Semenjak Mahesa pindah ke desa, dia disibukkan dengan mengurus ulang ladang kakeknya dan juga menemani Mbah Samiun. Rute perjalanannya selalu dari rumah ke ladang, lalu balik lagi. Terkadang disisipi dengan rute pergi ke warung untuk membeli sesuatu, tapi secara menyeluruh tidak banyak yang berubah.
Mahesa sendiri sadar, dia menyibukkan diri untuk bersembunyi. Karena setelah berhari-hari menyibukkan diri di ladang, akhirnya tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan, dan dia baru berani ziarah ke makam kakeknya lagi.
Hujan di malam sebelumnya membuat nisan kakek dan neneknya kotor dengan tanah, Mahesa dengan telaten membersihkannya dengan air. Dengan tangan, dia membersihkan daun-daun basah yang terjatuh disekitar makam orang-orang yang ia cintai dan, setelah dia puas, dia duduk samping makam mereka berdua.
Mahesa tidak bisa menyampaikan apa-apa, semua yang ingin dan bisa dia sampaikan, sudah ia sampaikan di hari pertama ia kemari. Seandainya yang wafat bisa melihat yang hidup, Mahesa tidak ingin berhadapan dengan kakek dan neneknya dalam keadaan menangis terus, jadi ia tahan air matanya.
“Kakek, Hesa udah bersihin ladang kakek, dibantu sama Mbah Samiun. Banyak banget yang berubah di desa ini, Hesa hampir gak kenal dengan beberapa tempat. Semak mawar yang biasanya jadi patokan Hesa untuk jalan pulang sekarang udah gak ada, pohon jambu di pinggir jalan deket sungai juga udah gak ada lagi. Tapi semuanya masih rindang dan asri,” ucapnya. “Beberapa hal masih gak terlalu berubah.”
Mahesa tersenyum pahit.
“Contohnya kalian berdua masih bersanding bersama.” Terakhir kali dia kemari adalah ketika neneknya meninggal. Mahesa tidak pernah sempat melihat kakeknya hidup sendiri. Kali berikutnya dia kemari, kakeknya sudah bersanding lagi dengan istri tercintanya. Benar-benar tidak jauh berbeda dari yang terakhir Mahesa ingat.
Hanya saja kali ini, mereka berdua tidak lagi bisa mengantar Mahesa tidur atau menemani Mahesa di rumah.
“Ladang kakek bakal Hesa jaga, jangan khawatir, kek. Hesa gak terpaksa ngelakuin ini juga, Hesa yang mau. Semua yang kakek tinggalin gak akan terbengkalai, Hesa yang akan jagain semua. Jadi kakek jangan khawatir di sana, yang tenang-tenang aja sama nenek.”
Setelah menyampaikan yang baik-baik, senyuman tipis di wajah Mahesa menjadi murung.
“Ayah... masih belum dateng, kek.” Dia menunduk seolah dia yang salah. “Mahesa gak tau dia kemana. Tapi tolong jangan kecewa di sana, ya. Kalau dia gak bisa, Mahesa bisa.” Dia meletakkan seikat bunga ke makam nenek dan kakeknya. Bunga-bunga yang lebih banyak warna dia letakkan di makam neneknya, sedangkan campuran bunga dan daun pandan untuk kakeknya.
“Nih, nek. Hesa bawa bunga.” Mahesa berdiri dan menyeka keringatnya. “Itu aja dulu, ya kakek, nenek. Nanti Hesa kesini lagi.”
‘Meong...Meong...’
Mahesa berhenti melangkah dan celingak-celinguk mencari sumber suara yang tiba-tiba muncul. “Kucing...? Di sini?” Mahesa mencoba diam dan mendengarkan untuk memastikan kalau yang ia dengar bukanlah ilusi. Setelah sekian lama, dia yakin itu suara kucing.
Dia mencoba mencari sumber suara rintihan lemah itu dan menemukan seekor kucing hitam yang bersembunyi di balik tumpukan dedaunan dan ranting pohon yang sudah kering. Ketika kucing itu melihat Mahesa menghampiri, dia tidak sembunyi dan malah keluar, seolah-olah dia telah menantikan ada orang yang menyadari kehadirannya dan berbaik hati mendekat padanya.
Secara insting, Mahesa sontak mundur. Sedari kecil, dia tidak diperbolehkan punya peliharaan kucing karena ayahnya alergi kucing. Tiap kucing yang ia bawa pulang ke rumah selalu menjadi sumber patah hati Mahesa. Namun hampir di saat yang bersamaan, Mahesa ingat dia tidak lagi tinggal bersama ayahnya.
Dengan kata lain, tidak akan ada yang bisa melarang Mahesa untuk melakukan apa yang ia mau.
Mahesa kembali mendekat kepada kucing kecil tersebut. Kali ini, sang kucing yang ragu akibat Mahesa yang mundur tadi, tapi ketika kucing itu melihat Mahesa benar-benar tidak menolaknya kali ini, kucing itu kembali mendekat dan mendorong kepalanya ke jari jemari Mahesa.
“Indukmu dimana?” Tanya Mahesa.
Anak kucing liar pada umumnya tidak akan mau mendekat pada manusia kecuali benar-benar butuh bantuan, dan biasanya jika mereka benar-benar butuh bantuan, berarti mereka sudah kehilangan induk.
Kucing kecil itu terus-terusan menggesekkan badannya ke tangan dan kaki Mahesa.
“Gak ada ya...” ucap Mahesa, agak sedih. Kucing sekecil ini akan mati di alam liar tanpa induk.
Mahesa menggendong anak kucing itu dan memperhatikan kondisinya yang kurus dan kotor. Tanpa bicara apa-apa lagi, Mahesa membawa kucing itu pulang tanpa ragu. Entah dari mana anak kucing ini berasal, tapi Mahesa anggap ini adalah pemberian dari kakek dan neneknya dari alam sana.
Sesampai di rumah, Mahesa merebus air untuk memandikan kucing barunya dengan air hangat sampai bersih dan menghilangkan semua kutunya. Setelah selesai, ia keringkan menggunakan handuk kecil yang tak terpakai, lalu kucingnya ia letakkan di meja makan agar tidak kemana-mana.
Lauk ikan tadi pagi yang tidak habis ia makan, diambil Mahesa untuk memberi makan kucing itu. Tulangnya ia buang, dagingnya ia berikan ke kucing kecil yang kelaparan itu.
Mahesa duduk di meja makan dan memandang anak kucing itu makan dengan lahap. “Kamu tinggal sama aku aja mulai hari ini. Di rumah ini cuma ada aku sendiri, tapi jangan nakal, ya.”
Dia tidak tahu apakah kucing bisa mengerti atau tidak, tapi kucing kecil itu menjawab Mahesa dengan rintihan kecil seolah setuju.
Mahesa tersenyum dan berdiri berniat mandi. Dia sudah memandikan kucing, tapi dianya juga belum mandi.
Setelah menurunkan kucing kecil itu dari meja, Mahesa mengambil handuk. “Aku mandi dulu ya, cil.”
***
Keesokan harinya, Mahesa membawa kucingnya bersamanya ke ladang dan mencuri perhatian Mbah Samiun.
“Kucing siapa, Sa?” Tanya Mbah Samiun bingung.
Mahesa menunjukkan cengiran malu-malu. “Kemarin Hesa nemu deket makam, mbah. Jadi Hesa ambil aja, mau Hesa pelihara.”
Mbah Samiun mengangguk paham. “Gampang melihara kucing, makanannya tinggal kita pancing di sungai.”
Mahesa terkekeh. “Iya, haha. Gak susah kayak di kota, ya, mbah. Apa-apa harus dibeli.”