Kebun Warisan Kakek

Allindri S Dion
Chapter #9

Bab 9: Waktu Berlalu

Langit masih biru dengan awan-awan yang berarak-arak dengan bebas, dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang bisa mengubah warna langit. Namun di bawahnya, lahan-lahan yang penuh dengan pohon telah tergantikan dengan bangunan-bangunan bata. Pinggiran jalan yang dulu penuh dengan rumput-rumput liar pun sekarang sudah menjadi trotoar abu-abu yang selalu kelabu walaupun hari cerah.

Entah berapa tahun Nadir tidak pernah melihat pemandangan yang ia lewati ini. Terlalu banyak yang berubah. Setir kemudinya terkadang terpaku ragu apakah dia sudah melewati tikungan yang ia cari atau belum.

Sepanjang perjalanan, ia mengingat mendiang ayahnya yang pemakamannya saja tidak ia datangi.

Yono Kuncoro adalah lelaki pekerja keras dan sangat kaku. Ia bangun pagi pukul empat subuh ketika langit masih gelap, mandi air yang masih dingin, dan menyiapkan perangkat berkebunnya sebelum matahari bisa terbit. Dahulu, Nadir mengagumi ayahnya yang tak pantang menyerah dan berjuang tanpa lelah demi keluarga.

Namun jaman sudah berubah ketika Nadir beranjak dewasa. Nadir yang sudah berumur delapan belas tahun waktu itu sudah bisa membaca bahwa masa depan sebagai petani tidaklah mudah dan terlebih lagi Nadir tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan profesi ayahnya. Akhirnya, Nadir pamit ingin pergi ke kota demi mengejar mimpi karir kantoran.

Yono menolak tegas dan mereka akhirnya bertengkar hebat. Bagi Nadir, ayahnya seperti katak dalam tempurung. Kolot dan tidak mau maju. Ibu Nadir, Risma, selalu mencoba menengahi pertikaian mereka berdua, namun tetap saja kelembutan Risma tidak bisa melembutkan keras kepala Nadir dan Yono.

Kehidupan di rumah kecil itu tidak lagi tenang, Nadir selalu mencari informasi tentang kota, sedangkan Yono terus-terusan menolak keinginan Nadir dengan alasan bahaya kehidupan kota. Tapi tak peduli sekeras apapun Yono mencoba, pemuda tidak bisa dihentikan. Setahun setelah lulus SMA, Nadir pergi dengan uang hasil tabungannya dan membuat Yono murka.

Kehidupan di kota tidaklah muda untuk pemuda desa yang sama sekali tidak ada kenalan atak sanak saudara di kota, namun Nadir sangat beruntung. Dua hari sampai di kota, ia bertemu dengan teman yang juga memiliki ambisi yang sama, dan dari situ ia berkenalan dengan lebih banyak orang. Nadir memulai benar-benar dari bawah, ia bekerja serabutan mengumpulkan uang dan memilih masuk universitas di jaman dimana ijazah SMA saja sudah cukup untuk mendapat pekerjaan bagus.

Selama empat tahun, Nadir tidak pulang ke rumah, namun dia mengirimkan surat dua bulan sekali untuk mengabari keadaannya.

Walaupun di kota karirnya cukup mulus, namun bukan berarti tidak ada kesulitan. Nadir juga melewati masa-masa sulit sendiri di kota, dari mulai kriminal sampai krisis moneter. Di tahun-tahun sulit itu ia bertemu dengan seorang gadis, di tahun berikutnya ia bawa gadis itu ke desa untuk bertemu dengan orang tuanya, di tahun berikutnya Mahesa lahir.

Dan di tiap-tiap tahun berikutnya, Nadir mulai pulang lagi ke desa dengan membawa Mahesa sebagai alasan yang menjadi kebiasaan. Namun tahun-tahun berlalu, baik Yono maupun Nadir, tak satupun mampu merendahkan diri untuk mengucapkan maaf.

Puncaknya ketika Risma meninggal dunia. Nadir benar-benar kehilangan arah setelah ibunya wafat. Rasa takut menghantui hati Nadir, rasa ini tidak bisa ia hadapi dan ia berakhir sembunyi dibalik pundak kecil Mahesa.

Ia masih ingat setahun setelah wafatnya Risma, ia menawarkan Mahesa untuk berlibur ke desa seperti biasanya. Apa yang waktu itu Mahesa katakan? Putranya murung, pandangannya jauh, dan dengan suara pelan, Mahesa menolak ke desa.

Sangat normal untuk remaja umur empat belas tahun untuk menghindari tempat yang penuh dengan kesedihan dan duka. Nadir bisa bersimpati. Ia menuruti keinginan Mahesa dan konsekuensinya adalah Nadir sendiri tidak mampir ke desa. Sebenarnya di dalam hatinya ia lega Mahesa memutuskan demikian dan dengan angkuh dia juga merasa perhatian karena telah mendukung keinginan putranya.

Tahun demi tahun berlalu, Nadir berhenti bertanya setelah tiga tahun, Mahesa pun tidak pernah menyuarakan keinginan untuk berlibur ke desa lagi. Dipikir-pikir lagi, semua itu salah. Sebagai orang tua, kewajibannya adalah untuk mengajarkan Mahesa duka itu normal namun duka berkepanjangan itu salah. Namun Nadir terlalu takut menghadapi banyak kesalahannya di desa, terutama Yono.

Di tahun pertama dia tidak siap, tahun kedua dan ketiga dia belum juga siap, dan tahun-tahun berikutnya terasa seperti belenggu yang mencemoohnya karena menunggu terlalu lama, sampai akhirnya surat wasiat terakhir Yono sampai ditangannya.

Dan saat itupun dia masih takut.

Takut melihat jenazah ayahnya, takut memandang liang lahat orang tuanya, takut menghadapi penyesalan yang sudah terlanjur besar, malu kepada Mahesa karena telah gagal mengajarinya cara menghadapi duka sebelum terlambat.

Baik sebagai anak ataupun ayah, Nadir merasa dia sudah gagal. Seminggu setelah Mahesa pergi, Nadir fokus ke pekerjaannya seperti mencari obat untuk menyembuhkan rasa kegagalannya dalam membimbing hidup. Namun tiap kali ia pulang ke rumahnya yang hampa kehangatan, Nadir jatuh bingung.

Sebenarnya ia bekerja keras untuk siapa...?

Ibunya yang ingin ia buat bahagia sudah lama tiada. Ayahnya yang ingin ia buat bangga juga sudah menyusul ibunya. Putranya yang ingin dia ayomi pun... sudah pergi meninggalkan sarang.

Nadir menghentikan mobilnya di rest area dan mengusap matanya yang sedikit lembab. Ia turun dari mobil dan membeli bekal melanjutkan perjalanan yang terasa lebih jauh dari yang ia ingat.

Tanpa ia sadari, ia membeli soda rasa jeruk disamping satu botol air mineral untuknya. Ketika ia kembali ke mobil, ia baru mengingat tidak ada bocah kecil di kursi penumpang yang akan meminum soda jeruk yang ia beli. Sepuluh tahun sudah berlalu, namun kebiasaan sulit diubah.

Nadir terdiam di samping mobilnya dan meletakkan sebotol soda rasa jeruk itu di kursi penumpang tanpa banyak bicara. Walau yang menyukai soda itu tidak sedang bersamanya, setidaknya soda itu bisa jadi pengingat masa lalu.

Sambil membuka tutup botol air mineralnya, Nadir bersandar di kap mobil. Duduk selama berjam-jam tidaklah menyenangkan ataupun sehat, Nadir mengambil kesempatan keluar dari mobil untuk meregangkan kakinya yang pegal.

Seorang lelaki parkir di samping mobilnya dan juga keluar dari mobil. Dia juga keluar untuk membeli makanan seperti Nadir, namun di dalam mobilnya jelas banyak penumpang kecil yang membutuhkan banyak makanan ringan. Dengan gelagat sama, orang itu bersandar di kap mobil sambil membuka minumannya. Lelaki itu tersenyum dan menyapa Nadir dengan anggukan.

“Istirahat juga, pak?”

Nadir membalas dengan senyuman tipis dan mengangguk. “Iya.”

Lelaki itu mengangguk. “Panas banget ya belakangan ini, anak-anak jadi pada rewel.”

“Rewel bagus, daripada sepi,” jawab Nadir sambil melirik anak-anak di dalam mobil. Ia hanya punya Mahesa, namun Mahesa selalu suka membuat suara dan Nadir juga suka mendengarkannya.

Sang lelaki tertawa. “Iya, ya. Gak bikin ngantuk perjalanan jauh.” Ia menghela nafas. “Tapi kadang pusing juga. Kalau gak dikasih perhatian, mereka makin berisik. Mending kalau satu, kalau semuanya, jadi puyeng.”

Nadir terdiam dan menunduk. Terbesit dipikirannya, meragukan jika berisiknya Mahesa dulu karena memang ia suka bicara atau karena ia ingin Nadir menjawab. Hatinya terenyuh dan ia menutup botol minumannya. “Saya duluan ya, pak,” pamit Nadir dengan sopan.

“Oh, siap, pak!” Lelaki itu tersenyum. “Mau kemana?” tanyanya basa-basi. Mereka berdua hanyalah orang asing yang hanya berpapasan, tapi Nadir masih menjawab.

Lihat selengkapnya