Benih-benih yang Mahesa semai sudah tumbuh berkecambah dan menunjukkan jati diri mereka demi mengintip matahari dan mendapatkan sinarnya. Mahesa pastikan mereka semua mendapat air yang cukup karena walau pagi hari sangat sejuk dan lembab, panas mentari di siang hari tetap sangat terik dan mampu membakar daun-daun muda yang baru menguncup.
Mbah Samiun mengajari Mahesa pentingnya menanam tanaman berdampingan karena tanaman yang lebih besar akan menjaga tanaman yang masih kecil dari sinar matahari yang terlalu terik. Itulah mengapa ada banyak pepohonan di sekitar ladang.
Jangankan tanaman kecil, Mahesa pun sangat suka berteduh di bawah pohon-pohon rindang di sekitar ladang. Tidak ada yang lebih nikmat selain duduk di bawah pohon rindang dan meminum kopi sambil melihat-lihat hasil kerjanya di ladang.
“Tomat sama cabe udah tumbuh, biasanya berapa lama sampai berbuah, mbah?” tanya Mahesa.
“Tiga atau empat bulan lah...” Mbah Samiun berkira-kira.
“Wow, lama juga ya... emang gak ada yang instan di dunia ini.” Mahesa bersandar di batang pohon dan melihat ke atas. “Hm, dulu juga ada pohon asam jawa juga, kan, Mbah?”
Mbah Samiun ikut menoleh. “Ya ini.”
“Hah? Tapi gak ada bekas pahatan Hesa dulu,” Ucap Mahesa dengan ragu.
Mbah Samiun menggeleng. “Coba liat lebih tinggi.”
Mahesa tercengang. Karena penasaran, dia pun berdiri dan menengadahkan kepalanya untuk mencari bekas maha karyanya ketika dia masih kecil.
Benar saja, setelah mencari-cari, Mahesa menemukan bekas tak lazim dia batang pohon. Jika dilihat lebih dekat, tulisan ‘MAHESA’ masih bisa terbaca walaupun jelek. Ia masih ingat palu yang ia gunakan untuk ‘memahat’ karya ini. “Oh iya!” Ia tertawa melihat serpihan dari masa kecilnya. “Tinggi banget, ya!” ia menepuk pohon itu dengan bangga. “Dan masih keliatan, gak ilang-ilang. Padahal udah lama banget.”
Mbah Samiun terkekeh sambil menyeruput kopinya. “Makanya kita harus hati-hati dengan alam. Pasti selalu ada bekas dari perbuatan kita yang ndak bisa sembuh sedia kala.” Dia melirik Mahesa. “Kadang bisa pudar, tapi bekasnya masih ada.”
Mahesa mengangguk tapi pikirannya sudah melayang kembali. Tiba-tiba ia ingin menelepon ayahnya lagi.
Mimpinya yang semalam kembali terbayang di pikiran Mahesa. Ia tidak mengerti mengapa dia memimpikan ayahnya semalam, namun dia merasa mimpi itu sangat nyata, seperti memang pernah terjadi. Melihat ayahnya menitihkan air mata di dalam mimpi membuat hati Mahesa terenyuh dan tak tega.
Mahesa dan Nadir memang pasangan anak-ayah yang tidak rukun, tapi bukan berarti Mahesa sangat membenci ayahnya sampai-sampai dia tidak peduli jika ayahnya terluka. Bukan. Mahesa mampu marah besar dan bertengkar dengan Nadir bukan karena dasar benci, tapi karena ia sendiri sangat sayang dengan Nadir.
Berminggu-minggu sudah berlalu semenjak terakhir kali Mahesa berbicara dengan Nadir lewan ponsel. Suasana desa yang sejuk dan waktu sendiri yang cukup panjang sudah membuat emosi Mahesa menurun dingin, ia mulai melihat pertengkaran mereka dari sisi yang baru.
Ia pun berdiri. “Mbah, Hesa pulang duluan ya.”
Mbah Samiun mengizinkan dengan anggukan dan senyuman. “Mau kemana?” Tanyanya.
Mahesa terdiam sejenak dan menjawab. “Mau nelpon ayah.”
Sang pria tua terdiam kaget namun terlihat lega. “Titip salam, ya.”
Mahesa mengambil Acil yang ia bawa ke ladang dan berjalan pulang. Di sepanjang perjalanan, dia memikirkan apa yang mau ia sampaikan pada ayahnya dan bagaimana caranya membuka topik pembicaraan. Banyak yang harus dibicarakan di antara anak dan ayah, namun karena sifat mereka yang sama-sama keras kepala, banyak sekali topik yang malah tersimpan di hati tanpa pernah disampaikan.
Sesampai di rumah, Mahesa tidak langsung menelpon Nadir. Ponsel yang ia bawa ke desa tidak pernah ia sentuh semenjak argumen terakhirnya dengan Nadir, baterainya sudah lama habis. Ia mengecas ponselnya terlebih dahulu dan memberi makan Acil untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.
Setelah baterai ponselnya cukup, dia duduk di meja sambil memakan kue lapis legit yang ia dan Kartini buat kemarin.
Banyak sekali pemberitahuan baru di dalam ponselnya, sebagian besar dari kawan-kawannya di kota yang mengajaknya untuk main atau nongkrong di kafe-kafe ternama. Ia membalas mereka semua satu persatu karena mereka berhak tahu mengapa dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Untuk membuat mereka tidak khawatir, dia juga membuka media sosialnya yang sudah berminggu-minggu tidak dia pakai. Akun instagram Mahesa hanya berisi foto-foto pemandangan dan arsitektur.
Ia mengarahkan kamera ke sepiring kue lapis legit di meja, lalu fotonya ia edit dengan pencahayaan yang pas. Status sosial media Mahesa tidak rumit, hanya sebuah foto dan pesan “Resep lapis legit nenek. Enak.” Sebagai caption postingan tersebut.
Setelah memposting status di instagram-nya, ia baru menelpon ayahnya sambil memandang seisi rumah kakeknya yang sudah ia rapihkan seperti sepuluh tahun lalu. Untuk sepersekian detik, mata Mahesa terasa panas karena ia teringat duduk di meja yang sama dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat ini; menunggu panggilannya terhubung kepada ayahnya. Bedanya adalah, dulu, kakek dan neneknya selalu duduk bersamanya, menunggu bergantian untuk berbicara dengan ayahnya.
Mahesa mengusap matanya sebelum air mata bisa berlinang dan ponselnya tiba-tiba berbunyi.
“...Hesa?”
Mahesa tertegun sesaat dan menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan sudah terhubung. Ayahnya tidak pernah menjawab hanya dalam dua dering seperti ini. “Halo, yah...” Sapa Mahesa. “Gak lagi sibuk, kan...?”
Nadir terdiam sesaat, membuat Mahesa berpikir dia tidak berniat menjawab telfon Mahesa tapi tidak sengaja terjawab, atau mungkin dia sedang menunggu telfon client dan menerima panggilan Mahesa tanpa membaca nama kontak yang menelfon, ini bukan kali pertama jika memang itu yang terjadi. Namun Nadir kemudian menjawab. “Enggak. Ada apa?”
Mahesa ragu-ragu, “Apa kabar?”
“Baik. Kamu?”
“Baik-baik aja,” ucap Mahesa. “Mbah Samiun juga sehat-sehat aja, dia nitip salam.”
“Hm.”