Kebun Warisan Kakek

Allindri S Dion
Chapter #10

Bab 10: Pertemuan

Nadir mengedarkan pandangannya ke desa yang dulu ia tinggalkan. Bertahun-tahun berlalu, sudah banyak juga yang berubah. Rumah yang dulu ia kenal sekarang sudah berubah. Tanah yang dulunya kosong pun sudah ada rumahnya. Nadir terus mengendarai mobilnya sampai ke pekarangan familiar tempatnya dulu sering memarkirkan kendaraannya.

Nyaris tidak ada yang berubah dari pekarangan rumah peninggalan orang tuanya. Mobilnya masih bisa masuk dan terparkir tanpa kesulitan, seolah-olah lahan kosong di pekarangan rumah itu memang selalu terjaga menunggu mobilnya datang.

Pada tahun pertama Nadir membawa Mahesa yang masih bayi kemari, ada kandang ayam di halaman rumah yang membuat mobilnya sulit untuk masuk ke pekarangan. Namun, di tahun berikutnya kandang ayam itu telah tiada, Risma dulu bilang kalau kandang ayamnya sudah dipindah ke ladang agar lebih mudah. Tapi siapa yang tahu alasan sebenarnya?

Nadir keluar dari mobil dan menatap rumah orang tuanya dengan perasaan yang sukar digambarkan. Cat biru rumah itu sudah pudar, Nadir juga ingat sebelumnya rumah ini tidak dicat dan dibiarkan berwarna semen abu-abu. Tapi ketika Mahesa berumur lima tahun, ia blak-blakan mengeluh jika rumah ini jelek. Saat itu Yono bertanya pada Mahesa apa warna kesukaan Mahesa dan anak itu dengan enteng menjawab ‘biru.’

Mungkin Mahesa sudah tidak mengingat kejadian kecil itu lagi, tapi Nadir masih. Ayah Nadir tegas dan keras padanya, tapi pada Mahesa, Yono selalu mengalah.

Nadir berjalan ke teras dan mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada yang menjawab. Terbesit di pikiran Nadir untuk kembali ke dalam mobil, namun ketika ia memalingkan badan, seorang gadis berjalan mendekat ke arahnya dengan ekspresi curiga. Tapi ketika gadis itu melihat wajah Nadir, ia langsung tersenyum.

“Om Nadir,” sapanya.

“Oh.” Nadir mengangguk dan mencoba mengingat gadis di depannya.

Kartini tersenyum dan menyodorkan tangannya. “Saya Kartini, Om. Inget gak? Anaknya Bu Sri, rumahku di depan.” Kartini menunjuk rumahnya dan Nadir perlahan ingat.

“Oh iya. Anaknya Bu Sri,” ucapnya singkat. “Udah gadis,” tambahnya kaku.

Kartini terkekeh dan mengangguk. “Om nyari Hesa, ya? Dia ada di rumah?” Tanyanya.

Nadir menggeleng. “Gak tau, gak ada yang jawab.”

“Buka aja, Om. Kadang gak kedengeran. Coba.” Kartini melangkah melewati Nadir dan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. “Hesa?!” Panggilnya.

Setelah beberapa detik, Kartini tersenyum canggung. “Kayaknya Hesa di ladang, om. Om nunggu di dalem aja.”

Nadir mengangguk. “Makasih, ya.”

“Sama-sama, om. Saya pamit dulu ya, om.”

Setelah Kartini pergi, Nadir melirik pintu yang tidak dikunci walaupun pemilik rumah tidak ada di dalam. Ia menggeleng. “Teledor,” gumamnya sambil melangkah masuk. ‘Atau mungkin dia percaya orang-orang sini...?’ pikirnya.

Di dalam rumah, semua masih tersusun seperti dulu walau terlihat lebih pudar dan tua. Tapi Nadir sangat paham tidak mungkin rumah ini masih terjaga tanpa adanya Risma, jadi ia curiga jika Mahesa lah yang telah menyusun rapi rumah ini lagi.

Nadir memeriksa seisi rumah, bukan untuk mengkritik, tapi untuk mengingat-ingat apa yang sudah lama tidak ia perhatikan lagi. Foto-foto lama di dinding membuatnya nostalgia. Matanya sedikit memerah melihat figur ibu dan ayahnya dalam foto-foto di dinding.

Ia berjalan ke dapur dan melihat ke dalam kulkas, khawatir Mahesa kekurangan bahan pangan. Ia melihat ke wastafel tempat cuci piring dan mendapati banyak sekali cangkir belum dicuci.

Nadir perlahan membuka keran wastafel dan mencuci cangkir-cangkir itu tanpa bicara apa-apa. Gerakannya kaku dan beberapa kali jari-jemarinya hampir terpeleset dan menjatuhkan cangkir keramik yang ia pegang, namun ia tidak berhenti berusaha. Di kota, dia punya mesin pencuci piring sendiri dan tidak perlu repot seperti ini. Tapi dahulu kala, dia juga seorang remaja yang terkadang membantu pekerjaan rumah tangga yang diemban ibunya selagi ayahnya di ladang.

Setelah selesai, ia mengeringkan tangannya dengan lap dan kembali ke ruang tamu. Nadir memilih duduk di teras luar, menunggu dengan tas kamera Mahesa di pangkuannya, sembari merangkai kata di kepalanya ketika bertemu dengan Mahesa nanti.      `

Dua jam kemudian, Mahesa baru pulang membawa rantang dan melihat sosok familiar yang tidak pernah ia sangka-sangka. Tak mungkin Mahesa salah mengenal postur badan ayahnya sendiri. Dari jarak seratus meter ketika malam pun Mahesa akan mengenali Nadir, apalagi ketika matahari masih bersinar.

Walaupun begitu, Mahesa tetap mengusap matanya karena tidak percaya. “Ayah...?” Ucap Mahesa pelan.

Nadir menoleh dan berdiri ketika melihat Mahesa. “Mahesa.” Dengan kaku, ia menaikkan tangannya dan menunjukkan tas kamera DSLR yang ia genggam. “Kameramu...”

Pandangan Mahesa turun dan mendapati tas kamera DSLR di tangan ayahnya. Kamera itu cukup mahal dan apapun yang Nadir punya adalah barang mahal dan bergengsi, namun walau begitu, kamera milik Mahesa sama sekali tidak cocok berada di tangan Nadir.

“Oh, um...” Mahesa memandang tas kamera itu, lalu memandang ayahnya dengan canggung. “Makasih.” Ia membuka pintunya lebih lebar. “Masuk dulu...?”

Tawarannya terdengar seperti pertanyaan yang tak pasti, karena Mahesa sendiri tidak yakin Nadir memiliki waktu untuk basa-basi dan bersinggah. Namun diluar dugaan Mahesa, Nadir benar-benar masuk ke dalam. Ia juga menyadari bahwa Nadir juga tidak memakai sepatunya, menandakan ia berniat singgah lama.

Mahesa meletakkan tas kameranya di bangku dan menatap ayahnya yang duduk, bingung harus berbicara apa.

Nadir mendehem. “Sebelumnya ada tamu?” Tanyanya basa-basi. Tapi di luar dugaannya, Mahesa mengangguk.

“Iya, kawan-kawan lama nganter undangan,” jawab Mahesa dengan canggung. “Sebentar, Hesa taruh ini di dapur dulu,” Mahesa menunjuk rantang yang ia bawa dan buru-buru ke dapur.

Lihat selengkapnya