Mahesa terbangun di pagi hari dengan udara segar khas desa yang membuatnya terkenang masa kecilnya yang sederhana dan mudah. Namun ketika dia ingat dia bukanlah anak kecil tanpa beban itu lagi, dia terbangun dengan rasa kosong di dadanya.
Hiruk pikuk tenang yang ia ingat datang dari dapur pun hilang bersama kenangan. Ketika dia keluar dari kamar, rumah peninggalan kakeknya masih sepi seperti kemarin. Tiada kakek yang biasanya mengopi di pagi hari dan tiada nenek yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuknya.
Mahesa menghela nafas dan pergi ke dapur sendiri. Dia mengambil stok mie instan yang ia bawa di dalam kopernya. Ia tahu dia akan kesulitan mencari makan sendiri di desa, jadi dia sudah menyiapkan beberapa bungkus mie instan yang ia lempar ke dalam kopernya ketika dia buru-buru berangkat dari kota.
Dia duduk di ruang depan dengan pintu terbuka sambil menikmati mie rebus panas di pagi yang dingin. Matahari masih belum muncul dari ufuk timur, kabut dingin masih menyelimuti seluruh desa yang dikelilingi pegunungan yang rindang.
Pintu rumah mbah Samiun terbuka dan dia sedikit terkejut melihat Mahesa sudah bangun. “Sudah bangun, le?” tanyanya dengan tawa kecil polos khas orang desa. “Udah makan juga?”
Dalam sesaat Mahesa merasa tersipu dan malu. Kemarin mbah Samiun datang membawakannya makanan. Walaupun hanya sepiring nasi, sup bayam hambar, dan singkong rebus, tapi mbah Samiun sudah berbagi makanan dengannya. Namun Mahesa sama sekali tidak kepikiran untuk menyiapkan mie untuk mbah Samiun juga ketika dia menyiapkan sarapan tadi.
“Iya, mbah. Mbah udah sarapan? Mau Hesa buatin mie?” Tanya Mahesa.
Mbah Samiun menggeleng dengan senyuman. “Ndak usah. Mbah udah tua, harus dikit-dikit makan mie.”
Mahesa tidak tahu apakah itu hanya alasan mbah Samiun agar Mahesa tidak merasa malu atau memang benar adanya, namun alasan itu cukup masuk akal jadi Mahesa hanya bisa mengangguk dan mengurungkan niatnya. “Mbah ngapain?” Tanyanya.
“Ini siapin barang-barang untuk ke kebon.”
“Biar Hesa bantu, mbah.”
Mereka berdua mengeluarkan semua yang dibutuhkan untuk berkebun. Sebelum matahari terbit, Mbah Samiun mengajak Mahesa untuk segera berangkat melewati jalan setapak ke kebun milik kakeknya.
Tanah di sekitar rumah kakeknya sebenarnya milik kakeknya juga, namun hanya ada beberapa tanaman buah-buahan seperti pepaya, mangga, kelapa, dan sebagainya. Pohon-pohon ini hanya menjadi cadangan rumah, tidak perlu dirawat karena alam sendiri yang sudah merawatnya. Sedangkan kebun kakeknya berada di tempat yang lebih tinggi, daerah perbukitan lebih tepatnya dan cukup sulit untuk Mahesa ladeni setelah lama di kota dan tidak pernah olahraga teratur.
Ketika mereka berdua sampai di kebun, matahari sudah mengintip dari ufuk timur, memancarkan sinar berwarna emas yang perlahan mengusir kabut yang diam di dekat tanah untuk segera naik ke langit menjadi awan.
Mahesa memandang lahan luas di hadapannya yang sebagian besar kosong tak terurus.
“Ini ladang kakekmu, masih inget, kan?” Tanya mbah Samiun.
Mahesa mengangguk perlahan. “Ya.” Sebelumnya Mahesa mengira ladang ini akan terasa kecil, seperti rumah kakek yang ia tempati. Dia langsung menyadari walaupun dia sudah dewasa, ladang ini tetap terlihat luas.
“Nah disini tempat tanam-tanam, le. Sesuai musim dan apa yang laku saat itu, bisa tomat, labu, timun,” Mbah Samiun menjelaskan seolah takut Mahesa tidak tahu atau tidak mengingat apa yang telah ia pelajari ketika ia masih kecil. Tapi Mahesa membiarkan mbah Samiun berbicara. Ia disini untuk belajar mengambil alih ladang kakeknya, akan jauh lebih baik jika dia diingatkan kembali tentang sistem cocok tanam di ladang ini dari Mbah Samiun yang sudah menemani kakeknya bercocok tanam selama puluhan tahun.
Mbah Samiun menyabit rerumputan yang menghalangi jalan sambil berkata, “Awas kesandung, le.”
“Enggak lah, mbah...” Mahesa tersenyum pahit sambil menghembuskan nafas pasrah. Mbah Samiun masih memperlakukan dia seperti anak kecil.
Mbah Samiun membawa Mahesa ke sebuah kandang di samping ladang. “Ini kandang ayam.” Ia membuka pintu kandang dengan cukup susah payah. “Kita ada sekitar enam betina dan satu jantan. Dua minggu lalu baru netesin anak ayam, ndak kehitung kalau anak ayamnya. Banyak yang mati karena dingin,” jelas mbah Samiun.
Mahesa memandang segerombolan ayam yang cepat-cepat keluar dari kandang untuk mencari makan di ladang. Ada pagar pembatas yang mengitari kandang ayam agar mereka tidak lolos ke bagian ladang yang tertanam tanam-tanaman sayuran yang mudah dimakan ayam.
‘Cip... cip... cip... cip!’
Mahesa menunduk dan melihat anak-anak ayam yang mengikuti induknya, ia tersenyum lucu.
Setelah memberi makan ayam, mbah Samiun membawa Mahesa ke kandang yang lebih besar, di dalamnya ada seekor kambing dan Mahesa terbelalak. Yang mengagetkan Mahesa bukanlah keberadaan seekor kambing di kandang, melainkan hanya ada seekor kambing di kandang sebesar ini. Mahesa masih mengingat kakeknya dulu punya setidaknya sepuluh kambing dan dua kerbau.
Mahesa mengelus kepala kambing yang sibuk memakan rumput. “Kambing yang lainnya kemana, mbah?”
“Dah dijual, Sa. Ada yang dipotong juga buat kurban,” jawab mbah Samiun sambil membersihkan kandang dari kotoran-kotoran kambing yang berceceran.
Mahesa merengut dan sedikit lirih. “Memangnya kambingnya gak diperanakkan?”
Mbah Samiun tersenyum kecut. “Mbah sama kakekmu dah tua, nak. Karena itu kambing-kambingnya kami jual sisa satu. Susah ngerawatnya.” Mbah Samiun memegang pinggangnya.
Mahesa mengambil garpu rumput yang mbah Samiun gunakan untuk membersihkan kandang. “Biar aku aja, mbah.”
Mbah Samiun mengangguk dengan senyuman sumringah dan bangga.
Mereka berdua bekerja sama memberesi ladang. Mahesa masih pemula dan tidak tahu banyak tentang apa yang harus ia lakukan, namun tenaganya sebagai anak muda masih terbilang lumayan. Sedangkan mbah Samiun, walau sudah tua dan renta, tapi pengalamannya banyak, dan dia membantu Mahesa sesuai kemampuannya dengan memberi arahan apa yang harus dilakukan.
Setelah seharian bekerja, mereka duduk di pinggiran ladang untuk beristirahat dan memulihkan tenaga dengan singkong rebus yang mbah Samiun bawa.
“Kamu yakin mau ngurus kebon?” tanya mbah Samiun lagi untuk memastikan. “Memang kakekmu ngasih semua kebon ini buat kamu, tapi itu bukan paksaan biar kamu sama kayak dia.”
“Hesa udah yakin, mbah,” jawab Mahesa. “Hesa gak banyak pengalaman, jadi mungkin berantakan. Tapi mbah mau bantuin Hesa, kan?” tanya Mahesa. Rasanya lucu, ketika di kota dan mencari pekerjaan ke mana-mana sebagai lulusan baru, dia sama sekali tidak ingin bantuan ayahnya. Tapi sekarang di desa, demi bisa ahli mengurus ladang yang kakeknya wariskan, dia dengan rendah hati meminta bantuan mbah Samiun.
Mungkin karena Mahesa tahu jika dia dibantu oleh ayahnya, dia tidak akan pernah berkembang atau setara dengan ayahnya. Berbanding terbalik ketika dia meminta bantuan mbah Samiun.
Mbah Samiun tersenyum. “Apa lagi kerja mbah kalau gak ke kebon, Sa?”
Mahesa tersenyum. “Makasih, mbah.”
***
Ketika sore, Mahesa pulang ke rumah dan pergi sendiri berkeliling desa berdasarkan dengan ingatan masa kecilnya. Ketika Mahesa menemukan warung yang ia cari masih buka di tempat yang sama, dia menghela nafas lega.
“Beli!” Mahesa memanggil sambil melihat-lihat barang-barang yang dijual, menghitung-hitung apa yang dia butuhkan dan apa yang ia inginkan.
Seorang ibu-ibu paruh baya keluar untuk melayaninya. “Oh! Halo!” Dia memandang Mahesa dengan sorot mata tidak kenal dan penasaran. “Dari mana, le? Ibu ndak pernah liat.”
Mahesa tersenyum. “Bu Sri,” dia menyapa terlebih dahulu dengan sedikit membungkuk agar badannya yang tinggi tidak terlihat terlalu mengintimidasi. “Masih kenal, gak? Aku Mahesa,” Mahesa memperkenalkan dirinya dengan senyuman akrab.
Bu Sri langsung tersentak kaget dan ingat. “Ooooh! Mahesa, cucu mbah Yono?”