Kebun Warisan Kakek

Allindri S Dion
Chapter #7

Bab 7: Mimpi

Mahesa bermimpi. Setelah dua minggu di desa dan hanya mendapat mimpi tanpa cerita, untuk pertama kalinya Mahesa melihat sesuatu dalam mimpinya.

Dia sedang berdiri di rumah yang sudah lama tidak ia lihat. Rumah kakeknya sepuluh tahun silam.

Mungkin karena memang sudah instingnya, ia langsung masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan kakek dan neneknya. Seisi rumah tertata rapi, makanan ada di atas meja, ditutupi oleh tudung saji. Suasana dapur hidup, seperti baru dipakai. Bahkan ruang tengah pun terasa hangat, seperti menandakan bekas keberadaan seseorang yang akan segera kembali dan kembali menghidupi tempat ini.

Tapi setelah menelusuri rumah dari depan hingga belakang, ia tidak kunjung menemukan kakek dan neneknya. Pikirannya yang pertama adalah mereka berdua sama-sama ke ladang, mungkin neneknya kehabisan telur di dapur dan memutuskan untuk pergi ke ladang sekaligus membawa makan siang untuk kakeknya.

Ketika Mahesa keluar dengan niat menyusul, ia melihat sosok familiar ayahnya berada di pekarangan. Dia berdiri tegak, pergelangan tangan setinggi dada, menelisik jarum dalam jam tangan mahalnya yang merupakan hadiah dari klien pentingnya.

Mahesa berdiri kaku di ambang pintu, memandang pemandangan familiar yang selalu ia lihat setiap tahun, setelah janji-janji kebersamaan selalu kalah dihadapan bisnis.

Biasanya Mahesa akan berlari ke ayahnya dan mengekspresikan kekecewaannya karena ditinggal sendiri lagi di desa. Tapi kali ini Mahesa diam, ia tidak berlari dan mengejar ayahnya. Dia ingat dia bertengkar dengan ayahnya hari itu tentang masalah yang tidak lagi ia ingat, karena alasannya selalu sama. Nadir terlalu sibuk.

Tiba-tiba sesosok wanita tua yang dari tadi Mahesa cari-cari muncul membawa sepiring kue lapis legit. Sosok wanita inilah yang Mahesa sudah tunggu-tunggu sejak lama. Kemunculannya membuat dadanya sakit.

Risma, nenek Mahesa, mendekati Nadir dengan langkah renta namun teguh. “Dir, makan dulu. Kue legit kesukaan kamu.”

Nadir menoleh dan menggeleng. “Nadir mau berangkat sebentar lagi. Nanti tangan Nadir kotor dan berminyak.”

“Kalau begitu, ibu bungkusin, ya?” bujuk Risma dengan sabar.

Lagi-lagi, Nadir menolak. “Gak usah, bu. Gak ada waktu.” Suara ponselnya berdering dari kantung, suara familiar yang sama tanpa pernah berganti. Suara itu selalu menjadi akhir pembicaraan antara Nadir dan Mahesa. Risma pun tidak terkecuali.

Nadir menjawab deringan ponselnya dan berpaling. “Iya? Iya, sebentar lagi saya berangkat. Mungkin sampai besok sore.... Baiklah.” Tanpa menoleh lagi, ia berjalan dengan ponsel di telinga, dan mata mengarah ke jam tangan, epitome pria yang sibuk.

Nenek Risma berjalan, tangannya terangkat seolah ingin menghentikan Nadir untuk mengatakan sesuatu. Namun Nadir yang terus berjalan sama sekali tidak menyadarinya, dan Risma pun akhirnya mengurungkan niatnya.

“Hati-hati di jalan, nak!” Nenek Risma berteriak dengan suara renta tuanya yang tidak lagi nyaring.

“Iya.” Nadir tidak menoleh, tapi dia melirik perempuan tua yang menyaksikannya berangkat sejak dia kecil sampai dia dewasa. Sosok wanita tua itu tidak lagi sama seperti puluhan tahun yang lalu, namun tetap familiar. Tanpa perlu menatapnya pun, Nadir hafal dengan siluet ibunya. Tak perlu menoleh.

 

Lihat selengkapnya