Entah apa yang merasuki diri Mahesa, tapi ponsel yang sudah lama tidak ia cas semenjak ia lari ke desa. Mungkin mengobrol dengan Kartini membuat Mahesa teringat hari-hari lampau dimana dia liar bermain ke seluruh penjuru desa namun setiap hari selalu menunggu pesan dari ayahnya.
Seperti Mahesa kecil bertahun-tahun yang lalu, Mahesa yang sekarang juga... ingin mendapatkan pesan dari ayahnya.
Dan benar saja, ketika ponselnya aktif kembali, dia melihat beberapa pesan baru yang muncul. Beberapa dari teman-temannya yang mengajaknya bermain, namun mata Mahesa hanya tertuju pada pesan dari ayahnya. Namun berbeda dari Mahesa kecil yang selalu bergetar dengan gembira ketika melihat ada pesan dari ayahnya, Mahesa yang sekarang lebih tenang. Dia bukanlah anak yang mudah puas lagi.
Yang ia inginkan adalah ayahnya untuk datang ke desa dan ziarah ke makam kakek dan neneknya. Setidak-tidaknya, walaupun sudah terlambat, Mahesa ingin mereka kembali berkumpul. Namun pesan ayahnya membuat Mahesa tertawa dan menatap ke langit-langit rumah kakeknya.
[Ya sudah, kamu saja yang ziarah ke makam kakek. Titip salam ke mbah Samiun. Nanti kalau kamu sudah pulang, ayah kenalkan dengan kenalan ayah buat kerja.]
Mahesa tidak kaget, tapi bukan berarti dia siap mendapatkan pesan ini pula. Tak satu kata pun bilang jika ayahnya akan ke desa, dia seperti mengandalkan Mahesa sebagai wakilnya, seolah semua tanggung jawabnya lepas karena Mahesa sudah kemari.
Ingin rasanya Mahesa murka. Mungkin melempar ponselnya, atau menelepon ayahnya lalu mengumpat dan meluapkan semua amarahnya yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun. Ia heran dengan ayahnya. Dulu dia menolak menemani Mahesa di desa, kakek Mahesa selalu bilang padanya jika ayahnya tidak dekat dengan kakeknya. Sekarang kakeknya sudah meninggal dunia, namun Nadir Suryano masih menolak datang.
Mahesa jadi curiga, sebenarnya yang dihindari Nadir itu kakeknya atau dia? Semakin lama, Mahesa semakin merasa bahwa yang Nadir hindari adalah menghabiskan waktu dengan dirinya.
Mahesa mengusap wajahnya dan pergi ke kamar mandi untuk memulai harinya. Sesedih apapun dia, dia tidak bisa libur. Ladang kakeknya harus ada yang mengurus. Setelah mendapat pesan dari Nadir, Mahesa semakin tidak sudi pulang ke kota dan ditawari kerja dari hasil koneksi Nadir.
Lebih baik ia mengurus ladang kakeknya sampai seumur hidup ketimbang hidup selalu dibawah bayang-bayang Nadir tanpa bisa mengangkat kepalanya. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan rasa sakit hatinya terhadap ayahnya sendiri. Lagipula, Mahesa sudah dewasa, bukan lagi anak kecil. Dia tidak butuh perhatian Nadir lagi.
Jika Nadir tidak mau memberikannya waktu, Mahesa bisa menggunakan waktunya untuk hal lain yang lebih bermanfaat dibanding duduk menunggu rindu.
Pagi hari adalah waktu pergi ke ladang. Setelah bekerja keras selama berhari-hari membereskan ladang kakeknya yang berantakkan, dia tidak sesibuk di awal lagi. Siangnya, dia pamit pada Mbah Samiun untuk mencoba cari kawan-kawan masa kecilnya lagi. Mbah Samiun dengan ceria mengangguk, tetap senang melihat Mahesa akhirnya mau membuka lingkaran sosialnya kembali.
Tapi tanpa disangka, dia ingin mencari kawan-kawan lamanya, kawan-kawannya juga berpikiran yang sama. Akhirnya, mereka tak sengaja bertemu di jalan setapak ke bukit. Mahesa baru turun, dan mereka sedang jalan menanjak. Mereka semua berhenti dan saling tunjuk karena kaget.
“E-eh...? Hesa?” Reza, yang selalu lebih cerewet dibanding kembarannya, menyebut nama Mahesa sambil menunjuk-nunjuk tidak jelas.
Mahesa terkekeh. “Reza, Restu, Wishnu, udah lama gak ketemu.”
“WOI!” Wishnu teriak, meraih bahu Mahesa dan mengguncangnya dengan riang. “Akhirnya kau balik sini juga—“
“Turut berduka cita,” ucap Restu, mematahkan perayaan Wishnu yang tidak pikir panjang.
Wishnu dengan sukses terdiam dan batuk sedikit. “Iya, Sa. Turut berduka cita, ya.” Cengkraman bahagianya di bahu Mahesa berubah menjadi tepukan pelipur lara yang sabar.
Mahesa hampir tertawa lepas. Bukan karena situasinya yang lucu, situasinya memang lucu, tapi yang lebih lucu lagi adalah mereka sama sekali tidak berubah. Selain badan yang sudah besar dan wajah yang lebih dewasa, semuanya persis seperti sepuluh tahun yang lalu. Reza yang selalu ingin duluan, Wishnu yang selalu asik dan berisik, dan Restu yang selalu mampu mengubah suasana menjadi canggung tanpa disengaja.
Kalau bukan karena teringat duka cita kakeknya, Mahesa mungkin sudah terbahak. “Makasih,” balas Mahesa dengan senyuman tipis. “Aku baru aja mau pergi nyari kalian ini. Tapi kita ketemu disini duluan,” ucapnya untuk mencairkan suasana yang dibekukan Restu.
“Beneran? Mungkin kita telepati. Sebenernya kita mau dateng pas kita denger kau balik kesini, tapi waktunya kurang pas,” ucap Reza.
Restu mengangguk. “Ada acara di desa sebelah, kami udah janji mau bantuin, jadi gak bisa ditinggal.”
“Santai aja,” jawab Mahesa. “Yang penting niatnya ada dan kalian ujung-ujungnya juga dateng.”
“Kau berubah banget, Sa. Jadi lebih kalem,” ucap Wishnu dengan nada bercanda. “Tapi untunglah gak sombong. Banyak yang bilang kau pasti jadi sombong karena di kota terus, gak pernah ke desa lagi.”
“Siapa yang bilang aku gak sombong?” Tanya Mahesa, menaikkan alisnya.
Mereka tertawa. “Kalau sombong, gak mungkin celanamu kotor penuh lumpur kering gitu,” ucap Reza. “Yang berubah cuma kalemmu, penampilanmu gak berubah, masih kumuh kayak anak desa!”
Mahesa ikut terkekeh. “Masa iya kerja di ladang pake baju bersih? Gak mungkin lah.”
“Nah itu dia, orang sombong gak akan mau pake baju kotor dengan sengaja, kan?”
“Udah selesai kerjanya?” Tanya Restu.
“Udah, emang kenapa?”
“Mau kita ajak mancing,” balas Wishnu, alisnya bergoyang naik turun.
“Kalau tadi aku jawabnya belum?” Balas Mahesa sambil ikut berjalan menurun.
“Ya, sedikit-sedikit kita bantu lah di ladang, biar cepet selesai,” ucap Wishnu.
“Heh!” Mahesa nyinyir. “Harusnya dateng lebih pagi kalau gitu.”
“Aih, kita-kita pagi mana ada yang udah bangun! Begadang semalamaaaan!”
“Kebo!”
“Fitnah, itu fitnah. Yang gak bangun siang cuma Wishnu doang! Aku ama Restu udah bangun dari subuh, cuma nungguin si kebo ini aja.”
“Bohong kau! Yang bangun subuh yakinlah cuma Restu, kau itu sama aja kayak aku, Rez!”
Mereka tertawa cekikikan seperti jarak sepuluh tahun tidak pernah terjadi. Mahesa langsung merasa tenang. Ia tidak menyangka kawan-kawan masa kecilnya bisa langsung akrab lagi dengannya. Mungkin ini efek tumbuh bersama sejak kecil, karena teman-teman Mahesa di kota tidak seperti ini. Setahun tidak bertemu saja pasti sudah canggung.
Ketika menuruni jalan bukit, Restu tiba-tiba berkata. “Mau kemana kita?”
Mahesa termenung bingung namun rasa familiar muncul di dalam hatinya. Sudah lama sekali dia tidak mendengar kalimat itu. Dulu, pertanyaan itu yang selalu ia dengar ketika menyusuri jalanan desa. Dulu, dia juga tidak pernah gagal memberi jawaban.
Tapi untuk pertama kalinya sekarang, Mahesa terdiam dan tersenyum memandang Restu, Reza, dan Wishnu. “Gak tau.”
Mereka bertiga tersentak kaget. Kemungkinan besar, mereka merasakan hal yang sama dengan Mahesa. Pertanyaan familiar itu dan langkah kaki mereka menggema di jalanan kosong, semua ini sangat familiar. Terasa seperti de ja vu. Mereka juga mengira Mahesa akan punya jawaban.
‘Ke sungai, yuk!’ ‘Kita ke jembatan!’ ‘Kebun karet!’ ‘Kita nyari keong.’ ‘Kita minta ceri bu Rodiah.’ ‘Kita ke mata air yuk!’ Terngiang ratusan jawaban Mahesa dalam ingatan mereka. Mahesa yang dulu tidak pernah kehabisan kata-kata, tidak pernah kehabisan rasa ingin tahu, dan tidak pernah kehabisan ide cemerlang untuk membuat hari-hari libur yang indah menjadi lebih menyenangkan.
Tapi sekarang, Mahesa tidak memiliki jawaban. Lagipula, mereka sudah bukan lagi anak kecil yang mudah bersenang-senang. Dunia dulu terasa luas, namun setelah mereka dewasa, semua terasa sempit. Petualangan mereka yang dulu tidak akan bisa diulangi lagi.
“Aku mikirnya hari ini mau nyamperin kalian, nanti kalian yang ngajak aku main entah kemana,” ucap Mahesa setengah serius.
Restu, Reza, dan Wishnu terdiam bingung. Ketika mereka memutuskan untuk mendatangi Mahesa, mereka sama sekali tidak memiliki rencana.
Mahesa terus berjalan dan lalu bertanya. “Kartini bilang kalian sering mancing bareng. Gimana kalau kita mancing?” tanyanya.
Wishnu menggeleng. “Kemaren malem baru hujan, kan? Tempat mancingnya itu dataran rendah, becek banget kalau mau kesana, airnya juga pasti keruh, susah dapet ikan.”