Sudah dua minggu lebih Mahesa pindah ke desa. Ladang dan rumah kakeknya sudah selesai dia rapihkan. Dia juga bahkan sudah menyapa semua orang di desa dan reuni dengan kawan-kawan lamanya. Kehidupannya lebih tenang dan terasa jauh lebih berarti karena setiap hari dia memiliki pencapaian sendiri walaupun tidak besar.
Setiap dia mengurus semua peninggalan kakekn dan neneknya, dia ada kepuasan tersendiri. Setiap dia bertemu dengan kawan-kawan masa kecilnya, dia merasa sedang mengoleksi kepingan manis dari masa lampau yang tak sengaja ia lupakan. Ia pun sudah perlahan membiasakan Mbah Samiun untuk tidak terlalu memaksakan diri dalam bekerja.
Sejujurnya, ia bisa melihat masa depannya di desa dan kemungkinan kehidupan yang bisa ia bangun dari peninggalan kakek dan neneknya. Dan jika saja waktu itu Restu tidak menemukan kotak berisi kenangan itu, mungkin Mahesa masih akan tetap santai di sini.
Namun setelah membaca surat dari mendiang neneknya, Mahesa jadi sering memikirkan ayahnya, Nadir.
Setelah ia pikir-pikir, apa yang neneknya tuliskan tentang Nadir sangatlah akurat. Naluri seorang ibu memang tiada tandingannya. Tapi selain Nadir sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan.
Mahesa juga punya ibu, namun ibunya menceraikan ayahnya ketika umur Mahesa masih belia. Ia baru tahu alasan aslinya ketika ia dewasa; Nadir terlalu sibuk. Ada wanita di luar sana yang tidak masalah ditinggal setiap hari, namun ada juga yang butuh perhatian. Ibu Mahesa adalah tipe wanita yang kedua.
Status Nadir yang duda cerai adalah sesuatu yang dia lakukan sendiri. Dan setelah cerai pun, Nadir tidak lagi mencari istri baru. Dia benar-benar tipe pria yang ‘menikah’ dengan pekerjaannya sendiri.
Tapi meski begitu, Nadir adalah ayah Mahesa. Walaupun api amarah dalam hatinya belum bisa padam, pesan yang ditinggalkan neneknya membuat ia tak bisa terus-terusan marah. Neneknya menitipkan dua orang pada Mahesa, salah satunya sudah berpulang tanpa sempat menerima bakti Mahesa, tidak mungkin yang terakhir Mahesa abaikan.
Ia coba mengalihkan pikirannya ke hal lain seperti keliling ladang, memancing dengan teman atau Mbah Samiun, membawa Acil jalan-jalan. Namun ketika malam tiba dan hanya suara jangkrik yang bisa terdengar di malam sunyi pedesaan, Mahesa kembali memikirkan kabar ayahnya.
Tapi walau begitu, Mahesa tetap aktif dalam kegiatan sehari-harinya. Terakhir kali dia main ke pasar malam, dia bahkan menemukan buku album foto yang cocok untuk menyimpan potret-potret tanpa album di dalam kotak peninggalan kakeknya.
Satu persatu, setiap foto ia pindahkan ke dalam buku album. Foto terakhir adalah foto Nadir ketika dia umur dua puluh tahun, Mahesa hanya tahu karena dibalik foto tersebut tertulis tahun foto itu diambil.
“Meong!”
Ia dikagetkan dengan Acil yang tiba-tiba muncul di atas meja. Setelah beberapa minggu dirawat, kucing kecil itu sudah menjadi bugar dan sangat nakal, tidak bisa diam.
Tanpa keraguan, Acil berbaring di meja, minta dimanja. Namun kucing itu berbaring di samping kotak yang Mahesa letakkan dipinggir meja, akibatnya, hanya dengan sedikit menggeliat, Acil dengan sukses menjatuhkan kotak itu ke lantai.
“Aduh! Eh! Acil!” Mahesa teriak dan memarahi kucingnya yang nakal, namun hanya dibalas kedipan perlahan dari Acil yang membuat Mahesa tidak sanggup marah. “Haah, dasar kucing!”
Dengan pasrah ia memungut kembali kotak tersebut dan mengevakuasi amplop surat yang amat berharga baginya. Ketika semua sudah ia pastikan tidak ada yang rusak, matanya menangkap secarik kertas di lantai.
Penasaran dan curiga itu salah satu dari dua lembar surat di dalam amplop, Mahesa mengambil kertas itu, namun tekstur kertas yang tipis membuat Mahesa sadar itu bukan surat neneknya.
Jemari Mahesa membuka lipatan kertas misterius itu dan ternyata isinya adalah daftar dan takaran bahan... “Buat kue lapis legit???”
Ia tidak menyangka bisa menemukan resep kuno mendiang neneknya disini. Ia melirik kotak di meja lagi. “Jangan-jangan gak ku lihat?” ucapnya.
Melihat kata-kata ‘kue legit’ lagi membuat Mahesa nostalgia. Dulu, manisan favoritnya adalah kue legit buatan neneknya. Semua kawan-kawannya pun dulu sangat mengakui, kue legit lain tidak ada yang mampu menyamai enaknya kue legit buatan Nenek Risma. Setiap dia ulang tahun, pasti neneknya memasak tumpeng untuknya, dan juga satu loyang kue legit yang selalu ludes sebelum pesta berakhir.
Saking legendaris dan enaknya kue legit ini, Mahesa ingat beberapa temannya pernah serius saling bermusuhan berhari-hari karena merasa porsi mereka di rebut.
Mahesa tiba-tiba sangat ingin memakan kue legit buatan neneknya, indra pengecapnya sangat rindu dengan cita rasa yang dia ingat. Neneknya sudah lama wafat, tapi resepnya masih disini.
“Coba buat aja kali, ya...?” ia mengecek daftar bahan di kertas dan semuanya mudah di dapat di pasar pagi. Oven tangkring di dapur masih bisa digunakan, harusnya tidak ada halangan jika ia ingin coba buat.
Mahesa melipat kembali kertas resep itu dan ia selipkan ke kantungnya.
***
Dengan tujuan baru, Mahesa menambah agenda dalam jadwal hariannya. Ketika pagi ia ada di ladang bersama Mbah Samiun, dan sebelum siang dia sudah ada di pasar. Untungnya beberapa penjual di pasar adalah warga desa juga dan membantu Mahesa bernavigasi di pasar yang tidak familiar baginya.
Ketika semua bahan sudah ia kumpulkan di rumah. Baru kali ini dapur terasa sangat ramai, Mbah Samiun yang baru pulang dari ladang pun sampai heran.
“Mau ngapain, Sa?” Tanya Mbah Samiun sambil memikul arit di pundaknya yang bungkuk.
Mahesa agak tersipu dan malu mengakui ia ingin mencoba membuat kue, tapi karena yang bertanya adalah Mbah Samiun, ia menjawab terus terang. “Ini, mbah... Hesa ketemu resep kue lapis legit punya nenek. Kebetulan lagi pengen aja, jadi pengen nyoba buat. Coba-coba aja, gak tau deh nanti berhasil atau enggak.”
Mendengar hal itu, sorot mata Mbah Samiun menjadi cerah ceria. “Ooooh gitu! Kamu ketemu resep? Dimana?” Tanyanya sambil mengangguk-angguk dengan senyuman nostalgia. Walaupun dia sudah tua, dia lebih ingat dengan kue legit yang dibuat Nenek Risma. Ada kerinduan mendalam di hatinya terhadap mendiang teman dekatnya itu. Risma bukan sekedar istri saudara bagi Mbah Samiun, tapi juga keluarga.
“Dalam kotak yang disimpen kakek.” Mahesa tidak menjelaskan kotak apa itu. Biarlah surat neneknya untuknya menjadi privasi Mahesa sendiri.
Mbah Samiun mengangguk lagi, senyuman di wajahnya sangat lebar sampai menambah jumlah keriput di wajahnya. Namun meski begitu, mungkin karena kebahagiaan yang terpancar di wajahnya, dia malah terlihat lebih muda. “Bagus, bagus. Ada yang kurang? Mbah tambahin. Ayam di kebon banyak bertelur hari ini, ambil telur itu saja kalau butuh.”
Mahesa tidak sanggup menahan tawa ketika mendengar tawaran Mbah Samiun. “Jangan lah, mbah. Biarin yang itu ditetasin aja, biar banyak ayamnya. Hesa udah beli telur cukup kok.”