Kebun Warisan Kakek

Allindri S Dion
Chapter #5

Bab 5: Kotak Kecil

Mahesa terbangun ketika subuh keesokan harinya dengan kepala yang pusing, namun tetap ia paksakan untuk bangun dan memulai hari. Kemarin dia mengobrol dengan Wishnu dan yang lainnya. Tidak puas berbincang, beberapa permainan pun mereka mainkan, dari kartu remi, UNO, catur, sampai monopoli.

Mereka baru pamit jam sebelas malam. Jika bukan karena mereka sudah lelah mengangkut dan membereskan barang-barang ketika siang hari, mungkin mereka sudah lanjut sampai subuh.

Setelah mandi dan memberi makan kucing, ia mendapati Mbah Samiun merapihkan barang-barang rongsokan yang kemarin ia letakkan di samping. Mahesa buru-buru menghampirinya. “Mbah, gak usah. Biar Hesa aja nanti yang beresin.”

Mbah Samiun tersenyum maklum. “Gak apa-apa, biar gak halangin jalan.” Dia mundur sedikit ketika Mahesa kukuh mengambil kerangka sepeda tua yang Mbah Samiun ingin pindahkan. “Udah selesai beres-beresnya?”

Mahesa menggaruk kepalanya dan menggeleng. “Belum, mbah. Tapi udah lumayan lah, yang berat-beratnya udah selesai. Nanti Hesa lanjutin lagi.”

“Gak apa-apa kebon mbah yang urus, kamu selesaiin ini aja sama kawan-kawan kamu,” ucap Mbah Samiun. “Semua di kebon juga udah keurus, gak ada apa-apa di kebon. Kamu mending main sama kawan-kawan.”

Tak ada yang bisa Mahesa perbuat selain tersenyum pasrah mendengar ucapan Mbah Samiun. “Udah, mbah. Kemaren nyampe malah nyampe malem banget.” Mahesa mengganti topik. “Gimana, mbah? Telor balado sama tumis kangkung kemarin? Enak?” Tanyanya.

“Enak, enak. Dari orang depan ya?” Tanya Mbah Samiun.

Tebakan Mbah Samiun memang benar. “Hehe, kok tau? Udah sering dikasih makan, mbah?”

Mbah Samiun tersenyum dan mengangguk. “Iya. Kadang kita kalau hasil panen banyak, ya bagi-bagi sama tetangga biar dapet berkah. Mereka juga suka bagi-bagi juga kalau ada kelebihan.”

Mahesa mengangguk setuju. “Bener itu, mbah.” Inilah yang ia kagumi dari kehidupan di desa. Semua selalu serba berbagi. “Mana rantangnya, mbah? Mau Mahesa cuci terus balikin.”

“Oh!” Mbah Samiun jadi teringat. “Itu di deket pintu. Maaf, mbah agak pikun. Hahaha...” Mbah Samiun tertawa ceria dan Mahesa tersenyum melihat kepolosannya.

Setelah Mbah Samiun menunjuk letak terakhir rantang yang ia cari, Mahesa langsung melangkah ke pintu rumah Mbah Samiun. Setelah mengambil rantang, pandangannya berkeliling ke seluruh rumah yang hanya sempat ia lihat sekilas. Banyak yang berubah di dalam rumah Mbah Samiun juga, tak banyak yang tersisa dari rumah yang dulu ia kenal.

Sarang laba-laba ada di setiap ujung ruangan. Sebuah jendela sudah usang dan lama tidak dibuka dikarenakan barang-barang bekas yang menumpuk di depannya. Dan tikar yang di gelar di tengah ruangan sangat familiar bagi Mahesa, itu adalah tikar yang Mahesa bawakan untuk Mbah Samiun sepuluh tahun lalu. Dulu tikar itu masih baru, sekarang sudah usang karena debu dan waktu.

Hati Mahesa terenyuh.

Ketika dia berjalan kembali ke Mbah Samiun, dia merasa sedikit malu dan canggung.

“Ketemu?” Tanya Mbah Samiun sambil mendongak.

Mahesa tersenyum kecil. “Ketemu, mbah.” Dia menggaruk kepalanya, agak canggung. “Mbah, rumah Mbah gak sekalian Mahesa bersihin dan beresin aja?” tawarnya.

“Ah, gak usah, Sa. Repot.”

“Enggak repot lah, Mbah. Hesa suka bersih-bersih.”

Mbah Samiun mendelik ragu. “Masa? Kamu dulu paling susah disuruh beberes.”

“Hehe, itu kan dulu, Mbah,” Ucap Mahesa kaku. Sejujurnya, Mahesa masih sangat pemalas jika disuruh beres-beres. Kamarnya di rumahnya sendiri saja sangat jarang ia bersihkan. Namun setelah membereskan barang-barang di rumah mendiang kakeknya, dia merasakan kepuasan tersendiri melihat perubahan baik di dalam lingkungan hidupnya.

Disisi lain, membereskan barang-barang membuatnya tidak banyak diam. Semakin sering ia diam, semakin bersedih hatinya. Terlebih lagi dia mendapat bonus nostalgia dari barang-barang tua yang dulu pernah ia pakai sebelum hidupnya berubah semakin rumit.

“Bener?” Tanya Mbah Samiun dengan tatapan menelisik untuk memastikan ketulusan Mahesa.

Tidak mungkin Mahesa menjawab keraguan itu dengan kejujuran yang sedikit masam. “Bener, mbah. Sekarang, Hesa hobi beres-beres, mumpung juga lagi beres-beres rumah kakek, kan? Sekalian rumah mbah juga.”

Mbah Samiun terlihat sungkan dan ragu, tapi akhirnya setuju dengan bujuk rayu Mahesa. “Panggil kawan-kawan kamu juga untuk bantu, nanti mbah siapin singkong sama telor buat mereka bawa pulang.”

Sebenarnya Mbah Samiun enggan merepotkannya. Namun melihat wajah Mahesa yang kembali cerah saat berberes bersama teman-teman lamanya kemarin, ia akhirnya luluh. Kalau bisa, ia ingin Mahesa lebih sering berkumpul dengan mereka, apa pun alasannya.

Mahesa terbahak. “Gak usah lah, mbah. Paling nanti Hesa traktir aja mereka.” Dia bisa membayangkan jika mereka bertiga diberikan singkong dan telur, yang ada hanyalah mereka memberikan bahan-bahan itu ke ibu masing-masing untuk dimasak. Mentraktir mereka jauh lebih mudah dan pastinya yang mereka mau pula.

Mbah Samiun kemudian pamit ke ladang. Mahesa yang tidak jadi ke ladang akhirnya melanjutkan wacana beres-beresnya sendiri. Tapi sebelum dia lanjut beres-beres rumah, dia mencuci rantang dari Kartini di dapur terlebih dahulu. Setelah rantang itu bersih, dia berjalan ke rumah seberang yang jaraknya kurang lebih 30 meter.

Di rumah depan, Kartini baru saja keluar dari rumah dengan seragam formal yang menunjukan kewibawaannya sebagai seorang guru. Mereka berdua sama-sama berhenti ketika saling pandang. Kartini berhenti karena kaget melihat Mahesa, Mahesa berhenti karena takjub dengan seragam guru yang Kartini pakai.

“M-Mahesa?” Kartini menyapa dengan gelagap gugup bibirnya.

Mahesa tiba-tiba merasa gugup tapi tetap memaksa tersenyum. “Hai, Kar. Ini aku mau balikin rantang kemarin. Makasih ya telor balado dan tumis kangkungnya. Rasanya enak-enak,” pujinya.

Kartini menerima rantang yang Mahesa sodorkan. Pipinya sedikit memerah tapi ditutupi kabut pagi yang membantunya sembunyi. “Iya, sama-sama. Um, kamu udah selesai bersih-bersih dan beres-beresnya?” tanya Kartini lembut.

Mahesa bergidik dengan senyuman yang pasrah. “Belum kelar sih. Aku juga mau bantu beresin rumah Mbah Samiun yang juga berantakan. Mungkin sore ini baru selesai.”

Kartini terus mengangguk serius. “Hari ini gotong royong lagi sama Reza, Wishnu, Restu?”

Mahesa tak membantah. “Kalau mereka mau. Aku suap pake nasi padang nanti.”

Kartini terkekeh. “Aku pulang siang, nanti bisa mampir. Mau nitip ke aku aja buat beli nasi padangnya?” tawarnya. “

“Ah? Nanti repot, gak?” ucap Mahesa sungkan.

“Enggak, kok. Kan sekalian pulang? Deket kok dari SD yang aku ajar.”

Mahesa yang tadi sungkan dan ragu-ragu, langsung tersentak mendengar ucapan Kartini. Ia kembali memandang seragam kerja, Kartini dan langsung menepuk jidatnya. “Eh, iya. kamu mau berangkat kerja. Maaf ya, malah ngajak ngobrol.” Ia melangkah ke kiri untuk membuka jalan, Kartini hanya terkekeh.

“Gak apa-apa, masih pagi, kok. Gimana, mau nitip gak?”

Mahesa menggeleng. “Gak usah, Kar. Aku gak bawa uang. Kalau aku ngambil, nanti kamu telat. Udah, berangkat sana.”

Kartini tidak memaksa. “Oke, kalau gitu. Aku duluan, ya.” Dia mengangguk pamit.

Mahesa membungkuk sedikit. “Hati-hati... tanjakan... turunan. Awas kesandung...” ucapnya pelan. Ia sendiri baru sadar seberapa anehnya kata-kata yang ia ucapkan, namun karena sudah terucap, dia hanya bisa menunjukan cengiran tulus.

Lihat selengkapnya