahesa menemukan dirinya di mobil travel berjalan ke desa kakeknya.

Adat di desa tidak menunggu. Sudah pasti mendiang kakeknya yang hidup sendiri telah dimakamkan bahkan sebelum Mahesa berangkat dari kota, namun dirinya tetap datang.

Kepingan masa kecilnya kembali muncul di benak Mahesa dan dia tersadar akan satu hal, di masa kecilnya dia jarang memiliki sosok ayah dikarenakan jadwal ayahnya yang sibuk. Setiap liburan, dia selalu datang ke desa kecil ini dan menghabiskan waktu dengan kakek dan neneknya. Sepuluh tahun yang lalu neneknya telah tiada, tak lama setelah itu Mahesa pun juga disibukkan dengan sekolah dan kawan baru dan dia berhenti berkunjung ke desa ini.

Sosok kakeknya agak pudar dari ingatan Mahesa, namun semakin dekat dia dengan desa yang ia tuju, semakin jelas ingatannya dengan wajah dan raut mendiang kakeknya dengan kerutan-kerutan bak goresan kehidupan yang menandai wajah ramahnya. Tangan Mahesa memeluk tas punggungnya yang berisi surat wasiat dan surat tanah yang dikirim lewat pos sebelum kakeknya meninggal.

 

***

 

Dia masuk ke rumah tanpa bersuara, lelah setelah seharian penuh beraktivitas tanpa istirahat namun dia tidak bisa komplain. Dia baru saja lulus, mencari lowongan kerja adalah sesuatu yang normal dan ini juga pilihannya. Mahesa hanya ingin membangun hidup sendiri tanpa koneksi dari ayahnya, dia yakin dia bisa.

Selama dia bisa membangun karirnya sendiri, dia bisa sejajar dengan ayahnya.

Ketika Mahesa berjalan melewati ruang keluarga, dia melihat ayahnya yang jarang di rumah. Terduduk di depan TV yang tidak menyala, ayahnya, Nadir, membaca lembaran dokumen dengan kacamata baca bertengger di batang hidungnya.

Biasanya Mahesa hanya menyapanya lalu ke kamar, tapi entah mengapa dia penasaran dengan apa yang ayahnya baca saat itu juga.

“Itu apa?” Tanya Mahesa biasa sambil melepas tas punggungnya yang sudah membebaninya seharian penuh.

Nadir menoleh ke arah Mahesa. “Kakekmu kirim surat-surat.”

Tangan Mahesa, yang memijat leher dan pundaknya sendiri, berhenti sejenak. “Gak ngirim SMS aja?” Di zaman sekarang, walau internet tidak mencapai setiap pelosok, tapi sinyal ponsel masih bisa mencakup seluruh tempat. Mahesa tahu Nadir sudah memberikan ponsel jadul yang mudah dipakai pada kakeknya, sepertinya kakeknya masih keras kepala dan memilih mengirim surat.

Nadir melepas kacamatanya dan memberikan surat-surat itu ke Mahesa. “Itu surat tanah dan wasiat. Sepertinya dia berniat meninggalkan apa yang dia punya untukmu.”

Mahesa membeku sesaat dan meraih dokumen-dokumen yang Nadir berikan. Dia membaca setiap surat satu persatu dengan hati yang hampa. “Kenapa kakek ngirim surat wasiat? Dia gak apa-apa, kan?”

“Namanya juga sudah tua, mungkin dia berpikir untuk jaga-jaga,” jawab Nadir yang jauh lebih tenang tentang keadaan ayahnya sendiri. “Kakekmu orang yang kuat, dia masih punya waktu sepuluh atau mungkin dua puluh tahun lagi.”

Mahesa menatap Nadir dengan tidak suka, api membangkangnya yang redup setelah selesai pubertas kini kembali menyala. “Ayah sering cek kakek, gak? Yakin dengan keadaannya?” Mahesa menarik nafas dalam. “Gimana kalau kita jenguk kakek? Seminggu cukup untuk kesana dan nginap beberapa hari.”

“Jangan konyol, Mahesa,” balas Nadir yang tak mengindahkan saran Mahesa. “Ayah sibuk. Kau juga. Bagaimana job-hunting-mu?”

Mahesa memincing tapi tak menjawab, Nadir mendengus.

“Sudah ayah duga. Kamu siapkan CV-mu, ayah punya kenalan.”

“Enggak!” Jawab Mahesa sengit. “Aku bebas nyari kerja sendiri.”

“Kalau begitu cari, jangan pikir lari ke desa dengan alasan lemah itu adalah jawaban,” ucap Nadir dengan tenang. “Apa kau pikir kakekmu akan bangga melihat kau begini saja? Pulang ke desa untuk apa? Merayakan lulus kuliah tanpa pencapaian?”

Mahesa semakin merengut. “Udah lah. Aku capek ngomong sama ayah.”

Bara di dadanya memanas. ‘Akan aku buktikan...’ dia meremas tangannya lalu tersentak panik ketika mendengar suara kertas diremas. Dia lupa dia masih memegang surat-surat berharga milik kakeknya.

Mahesa buru menghaluskan lipatan-lipatan di kertas yang ia pegang dan menyimpannya baik-baik di lemari.

Tiga hari kemudian dia dapat kabar kakeknya wafat lewat panggilan dari tetangga kakek di desa. Mahesa langsung tidak tahu harus berbuat apa. Ayahnya tidak di rumah, di luar untuk bisnis seperti biasa. Ia tidak pernah mengganggu ayahnya ketika dia di luar. Namun kali ini, seperti anak kecil yang tersesat dan tidak tahu arah, Mahesa menghubungi ayahnya dan menyampaikan kabar duka anggota keluarga mereka di desa.

Orang tua Mahesa sudah bercerai semenjak dia berumur enam tahun. Ibunya sudah menikah lagi dan tidak mau tahu tentang keluarga mantannya, dan Mahesa juga tidak dekat dengan kakek dan nenek dari pihak ibunya. Semenjak dia kecil, keluarga yang ia tahu hanyalah ibu, ayah, dan juga kakek dan neneknya di desa.

Berita wafat kakeknya membuat Mahesa merasa sendiri dan tersesat.

Nadir hanya terdiam mendengar berita kematian ayahnya lewat telepon, padahal Mahesa sangat butuh bimbingan Nadir.

“Hah...” Nadir menghembuskan nafas. “Begitu ya...”

Mahesa terdiam menunggu dia meneruskan bicara. Apa saja.

“Mahesa, apa rencanamu dengan tanah dan kebun di desa?”

Mahesa membeku. “Kenapa...?” ‘Kenapa? Kenapa ayah bicara soal itu sekarang? Kenapa ayah?’

Nadir menjawab. “Kita jual saja tanah dan kebun di desa. Uangnya bisa untukmu memulai karir.”

“...Ayah sudah gila?” Mahesa tertawa getir. “Kenapa kita ngomongin ini? Kakek meninggal, lho...”

“Ayah dengar itu. Pertanyaannya sekarang mau diapakan lagi kebun dan tanah di desa? Lebih baik kita jual. Setelah ayah selesai dengan urusan ini, ayah akan bantu kamu jual—“

“ENGGAK! ENGGAK BOLEH!” Mahesa meledak. “Ini punyaku! Tanah dan kebun itu punyaku! Aku gak mau jual!”

“...Ya sudah, kamu bisa pikir-pikir lagi nanti.”

“Gak perlu ada yang dipikirin lagi, enggak ya enggak.” Air mata Mahesa tertahan. Jika dia menangis sekarang, dia tidak akan bisa berbicara dengan ayahnya. Kepalanya berdenyut sakit, sakit yang menusuk otaknya dan juga akal sehatnya. “Sekarang aku tanya bener-bener. Ayah mau pulang ke desa sama aku untuk ngelayat atau enggak? Aku tunggu malem ini.”

“...” Sunyi datang dari speaker ponsel Mahesa dan Mahesa menahan nafasnya hingga akhirnya Nadir menjawab. “Pesawat ayah akan take-off ke Arab Saudi sebentar lagi. Kita gak mungkin sempat juga kesana sebelum kakekmu dimakamkan dengan orang desa.”

Mahesa mematikan ponselnya saat itu juga. Dia melempar gawainya ke sofa dan terduduk lemas dengan wajahnya yang terbenam di telapak tangannya. “AARGH!” Mahesa berteriak murka.

Lihat selengkapnya